Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Membagi Tugas Rumah Tangga agar Tidak Menumpuk pada Satu Orang

5 min read
Cara Membagi Tugas Rumah Tangga agar Tidak Menumpuk pada Satu Orang
ilustrasi menyelesaikan pekerjaan rumah tangga (pexels.com/Jep Gambardella)

Pekerjaan rumah tangga sering terlihat sederhana jika dilihat satu per satu. Mencuci piring, menyapu lantai, memasak, menyortir pakaian, atau merapikan kamar mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Namun, ketika semuanya harus dilakukan setiap hari, ditambah mengurus anak, bekerja, dan memenuhi kebutuhan keluarga, pekerjaan tersebut bisa terasa seperti tidak ada habisnya.

Masalah muncul ketika sebagian besar tanggung jawab itu terus-menerus dikerjakan oleh satu orang, sementara anggota keluarga lainnya baru bergerak setelah diminta. Supaya rumah tetap terurus tanpa membuat satu orang kewalahan, pembagian tugas perlu dilakukan secara sadar, terbuka, dan realistis.

  1. 1. Catat semua pekerjaan, termasuk yang sering 'tidak terlihat'

    ilustrasi anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga (freepik.com/pch.vector)
    ilustrasi anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga (freepik.com/pch.vector)

    Langkah pertama untuk membagi pekerjaan rumah secara adil adalah mencatat seluruh tugas yang perlu dilakukan. Jangan hanya memasukkan pekerjaan besar seperti mengepel atau mencuci pakaian. Hal-hal kecil seperti mengganti galon, membuang sampah, mengisi persediaan sabun, menyiapkan bekal, dan membersihkan meja makan juga perlu diperhitungkan karena semuanya membutuhkan waktu dan tenaga.

    "Hal ini dikarenakan kaum pria dan masyarakat lebih berfokus pada pelaksanaan, sementara tahap perancangan dan perencanaan justru tidak terlihat," kata Eve Rodsky, penulis buku Fair Play yang membahas pembagian tanggung jawab rumah tangga, menyoroti pentingnya pekerjaan yang tidak terlihat atau invisible work.

    Dalam wawancaranya dengan Harvard Gazette, Rodsky menekankan bahwa perhatian sering hanya tertuju pada pelaksanaan tugas, sementara proses memikirkan, merencanakan, dan mengoordinasikan pekerjaan justru luput dari perhatian. Jadi, Cobalah membuat daftar semua pekerjaan rumah selama satu minggu, termasuk siapa yang biasanya mengingatkan dan mengatur setiap kebutuhan.

  2. 2. Bagi tugas berdasarkan waktu dan kemampuan, bukan gender

    ilustrasi pekerjaan rumah tangga (pexels.com/Ono Kosuki)
    ilustrasi pekerjaan rumah tangga (pexels.com/Ono Kosuki)

    Pekerjaan rumah sebaiknya tidak otomatis dibebankan kepada seseorang hanya karena jenis kelamin atau peran tertentu dalam keluarga. Memasak bukan semata-mata tugas perempuan, begitu pula memperbaiki barang atau membuang sampah bukan kewajiban laki-laki.

    Pembagian yang lebih adil mempertimbangkan jam kerja, kondisi fisik, kemampuan, jadwal, serta tanggung jawab lain yang sedang dijalankan setiap anggota keluarga. Misalnya, jika satu orang harus berangkat kerja lebih pagi, ia mungkin lebih cocok menangani pekerjaan yang bisa dilakukan pada malam hari.

    "Duduklah bersama, diskusikan bagaimana Anda berdua menghargai waktu satu sama lain, lalu bekerjasamalah untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang lebih efisien," saran Rodsky.

    Anggota keluarga lain dapat bertanggung jawab menyiapkan sarapan atau mengurus cucian. Jika ada anak yang sudah cukup besar, berikan tugas sederhana sesuai usia dan kemampuannya. Tujuannya bukan membagi setiap pekerjaan dengan jumlah yang persis sama, melainkan memastikan beban keseluruhan terasa masuk akal bagi semua orang.

