Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Empati Seharusnya Datang dari Hati yang Baik

6 min read
5 Alasan Empati Seharusnya Datang dari Hati yang Baik
ilustrasi empati (pexels.com/SHVETS production)
  • Empati tulus memberi ruang bagi perasaan orang lain tanpa membandingkan kesulitan, meremehkan masalah, atau menjadikan pengalaman pribadi sebagai standar.
  • Kepedulian sejati tetap hadir saat seseorang kehilangan status atau mengalami kesulitan, tanpa menjadikannya bahan gosip, candaan, atau alat menuntut balasan.
  • Empati terlihat saat mendengarkan sesuai kebutuhan, menjaga batasan tanpa mengungkit bantuan, serta tidak memakai kelemahan dan rahasia orang lain ketika konflik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua orang yang mengaku berempati benar-benar memikirkan perasaan orang lain. Ada yang bersedia membantu selama kebaikannya dipuji, mendengarkan curhatan hanya untuk dijadikan bahan gosip, atau sengaja mengungkit bantuan masa lalu ketika sedang bertengkar. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa perhatian dan empati bukanlah hal yang sama. Seseorang bisa terlihat baik di depan banyak orang, tetapi belum tentu mampu memperlakukan orang lain dengan tulus ketika tidak ada keuntungan yang bisa ia peroleh.

Empati seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam memperlakukan orang lain, terutama ketika mereka sedang berada dalam situasi sulit. Kita tidak perlu selalu punya solusi, memberikan bantuan yang wah, atau menyetujui semua keputusan seseorang untuk menunjukkan kepedulian. Terkadang, tidak meremehkan masalah orang lain dan tidak menggunakan kelemahannya untuk menyerang justru jauh lebih berarti. Lalu, mengapa empati seharusnya datang dari hati yang baik, bukan sekadar keinginan untuk terlihat sebagai orang baik?

  1. 1. Tidak menjadikan kesulitan orang lain sebagai bahan perbandingan

    ilustrasi perbandingan
    ilustrasi perbandingan (pexels.com/Karolina Grabowska)

    Ketika seorang teman mengeluh karena gagal mendapatkan pekerjaan, respons seperti, "Aku aja sudah berkali-kali ditolak, masa kamu baru sekali nyerah?" mungkin terdengar seperti motivasi agar ia lebih kuat. Namun, kalimat tersebut justru bisa membuatnya merasa bahwa kesulitannya tidak pantas diceritakan. Setiap orang memiliki kondisi, tanggungan, dan kemampuan menghadapi tekanan yang berbeda. Membandingkan pengalaman pribadi dengan masalah orang lain tidak otomatis membuat mereka lebih siap menghadapi keadaan.

    Orang yang memiliki empati akan berusaha memahami situasi sebelum memberikan tanggapan. Ia bisa bertanya tentang kesulitan yang sedang dihadapi atau sekadar mengatakan bahwa kegagalan tersebut memang mengecewakan. Jika punya pengalaman serupa, ia dapat membagikannya tanpa menjadikan kisahnya sebagai standar bagi orang lain. Sikap ini menunjukkan bahwa tujuan mendengarkan cerita mereka bukan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat, melainkan memberi ruang bagi orang lain untuk mengungkapkan perasaannya. Kepedulian yang tulus tidak membuat seseorang harus membuktikan bahwa masalahnya cukup berat agar layak didengarkan.

  2. 2. Tetap memperlakukan orang dengan baik ketika mereka sedang tidak punya apa-apa

    ilustrasi berbuat baik ke orang lain
    ilustrasi berbuat baik ke orang lain (pexels.com/Allan Mas)

    Perhatikan bagaimana seseorang bersikap kepada teman yang sedang sukses dan teman yang hidupnya sedang berantakan. Ketika seseorang baru mendapat promosi, punya pekerjaan bergengsi, atau bisa mentraktir teman-temannya, tidak sedikit orang yang antusias mendekat. Namun, ketika orang yang sama kehilangan pekerjaan, mengalami masalah keuangan, atau tidak lagi memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, perhatian di sekitarnya bisa ikut berkurang. Ada yang bahkan mulai menjadikannya bahan candaan atau tidak lagi diajak bergaul.

    Empati tidak bergantung pada status, pencapaian, atau manfaat yang bisa kita dapatkan dari seseorang. Kita tidak harus memberikan uang atau menyelesaikan masalahnya untuk menunjukkan kepedulian. Tetap mengajaknya berbicara, tidak mempermalukannya di depan teman-teman, dan tidak menggunakan masa sulitnya sebagai bahan gosip juga termasuk empati. Orang yang sedang mengalami kegagalan sudah cukup menghadapi masalahnya sendiri tanpa harus kehilangan rasa hormat dari lingkungan sekitarnya. Justru ketika seseorang tidak lagi memiliki banyak hal untuk ditawarkan, ketulusan seseorang sering kali terlihat lebih jelas.

