Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Atasi Post-Lebaran Blues, Gak Semangat Kerja setelah Lebaran

5 Cara Atasi Post-Lebaran Blues, Gak Semangat Kerja setelah Lebaran
ilustrasi cara atasi post-lebaran blues (pexels.com/Arina Krasnikova)

Kamu lagi duduk di depan laptop yang masih tertutup, tapi pikiranmu masih tertinggal di kampung halaman bareng opor ayam dan tawa sepupu. Rasanya berat buat sekadar membuka e-mail, padahal fisik kamu sudah ada di perantauan atau meja kerja. Perasaan hampa, sedih, dan gak bersemangat ini sering disebut dengan post-Lebaran blues, sebuah kondisi emosional yang bikin transisi libur Lebaran ke rutinitas terasa sangat menyiksa. Sebenarnya, hal ini sama dengan post-holiday blues yang kerap dialami oleh kamu yang harus kembali beraktivitas rutin setelah libur panjang.

Kalau kamu membiarkan perasaan ini berlarut-larut, performa kerja dan kesehatan mental kamu bisa beneran terganggu, lho. Kamu bakal merasa terjebak dalam rasa bersalah karena menganggap diri sendiri malas, padahal sebenarnya ada penjelasan psikologis di baliknya, kok. Yuk, pahami kenapa hal ini terjadi supaya kamu bisa lebih cepat "bangun" dan gak makin terpuruk dalam kesedihan yang gak perlu.


1. Sadari hormon bahagia kamu lagi terjun bebas

ilustrasi pasangan minum kopi (unsplash.com/@taylormae)
ilustrasi pasangan minum kopi (unsplash.com/@taylormae)

Selama Lebaran, otak kamu dibanjiri oleh dopamin dan oksitosin karena sering berkumpul dengan orang tersayang dan makan enak. Begitu liburan selesai, produksi hormon "senang" ini menurun drastis karena sumber kebahagiaannya sudah gak ada di depan mata. Hal inilah yang bikin kamu merasa hampa secara mendadak, mirip seperti perasaan sedih setelah nonton konser idola.

Untuk mengatasinya, kamu gak perlu langsung memaksakan diri bekerja dengan kecepatan penuh di hari pertama. Coba cari reward kecil seperti memesan kopi favorit atau ngobrol santai bareng teman kantor di sela waktu istirahat. Cara ini efektif buat memicu sedikit dopamin agar mood kamu gak langsung anjlok ke titik nadir.

2. Atur ulang jam biologis yang berantakan

ilustrasi deep work manual tanpa gangguan gadget
ilustrasi deep work manual tanpa gangguan gadget (pexels.com/picjumbo.com)

Begadang buat takbiran atau sekadar ngobrol sampai subuh bareng keluarga besar pasti bikin jadwal tidur kamu berantakan total. Tubuh kamu jadi bingung karena ritme sirkadian atau jam internal yang mengatur kapan harus bangun dan tidur sudah bergeser jauh. Gak heran kalau pas masuk kerja, kamu merasa lemas dan emosinya jadi lebih sensitif atau gampang marah.

Mulailah perbaiki jadwal tidur kamu secara bertahap, gak perlu dipaksakan langsung tidur jam sembilan malam kalau biasanya baru tidur jam dua pagi. Coba kurangi penggunaan gadget satu jam sebelum tidur supaya otak kamu lebih rileks dan siap buat istirahat total. Badan yang cukup istirahat bakal bikin kamu lebih kuat menghadapi kenyataan kalau liburan memang sudah berakhir.

3. Lawan rasa sepi setelah rumah jadi sunyi

ilustrasi merasa sepi di rumah
ilustrasi merasa sepi di rumah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Perubahan suasana dari rumah yang penuh keramaian ke kamar kos atau rumah yang sepi adalah pemicu utama rasa sedih. Kamu kehilangan stimulus sosial yang intens secara tiba-tiba, sehingga muncul rasa kesepian yang sering disalahartikan sebagai rasa malas. Perasaan ini sangat wajar karena manusia adalah makhluk sosial yang butuh interaksi hangat secara rutin, kok.

Supaya gak merasa terlalu kehilangan, tetaplah jalin komunikasi dengan keluarga di kampung lewat video call singkat setelah pulang kerja. Mengetahui bahwa mereka tetap ada meski jaraknya jauh bakal memberikan rasa aman secara emosional di dalam hati. Dengan begitu, kamu gak bakal merasa sendirian banget saat harus kembali berjuang di perantauan atau rutinitas harian.

4. Kelola ekspektasi biar gak terbebani tugas menumpuk

ilustrasi skala prioritas dalam pekerjaan
ilustrasi skala prioritas dalam pekerjaan (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Sering kali yang bikin kamu sedih bukan hari kerjanya, tapi bayangan tumpukan tugas dan ratusan chat kantor yang menunggu dibalas. Rasa cemas ini muncul karena kamu merasa kehilangan kontrol atas waktu santaimu yang berharga selama beberapa hari kemarin. Kamu merasa "terancam" oleh tanggung jawab yang datang bertubi-tubi tanpa ada jeda untuk bernapas sejenak.

Strategi terbaiknya adalah membuat daftar prioritas yang sangat sederhana, jangan langsung mencoba menyelesaikan semua tugas dalam satu hari, ya. Fokuslah pada satu pekerjaan yang paling mendesak, lalu berikan apresiasi pada diri sendiri setelah berhasil menyelesaikannya dengan baik. Cara ini bikin kamu merasa lebih berdaya dan gak lagi merasa jadi tawanan pekerjaan yang membosankan.


5. Temukan kembali kendali atas waktu harianmu

ilustrasi cara mengatur manajemen waktu untuk mengurai stres
ilustrasi cara mengatur manajemen waktu untuk mengurai stres (pexels.com/KoolShooters)

Liburan memberikan kamu kebebasan penuh untuk melakukan apa pun tanpa ada aturan jam yang mengikat ketat. Saat harus kembali ke rutinitas 9-to-5, kamu merasa kehilangan otonomi diri dan itu rasanya gak enak banget secara psikologis. Kamu merasa sedih karena merasa "dipaksa" masuk kembali ke dalam kotak rutinitas yang kaku dan membosankan.

Sisipkanlah kegiatan yang kamu sukai di sela-sela jadwal harian, misalnya mendengarkan podcast favorit saat berangkat kerja atau membaca buku saat makan siang. Dengan tetap melakukan hal-hal yang kamu sukai, kamu bakal merasa masih punya kendali atas hidupmu sendiri meski sudah gak libur lagi. Rasa sedih itu pelan-pelan akan hilang saat kamu sudah menemukan ritme baru yang nyaman buat dijalani.

Memahami bahwa post-Lebaran blues adalah hal yang manusiawi akan membantumu untuk lebih sabar pada diri sendiri selama masa transisi ini. Jangan terlalu keras berjuang sendirian, ya. Yuk, ambil napas dalam-dalam, jalani hari selangkah demi selangkah, dan ingatlah bahwa setiap rutinitas adalah jalan untuk menuju liburan seru berikutnya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us