Ketika terjun nyata dalam dunia kerja, kamu perlu punya mental baja. Kamu akan menghadapi orang dengan berbagai macam karakter, mulai dari yang tegas, energik, sampai perfeksionis. Bahkan, gak sedikit dari rekan kerja yang hobi memberi kritik dan feedback negatif—entah itu tentang kepribadian atau kinerjamu.
4 Sikap yang Membuatmu Sulit Menerima Kritik di Dunia Kerja

Artikel menyoroti pentingnya kesiapan mental di dunia kerja, terutama dalam menghadapi kritik dan feedback dari rekan kerja dengan berbagai karakter.
Dijelaskan empat sikap yang membuat seseorang sulit menerima kritik: tidak mengenal diri sendiri, rendahnya self-compassion, sulit mengelola emosi, dan kurang tegas terhadap diri maupun orang lain.
Tulisan menekankan bahwa kemampuan mengenali diri dan bersikap asertif membantu mengubah kritik menjadi peluang untuk berkembang secara profesional.
Ternyata, respon kita dalam menerima kritik dipengaruhi oleh karakter dan kepribadian kita. Ada beberapa sikap yang membuat kita memandang kritik sebagai musuh. Alhasil, kita jadi sulit bertumbuh.
Saatnya refleksi, yuk kenali empat sikap yang membuatmu sulit menerima feedback dan kritik. Kira-kira, ada dalam dirimu, gak?
1. Gak mengenal diri sendiri secara utuh

Coba tanya ke dirimu, seberapa kenal kamu dengan diri sendiri? Apa kamu sungguh-sungguh tahu apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, bakat, dan kecenderungan yang kamu suka? Walau kelihatannya sederhana, gak kenal diri sendiri secara mendalam akan membuatmu mudah untuk “diserang” pendapat orang.
Feedback dan kritik yang keras dan tajam cepat membuatmu patah semangat. Kamu bukannya menjadikan itu bahan pembelajaran, melainkan menggantungkan validasi dari ucapan orang.
Kalau kamu cukup mengenal diri sendiri, kamu akan selalu merasa cukup dengan dirimu—apa pun kata orang. Mengenal diri sendiri adalah dasar penting membentuk pandangan diri yang sehat.
2. Rendahnya rasa self-compassion

Berbuat baik harus diterapkan, terlebih dulu pada diri sendiri. Sadari bahwa semua orang pernah berbuat salah, tak terkecuali dirimu. Inilah mengapa punya belas kasih pada diri sendiri itu penting.
Kamu gak bisa menuntut diri sendiri untuk selalu sempurna, apalagi di depan orang. Justru, dari kesalahan itulah kamu belajar hal baru.
Fokusnya bukanlah untuk menyenangkan hati orang, melainkan memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk bisa berkembang.
3. Gak bisa mengelola perasaan sendiri

Dengan kata lain, kamu masih belum cukup dewasa untuk mengelola perasaanmu. Kritik orang lain bisa jadi pedas, gak enak didengar, menyayat hati. Kalau kamu membiarkan perasaan-perasaan itu menguasai dirimu selama bekerja, maka kamu gak akan bisa berkembang.
Yang ada, kamu akan kerap dihantui rasa malu, rasa bersalah, bahkan rasa marah. Kamu merasa tidak adil diperlakukan seperti itu. Fokusmu gak lagi pada pekerjaan, melainkan keinginan untuk diakui dan diperhatikan.
Bagaimana kamu bisa profesional kalau masih belum bisa mengendalikan perasaanmu? Bisa-bisa, kamu dinilai sebagai pribadi yang plin-plan dan tidak tegas.
4. Kurang bisa tegas pada diri sendiri dan orang lain

Bersikap asertif adalah kemampuan yang harus dibangun hari demi hari. Untuk menjadi asertif, kamu harus tahu dulu apa yang kamu rasakan dan inginkan. Dengan demikian, kamu bisa membangun batasan yang sehat dengan orang lain.
Termasuk, ketika ada orang yang memberi feedback di luar harapan, alih-alih mengikuti perasaan dan marah seenak jidat, kamu memberi diri sendiri untuk mengatur emosi. Ketegasan adalah kunci untuk mengolah feedback menjadi sesuatu yang positif.
Ternyata, empat sikap di atas bisa menjadi batu sandungan dalam dunia kerja. Padahal, adanya feedback dari orang lain seharusnya bisa menginspirasimu untuk lebih baik, bukannya menjatuhkan. Mulai sekarang, yuk ubah pola pikirmu!


