  3. 3. Membantu tanpa terus mengungkit kebaikan sendiri

    ilustrasi membantu
    ilustrasi membantu (unsplash.com/Kaleidico)

    Misalnya, kamu pernah meminjamkan uang kepada teman yang sedang kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari. Beberapa bulan kemudian, kalian bertengkar karena persoalan lain, lalu kamu berkata, "Dulu waktu kamu susah, siapa yang bantuin kamu?" Kalimat tersebut kerap digunakan sebagai senjata ampuh untuk mengungkit yang sudah-sudah. Temanmu akhirnya tidak hanya harus menghadapi masalahnya saat ini, tetapi juga merasa bahwa bantuan yang diterimanya membuat ia berutang kepadamu.

    Tentu saja, membantu orang lain bukan berarti kita harus mengabaikan hak sendiri. Jika uang pinjaman belum dikembalikan sesuai kesepakatan, kita berhak menagihnya. Namun, persoalan pinjaman sebaiknya dibicarakan secara jelas, bukan dicampur dengan tuntutan agar penerima bantuan selalu menurut atau membalas kebaikan dengan cara yang kita inginkan. Ketulusan bukan berarti tidak boleh kecewa atau menetapkan batasan, melainkan tidak menggunakan kesulitan masa lalu seseorang untuk mempermalukannya. Kita bisa mengingat bantuan yang pernah diberikan tanpa menjadikan orang yang dibantu seolah-olah tidak akan pernah mampu membalasnya.

  4. 4. Tidak buru-buru memberikan nasihat ketika orang lain hanya ingin didengarkan

    ilustrasi memberi nasihat
    ilustrasi memberi nasihat (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Ketika teman bercerita bahwa ia sedang kelelahan menghadapi pekerjaan, respons seperti, "Kalau gak kuat, ya resign saja," mungkin biasa saja bagi kamu. Padahal, kita belum tentu tahu apakah ia memiliki tabungan, tanggungan keluarga, cicilan, atau peluang kerja yang lain. Nasihat yang terdengar sederhana bagi kita bisa menjadi keputusan besar bagi orang yang sedang menghadapinya. Hal serupa terjadi ketika seseorang bercerita tentang masalah keluarga, tetapi malah diminta bersabar tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

    Mendengarkan bukan berarti kita harus selalu setuju atau membiarkan teman terus terjebak dalam masalah yang sama. Kita bisa menanyakan apakah ia ingin didengarkan terlebih dahulu atau sedang mencari saran. Jika ia meminta pendapat, berikan tanggapan berdasarkan informasi yang benar-benar diketahui, bukan asumsi tentang hidupnya. Jika situasinya rumit, kita juga bisa mengakui bahwa kita tidak memiliki jawaban yang tepat. Sikap sederhana seperti ini menunjukkan bahwa kita tidak sedang berusaha tampil sebagai orang paling bijaksana. Kita hanya ingin membantu tanpa membuat orang lain merasa bodoh karena belum menemukan jalan keluar.

  5. 5. Kita tidak berubah menjadi kasar hanya karena sedang kesal

    ilustrasi kasar
    ilustrasi kasar (pexels.com/Timur Weber)

    Seseorang bisa terlihat sangat perhatian ketika suasana hatinya sedang baik, tetapi menunjukkan sikap berbeda ketika menghadapi konflik. Misalnya, saat bertengkar dengan pasangan, ia sengaja mengungkit trauma masa lalu yang pernah diceritakan secara pribadi. Ada pula orang yang ketika marah kepada teman, menggunakan rahasia yang dipercayakan kepadanya sebagai bahan sindiran. Mereka tahu bagian mana yang paling menyakitkan bagi orang tersebut, lalu memakainya untuk membalas rasa kesal.

    Memiliki empati bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau bahkan tidak pernah mengatakan sesuatu yang tegas. Namun, kita tetap bisa menyampaikan keberatan tanpa sengaja mempermalukan seseorang atau menyerang bagian hidupnya yang paling rentan. Jika telanjur menyakiti orang lain, kita juga perlu bersedia mengakui kesalahan tanpa berlindung di balik alasan sedang emosi. Ketulusan dalam memperlakukan orang lain tidak hanya terlihat saat hubungan sedang baik-baik saja, tetapi juga ketika kita punya kesempatan untuk menyakiti mereka dan memilih untuk tidak melakukannya. Sebab, mengetahui kelemahan seseorang seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap, bukan merasa memiliki senjata untuk mengalahkannya.

    Empati tidak selalu ditunjukkan melalui bantuan yang besar atau kata-kata yang terdengar bijaksana. Hal tersebut bisa terlihat dari keputusan untuk tidak meremehkan masalah teman, tidak meninggalkan seseorang ketika hidupnya sedang sulit, dan tidak memakai kebaikan kita sebagai alat untuk menuntut balasan. Oleh sebab itu, empati seharusnya datang dari hati yang baik. Kita mungkin tidak selalu memahami keadaan orang lain, tetapi setidaknya bisa menahan diri agar tidak menambah beban yang sedang mereka hadapi. Menurutmu, perilaku apa yang paling menunjukkan bahwa seseorang benar-benar punya empati?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More