3 Penderitaan Hidup Choi Jeong Yo di Four Hands, Two Sonatas

- Choi Jeong Yo kehilangan ibunya usai memenangkan kompetisi piano, sementara ayahnya terlilit utang lalu kabur, membuatnya hidup sebatang kara dan diburu penagih utang.
- Kematian ibunya saat ia menerima piala meninggalkan trauma mendalam; Jeong Yo takut, grogi, dan mual ketika harus memainkan piano di depan publik.
- Di SMA Seni Korea, Jeong Yo menghadapi perundungan dari penagih utang dan teman-teman baru hingga nyaris dikeluarkan, meski ia berusaha bertahan.
Choi Jeong Yo (Lee Jun Young) mulanya merupakan siswa biasa di Four Hands, Two Sonatas. Hidupnya berubah semenjak pindah ke SMA Seni Korea. Ternyata, Jeong Yo selama ini menyembunyikan bakatnya bermain piano.
Bukan tanpa alasan Jeong Yo melakukan hal itu. Ada penderitaan hidup yang selama ini ia alami. Penasaran dengan faktanya? Simak penjelasan ini, ya!
1. Konflik keluarga yang komplit

still cut drama Korea Four Hands, Two Sonatas (x.com/CJnDrama) Mulanya, bakat Jeong Yo bermain piano didukung penuh orang tua. Namun, ibunya meninggal setelah menyaksikan Jeong Yo jadi juara satu kompetisi piano. Sejak itu, kehidupan ayahnya jadi kacau dan memiliki utang yang tak kunjung dibayar.
Tanpa sepengetahuan Jeong Yo, ayahnya kabur dari rumah. Jeong Yo jadi sebatang kara dan kini dikejar oleh para penagih utang. Komplikasi masalah keluarga Jeong Yo membuat dirinya merasa putus asa akan masa depan yang cerah.
2. Trauma akibat kematian sang ibu

still cut drama Korea Four Hands, Two Sonatas (x.com/CJnDrama) Momen Jeong Yo memenangkan kompetisi piano harusnya jadi hari bahagia. Namun, kematian sang ibu tepat saat Jeong Yo memegang piala juara di atas panggung menghancurkan hidupnya. Ini membekas hingga ia duduk di bangku SMA.
Jeong Yo jadi tidak berani memainkan piano di depan publik. Perasaan takut, grogi, hingga mual menguasai dirinya. Padahal, Jeong Yo memiliki bakat luar biasa dalam memainkan piano.
3. Perundungan dari orang di sekitarnya

still cut drama Korea Four Hands, Two Sonatas (x.com/CJnDrama) Hidup sebatang kara membuat Jeong Yo sering diremehkan. Ia harus menghadapi para penagih utang yang terus merundung dan menanyakan keberadaan ayahnya. Begitu pula ketika ia akhirnya dapat beasiswa di SMA Seni Korea.
Bukannya didukung, para teman barunya berulang kali merundung Jeong Yo. Ia sampai nyaris dikeluarkan dari sekolah. Beruntung, Jeong Yo mampu bertahan dan melewati tantangan tersebut.
Ternyata, banyak penderitaan hidup yang disembunyikan Jeong Yo. Mulai dari masalah keluarga, trauma, hingga lingkungan yang keras. Apakah ia nanti mampu menunjukkan bakatnya sebagai pianis?




