  3. 3. Tentukan penanggung jawab agar tidak harus terus diingatkan

    ilustrasi pekerjaan rumah tangga (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi pekerjaan rumah tangga (pexels.com/cottonbro)

    Salah satu sumber kelelahan dalam mengurus rumah adalah ketika seseorang harus terus meminta bantuan. Contohnya, pasangan bersedia mencuci piring, tetapi hanya setelah diingatkan berkali-kali. Akhirnya, orang yang meminta bantuan tetap harus mengingat jadwal, memperhatikan kondisi dapur, dan memastikan tugas tersebut benar-benar selesai.

    Beban mentalnya pun belum sepenuhnya berkurang. Eve Rodsky menekankan pentingnya kepemilikan tanggung jawab secara menyeluruh, mulai dari memikirkan kebutuhan, merencanakan, hingga melaksanakan tugas.

    "Cobalah untuk mulai memikirkan tentang pembagian tanggung jawab. Tugas apa yang bisa dipegang sepenuhnya oleh masing-masing pasangan, mulai dari tahap gagasan, perencanaan, hingga pelaksanaan? Ini adalah solusi untuk menghindari kelelahan dalam mengambil keputusan-situasi di mana tidak ada yang tahu siapa yang akan memasak makan malam besok, siapa yang harus mengajak anjing jalan-jalan, atau siapa yang bertanggung jawab mencuci piring," jelasnya.

    Sebagai contoh, orang yang bertanggung jawab atas cucian bukan hanya bertugas memasukkan pakaian ke mesin cuci, tetapi juga memperhatikan kapan cucian perlu dilakukan dan memastikan pakaian selesai dikeringkan serta disimpan. Begitu pula penanggung jawab belanja perlu memeriksa stok dan membuat daftar kebutuhan.

  4. 4. Buat jadwal ringan dan standar kebersihan yang disepakati

    ilustrasi pekerjaan rumah tangga (pexels.com/karolina-grabowska)
    ilustrasi pekerjaan rumah tangga (pexels.com/karolina-grabowska)

    Tidak semua pekerjaan harus dilakukan setiap hari. Menentukan jadwal membantu keluarga membedakan pekerjaan yang mendesak dari pekerjaan yang masih bisa menunggu. Misalnya, mencuci piring dan membersihkan meja makan dilakukan setiap hari, sedangkan membersihkan jendela atau merapikan lemari bisa dijadwalkan mingguan atau bulanan.

    Kamu bisa membuat jadwal sederhana di papan tulis, kalender bersama, atau aplikasi catatan yang mudah diakses semua anggota keluarga. Tentukan juga standar penyelesaian tugas, misalnya dapur dianggap selesai dibersihkan setelah piring dicuci, meja dilap, dan sampah dibuang.

    Standar yang disepakati mencegah perdebatan karena setiap orang memiliki bayangan berbeda tentang arti rumah yang rapi. Namun, jadwal tetap perlu fleksibel ketika ada anggota keluarga yang sakit, lembur, atau menghadapi keadaan mendesak.

  5. 5. Evaluasi pembagian tugas tanpa saling menyalahkan

    ilustrasi beres-beres rumah (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi beres-beres rumah (pexels.com/cottonbro studio)

    Pembagian pekerjaan rumah bukan keputusan yang harus berlaku selamanya. Perubahan jam kerja, kehadiran anak, kondisi kesehatan, atau kesibukan tertentu dapat membuat pembagian sebelumnya tidak lagi cocok. Karena itu, penting untuk mengevaluasi kesepakatan secara berkala agar tidak ada orang yang diam-diam menanggung terlalu banyak pekerjaan.

    Luangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap minggu untuk membahas apa yang berjalan baik dan apa yang terasa memberatkan. Gunakan kalimat yang berfokus pada kebutuhan, misalnya, “Aku kewalahan mengurus cucian dan belanja sekaligus. Bisa kita atur ulang pembagiannya?” daripada langsung menuduh orang lain tidak peduli.

    Jika ada tugas yang ternyata terlalu berat, ubah jadwal atau tukar tanggung jawabnya. Evaluasi akan lebih efektif ketika semua anggota keluarga merasa boleh menyampaikan kesulitan tanpa takut disalahkan.

    Membagi pekerjaan rumah tangga bukan berarti menghitung setiap menit agar semua orang melakukan hal yang persis sama. Intinya adalah memastikan kebutuhan rumah dipenuhi melalui kerja sama, tanpa menjadikan satu orang sebagai penanggung jawab utama untuk segala hal.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More