Drakor Perfect Crown Dikritik Jelang Ending, Ada Apa?

- Drama Korea Perfect Crown menuai kritik jelang episode terakhir karena adegan penobatan Pangeran Ian dianggap menampilkan simbol yang sensitif secara historis.
- Atribut dan ungkapan dalam adegan tersebut dinilai menyerupai era Joseon, memunculkan kesan bahwa Korea masih berada di bawah pengaruh China.
- Meski kontroversial, Perfect Crown tetap mencatat rating tertinggi 13,5 persen dan menarik perhatian besar menjelang episode finalnya.
Drama Korea Perfect Crown tengah menuai kritik jelang penayangan episode terakhirnya pada Sabtu (16/5/2026). Drakor yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok itu diprotes, utamanya oleh KNetz.
Kontroversi ini langsung ramai dibahas di media sosial Korea maupun forum online. Padahal, Perfect Crown sebelumnya sedang menikmati popularitas tinggi dan rating yang terus meningkat menjelang ending. Sebenarnya apa masalahnya? Simak penjelasan berikut ini!
1. Adegan Pangeran Ian naik takhta di episode 11 Perfect Crown menjadi sumber kontroversi

Sejak awal penayangannya, drakor Perfect Crown memang mengusung latar Korea Selatan dengan sistem monarki modern. Karena itu, latar ini selalu menjadi sorotan penonton.
Dalam episode 15 Perfect Crown yang tayang pada Sabtu (15/5/2026), Pangeran Ian (Byeon Woo Seok) akhirnya menjalani upacara pengangkatan menjadi raja. Nah, adegan tersebutlah yang memicu banyak kritik dari sisi KNetz.
2. Atribut yang dipakai Pangeran Ian identik dengan zaman Joseon, di mana Korea jadi "negara bawahan" China

Dalam adegan pengangkatannya menjadi raja, Pangeran Ian terlihat mengenakan mahkota tradisional bernama Guryumyeongwan. Dilansir allkpop, itu merupakan penutup kepala kerajaan dengan sembilan untaian manik di bagian depan dan belakang.
Di sejarah Korea, atribut tersebut identik dengan raja Dinasti Joseon. Di saat itu, Korea masih berada dalam hubungan tributary atau negara bawahan China. Karena itu, sejumlah penonton Korea menilai penggunaan mahkota tersebut memberi kesan bahwa kerajaan dalam Perfect Crown masih berada di bawah pengaruh China, meski latarnya merupakan Korea modern dengan sistem monarki.
3. Ungkapan anggota parlemen saat Pangeran Ian naik takhta juga identik dengan era Joseon

Tak hanya itu, kontroversi semakin membesar setelah para anggota parlemen dalam drakor tersebut meneriakkan “Cheon-se” saat Pangeran Ian naik takhta. Dalam sejarah Korea, ungkapan tersebut digunakan untuk raja Joseon, sedangkan istilah “Man-se” hanya dipakai untuk kaisar China.
Sebagai catatan, secara harfiah, cheon-se berarti 'semoga kerajaan ini makmur selama seribu tahun'. Sementara, man-se berarti 'semoga kerajaan ini makmur selama sepuluh ribu tahun'.
Detail-detail ini membuat sejumlah penonton merasa drama tersebut menggambarkan Korea sebagai kerajaan bawahan China. Akibatnya, Perfect Crown dituduh mendukung narasi sejarah kontroversial terkait hubungan Korea dan China, termasuk isu “Northeast Project” yang sensitif.
Sebagai informasi, Northeast Project merupakan proyek yang berupaya membangun ulang hubungan China dan Korea, di mana China adalah negara pelindung yang dominan. Sementara itu, Korea (Joseon) adalah negara bawahannya. Isu ini merupakan hal yang sensitif bagi masyarakat Korea Selatan karena sejarah kedua negara tersebut.
4. Perfect Crown mencatatkan rating tertinggi menjelang episode terakhir

Di tengah kontroversi yang muncul, Perfect Crown tetap menunjukkan popularitas yang tinggi. Drakor bahkan terus mencatat peningkatan rating menjelang episode terakhirnya. Tercatat, episode 11 Perfect Crown bahkan mencapai rating tertinggi, yaitu sebesar 13,5 persen.
Meski tengah menuai kritik, antusiasme penonton terhadap ending Perfect Crown masih sangat tinggi. Banyak penggemar kini penasaran bagaimana drakor tersebut akan menutup kisah Pangeran Ian dan Seong Hui Ju di episode finalnya nanti.


















