Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception)
  • Sato Hideo, warga Joseon yang diadopsi pejabat kolonial Jepang Sato Shinichi, mengetahui ayah angkatnya menjadi dalang pembantaian Kimyeri yang memicu perlawanan anti-Jepang.
  • Shinichi memperlakukan Hideo sebagai aset politik, memanfaatkan utang budi dan memerintahkannya mendekati Lee Ga Kyung demi mengawasi mata-mata yang dicurigai.
  • Hideo terjepit antara loyalitas kepada ayah angkat dan bangsanya, sementara Shinichi pernah menodongkan pistol kepadanya; pencarian ibu angkat serta asal-usulnya turut membuka misteri keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hubungan Sato Hideo (Jin Young) dan ayah angkatnya, Sato Shinichi (Jin Sun Kyu) dalam episode terbaru drakor 100 Days of Deception semakin rumit. Sato Hideo menemukan berkas insiden berdarah Kimyeri atau Gerakan 1 Maret 1919 dan ayahnya lah yang menjadi penggerak pembataian tersebut. Insiden tersebut menewaskan seluruh penduduk desa dan mendasari terbentuknya kelompok-kelompok rahasia anti-Jepang seperti Gugukdan.

Mengetahui ayahnya lah dalang dari insiden tersebut, Sato Hideo pun marah besar. Terbongkarnya fakta ini membuat hubungan mereka semakin rumit, penuh ketegangan, dan sarat akan manipulasi politik. Lantas, seberapa rumitkah hubungan pasangan ayah dan anak ini? Yuk, simak!

1. Status anak angkat dan asal-usul yang berbeda

cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception)

Sato Shinichi adalah pejabat elit Jepang yang menjabat sebagai Inspektur Jenderal di Kegubernuran Jenderal Joseon. Ia adalah sosok berdarah dingin, kejam, dan menghalalkan segala cara untuk memperkuat otoritas kolonial Jepang, termasuk melakukan pembantaian massal warga lokal. Sedangkan Sato Hideo, terlahir sebagai warga Joseon asli bernama Kim Tae Woong. Masa kecilnya dihabiskan di jalanan Gyeongseong sebagai seorang pencopet cilik demi bisa bertahan hidup sebelum takdir mempertemukannya dengan Sato Shinichi.

Pertemuan mereka terjadi di Stasiun Gyeongseong ketika Sato Hideo tertangkap basah mencopet dompet Sato Shinichi. Alih-alih dieksekusi, Sato Hideo diangkat menjadi anak. Bagi Sato Hideo, kesempatan ini adalah tiket untuk mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan elit di luar negeri, dan status sosial terpandang. Namun, bagi Sato Shinichi, mengadopsi Sato Hideo tidak didasari oleh kasih sayang murni, melainkan kalkulasi taktis demi memuluskan agenda politik Jepang.

2. Hubungan berdasarkan tugas dan manipulasi

cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception)

Hubungan antara Sato Hideo dan ayah angkatnya, Sato Shinichi, sepenuhnya dikendalikan oleh kepatuhan buta berdasar tugas dan manipulasi psikologis yang kejam. Sato Shinichi tidak pernah memperlakukan Sato Hideo sebagai seorang anak yang disayangi, melainkan sebagai aset politik yang berharga dan pion yang bisa dikendalikan. Sato Shinichi memanipulasi Hideo dengan memanfaatkan utang budi masa lalu. Lalu, menanamkan doktrin psikologis bahwa kehidupan, pendidikan elit, dan status sosial Sato Hideo adalah pemberiannya.

Bentuk manipulasi paling nyata terlihat ketika Shinichi memanfaatkan Hideo untuk menjerat Lee Ga Kyung (Kim You Jung), juru bahasa pemerintahan Jepang yang dicurigai. Sato Shinichi memerintahkan Sato Hideo untuk mendekati Lee Ga Kyung secara emosional, sehingga pihak Jepang bisa mengontrol pergerakan mata-mata tersebut. Sato Hideo terjebak dalam perangkap manipulasi ayahnya sendiri. Di satu sisi, ia harus menjalankan tugas tersebut secara profesional, di sisi lain ia mulai menaruh perasaan tulus kepada Lee Ga Kyung.

3. Konflik kepentingan dan ancaman nyawa

cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception)

Seiring berjalannya penyamaran 100 hari di Kantor Gubernur Jenderal, posisi Sato Hideo terjepit di tengah-tengah dua kubu yang saling berperang. Sato Shinichi bertindak sebagai pejabat tinggi kolonial yang harus menumpas habis gerakan bawah tanah Joseon, Gugukdan, demi mempertahankan kekuasaan Jepang.. Sedangkan Sato Hideo, mulai goyah setelah mengetahui kekejaman masa lalu ayahnya. Konflik kepentingan ini menempatkan Sato Hideo pada posisi dilematis, apakah ia harus melindungi rahasia negara bentukan ayahnya atau membiarkan keadilan tegak bagi bangsanya sendiri.

Ancaman nyawa dalam hubungan mereka bukan sekadar gertakan politik, melainkan juga konfrontasi fisik yang sangat menegangkan. Dalam drakor ini, Sato Shinichi pernah terhitung hingga dua kali menodongkan pistol langsung ke arah Sato Hideo. Momen ini membuktikan bahwa status anak angkat elit yang selama ini disandang Sato Hideo tidak memberinya kekebalan hukum maupun jaminan keselamatan di mata Sato Shinichi.

4. MIsteri latar belakang keluarga

cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception)

Latar belakang keluarga Sato menyimpan tabir rahasia yang jauh lebih kelam. Misteri ini melibatkan sosok ibu yang menjadi kunci pembuka kebenaran emosional dalam keluarga tersebut. Selama ini, Sato Hideo tumbuh besar di lingkungan elit Jepang di bawah asuhan ayah angkatnya, Sato Shinichi, dan sosok ibu angkat yang merupakan orang Joseon. Namun, hubungan keluarga ini dipenuhi ketegangan terselubung.

Hingga penayangan episode 8, Sato Hideo masih mencari keberadaan ibu sambungnya itu. Saat Sato Hideo mulai merasakan kasih sayang dari seorang ibu, wanita itu tiba-tiba pergi dan ayahnya melarang untuk mencari. Tak sampai disitu, Sato Hideo diam-diam juga mencari tahu asal usulnya. Ia bahkan memiliki belahan liontin yang sama dengan Lee Ga Kyung yang mengindikasikan adanya hubungan darah atau benang merah masa lalu di antara mereka.

Secara keseluruhan, hubungan Sato Shinichi dan Sato Hideo bukanlah hubungan ayah-anak yang hangat. Hal itu tetap tidak berlaku meski Sato Shinichi tetap membela Sato Hideo dihadapan bawahannya yang memandang masa lalu Sato Hideo sebagai orang Joseon. Melainkan, hubungan mereka malah dikekang oleh loyalitas buta, spionase, dan perbedaan ideologi bangsa di era penjajahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article