Daftar Negara Paling Aman bagi Perempuan Dirilis, Indonesia ke Berapa?

- WPS Index 2025/2026 menempatkan Denmark di posisi pertama dengan skor 0,939; negara-negara Nordik mendominasi berkat kualitas hidup, perlindungan, dan kesempatan perempuan yang tinggi.
- Indonesia berada di peringkat ke-96 dari 181 negara dengan skor 0,678, di bawah Jepang, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
- Indeks memakai 13 indikator inklusi, keadilan, dan keamanan; konflik, ketidakstabilan, lemahnya perlindungan hukum, serta akses layanan terbatas menekan peringkat sejumlah negara.
Seberapa aman dan nyaman sebuah negara bagi perempuan? Pertanyaan itu kembali dijawab melalui laporan terbaru Women, Peace and Security (WPS) Index 2025/2026 yang diterbitkan oleh Georgetown Institute for Women, Peace and Security. Indeks ini mengukur kondisi perempuan di 181 negara berdasarkan berbagai indikator yang berkaitan dengan keamanan, keadilan, dan kesempatan untuk berkembang.
Hasilnya menunjukkan bahwa negara-negara Nordik masih menjadi kawasan terbaik bagi perempuan di dunia.
Sementara itu, Indonesia juga masuk dalam daftar, meski posisinya masih berada di luar 90 besar dunia. Lalu, bagaimana sebenarnya peringkat Indonesia dan apa makna dari hasil pemeringkatan tersebut?
1. Negara-negara Nordik kembali mendominasi peringkat dunia

Laporan WPS Index 2025/2026 kembali menempatkan negara-negara Nordik sebagai kawasan terbaik bagi perempuan. Denmark berhasil menduduki posisi pertama dengan skor 0,939, disusul Islandia (0,932), Norwegia (0,924), Swedia (0,924), dan Finlandia (0,921). Lima negara tersebut mempertahankan dominasi mereka berkat kualitas hidup perempuan yang konsisten tinggi.
Keberhasilan negara-negara tersebut bukan hanya karena tingkat keamanannya yang baik. Penilaian juga mempertimbangkan akses perempuan terhadap pendidikan, kesempatan bekerja, perlindungan hukum, layanan kesehatan, keterwakilan dalam politik, hingga rendahnya tingkat kekerasan. Kombinasi berbagai faktor itu membuat perempuan memiliki peluang yang lebih besar untuk hidup, bekerja, dan berkembang dengan aman.
2. Indonesia berada di peringkat ke-96 dunia

Dalam laporan terbaru ini, Indonesia memperoleh skor 0,678 dan menempati peringkat ke-96 dari 181 negara. Posisi tersebut memang masih berada di bawah sejumlah negara Asia seperti Jepang (peringkat 22), Singapura (17), Korea Selatan (37), Thailand (57), Malaysia (67), dan Vietnam (73). Meski begitu, Indonesia masih berada di atas beberapa negara lain di kawasan maupun berbagai negara yang masih menghadapi konflik dan ketidakstabilan berkepanjangan.
Meski belum masuk kelompok negara dengan skor tertinggi, hasil ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki ruang untuk meningkatkan berbagai aspek yang berkaitan dengan kesejahteraan perempuan. Indeks ini gak hanya melihat tingkat keamanan, tapi juga kesempatan ekonomi, akses terhadap keadilan, layanan kesehatan, serta partisipasi perempuan dalam kehidupan sosial dan politik. Semakin baik pencapaian pada berbagai aspek tersebut, semakin besar pula peluang perempuan untuk hidup, bekerja, dan berkembang secara setara di negaranya.
3. Konflik menjadi penyebab utama rendahnya peringkat sejumlah negara

Di sisi lain, negara-negara dengan peringkat terbawah umumnya memiliki kesamaan, yaitu mengalami konflik berkepanjangan atau ketidakstabilan politik. Afghanistan kembali menjadi negara dengan skor terendah, yaitu 0,279, diikuti Yaman, Republik Afrika Tengah, Suriah, Sudan, Haiti, Republik Demokratik Kongo, Burundi, Sudan Selatan, dan Myanmar. Sebagian besar negara tersebut juga masih menghadapi krisis kemanusiaan yang berdampak besar terhadap kehidupan dan keselamatan perempuan.
Kondisi tersebut membuat perempuan menghadapi risiko yang jauh lebih besar, mulai dari pengungsian, kekerasan berbasis gender, hingga terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan hukum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang paling luas terjadi di dunia, terutama ketika sebuah negara mengalami konflik atau krisis berkepanjangan. Karena itu, menciptakan lingkungan yang aman dan stabil menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan perempuan.
4. Indeks ini gak hanya mengukur soal keamanan

Banyak orang mengira pemeringkatan ini hanya melihat apakah suatu negara aman dari tindak kriminal. Padahal, WPS Index menggunakan 13 indikator yang mencakup tiga dimensi utama, yaitu inklusi, keadilan, dan keamanan. Karena itu, hasil akhirnya memberikan gambaran yang jauh lebih menyeluruh mengenai kualitas hidup perempuan.
Artinya, sebuah negara bisa memperoleh nilai tinggi apabila perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah, bekerja, memperoleh layanan kesehatan, menikmati perlindungan hukum, serta berpartisipasi dalam pemerintahan. Sebaliknya, negara yang masih menghadapi ketimpangan, lemahnya institusi, atau tingginya tingkat kekerasan cenderung memperoleh skor lebih rendah meskipun kondisi ekonominya gak selalu buruk. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan perempuan ditentukan oleh banyak faktor yang saling berkaitan, bukan hanya tingkat pendapatan suatu negara.
5. Peringkat ini menjadi cerminan kualitas pembangunan sebuah negara

WPS Index menunjukkan bahwa kesejahteraan perempuan sering kali berjalan seiring dengan kualitas pembangunan suatu negara. Negara-negara yang berada di papan atas umumnya memiliki institusi publik yang kuat, sistem hukum yang berjalan baik, layanan kesehatan yang mudah diakses, serta kesempatan ekonomi yang lebih merata. Hal itu membuat perempuan memiliki peluang yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam pendidikan, dunia kerja, hingga pengambilan keputusan di berbagai bidang.
Sebaliknya, negara dengan skor rendah biasanya menghadapi berbagai persoalan secara bersamaan, seperti konflik, kemiskinan, lemahnya perlindungan hukum, dan terbatasnya akses terhadap pendidikan maupun layanan publik. Karena itu, laporan ini bukan sekadar daftar negara paling aman bagi perempuan, melainkan juga menjadi gambaran mengenai ketahanan sosial dan kualitas tata kelola sebuah negara secara keseluruhan. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi setiap negara untuk terus memperbaiki kebijakan yang mendukung keselamatan dan kesejahteraan perempuan.
Laporan Women, Peace and Security Index 2025/2026 kembali menegaskan bahwa negara-negara Nordik masih menjadi tolok ukur terbaik dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perempuan. Indonesia sendiri berada di peringkat ke-96 dunia dengan skor 0,678, menunjukkan bahwa masih ada sejumlah aspek yang perlu terus ditingkatkan.
Meski demikian, pemeringkatan ini bukan sekadar soal angka, melainkan menjadi pengingat bahwa kesejahteraan perempuan sangat berkaitan dengan kualitas pendidikan, perlindungan hukum, layanan kesehatan, hingga stabilitas sebuah negara. Semakin baik berbagai aspek tersebut, semakin besar pula peluang perempuan untuk hidup dengan aman, setara, dan memiliki kesempatan berkembang.



















