Pekerjaan yang sudah selesai kadang masih harus melewati pemeriksaan berulang sebelum benar-benar dianggap beres. Mulai dari pilihan kata dalam email, susunan presentasi, sampai keputusan kecil yang sebenarnya masuk tanggung jawab karyawan, semuanya harus menunggu persetujuan atasan. Awalnya terlihat seperti upaya menjaga kualitas, tetapi kebiasaan ini bisa membuat pekerjaan sederhana terasa jauh lebih rumit.
Quality control memang dibutuhkan agar hasil kerja sesuai standar perusahaan. Masalah muncul ketika pemeriksaan berubah menjadi campur tangan berlebihan yang membuat karyawan kehilangan ruang untuk mengambil keputusan sendiri. Yuk, simak lima bahaya micromanagement berkedok quality control yang perlu dikenali di lingkungan kerja.
