Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Tetap Profesional di Kantor Meski Energi Drop saat Puasa

5 Cara Tetap Profesional di Kantor Meski Energi Drop saat Puasa
ilustrasi seorang perempuan tampil profesional di kantor (pexels.com/Sora Shimazaki)
Intinya Sih
  • Kamu bisa jaga profesionalisme di kantor saat berpuasa, ketika energi menurun namun tuntutan kerja tetap berjalan dengan ritme dan target yang sama.

  • Kuncinya komunikasi yang tenang, manajemen ritme kerja cerdas, ketepatan waktu, serta penampilan rapi agar tetap terlihat kompeten meski stamina terbatas.

  • Belajar mengendalikan emosi dan menjaga sikap profesional tanpa menjadikan puasa sebagai alasan menurunnya etos kerja atau kualitas kolaborasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Puasa sering kali datang bersamaan dengan jadwal kerja yang tetap padat. Di satu sisi, tubuh sedang belajar beradaptasi dengan ritme makan dan tidur yang berubah. Di sisi lain, tuntutan profesional tetap berjalan seperti biasa: deadline, rapat, dan target yang tidak ikut berpuasa. Kondisi ini wajar membuat energi terasa cepat habis, terutama di jam-jam rawan menjelang siang atau sore.

Namun, turunnya energi bukan berarti turunnya kualitas sikap dan etos kerja. Justru di bulan puasa, profesionalisme diuji bukan dari seberapa cepat kita bekerja, melainkan dari cara kita mengelola diri. Dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa terlihat kompeten, dapat diandalkan, dan nyaman diajak bekerja sama, meski tenaga sedang tidak di titik maksimal. Nah, berikut ini lima cara tetap profesional di kantor meski energi drop saat puasa!

1. Jaga cara berkomunikasi, bukan hanya isi pesannya

Mengobrol dengan rekan kerja.
ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja (freepik.com/freepik)

Puasa sering membuat energi fisik menurun, tetapi profesionalisme tidak boleh ikut turun. Di kantor, hal paling dasar yang bisa dijaga adalah sikap dan cara berkomunikasi. Saat tubuh lelah, emosi biasanya lebih sensitif, sehingga respons spontan berisiko terdengar ketus atau defensif. Karena itu, biasakan memberi jeda sebelum menjawab pesan, email, atau pertanyaan rekan kerja. Tarik napas, baca ulang konteksnya, lalu jawab dengan kalimat netral dan jelas agar tidak memicu salah paham.

Selain itu, jaga bahasa tubuh saat berinteraksi langsung. Duduk tegak, lakukan kontak mata seperlunya, dan hindari menghela napas berlebihan yang bisa disalahartikan. Sikap kecil seperti ini menunjukkan respek dan kesiapan bekerja, meski kondisi tubuh tidak sedang optimal di lingkungan kerja yang menuntut kolaborasi.

2. Atur ritme kerja, bukan memforsir diri

Seorang pria bekerja.
ilustrasi pria bekerja (pexels.com/Ivan S)

Saat puasa, bekerja keras tanpa strategi justru membuat energi cepat habis. Profesionalisme bukan soal bekerja paling lama, tetapi bekerja dengan ritme yang cerdas. Mulailah dengan mengenali jam paling produktif selama puasa, misalnya pagi hari setelah sahur atau menjelang siang. Gunakan waktu tersebut untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan fokus tinggi agar hasilnya tetap maksimal.

Di luar jam produktif, alihkan ke pekerjaan yang lebih ringan seperti membalas email atau merapikan dokumen. Dengan pembagian energi yang lebih realistis, kamu tetap terlihat terorganisir dan bertanggung jawab. Cara ini juga membantu mencegah kesalahan kerja akibat kelelahan, sehingga kualitas hasil tetap terjaga meski stamina sedang terbatas.

3. Tetap tepat waktu dan konsisten dengan komitmen

Seorang perempuan sedang sibuk bekerja.
ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Energi yang menurun sering kali membuat kita tergoda untuk lebih longgar soal waktu. Padahal, ketepatan waktu adalah salah satu indikator profesionalisme yang paling mudah terlihat. Datang tepat waktu, hadir di rapat sesuai jadwal, dan menyelesaikan tugas sesuai kesepakatan menunjukkan bahwa kamu menghargai sistem kerja dan orang lain, terlepas dari kondisi pribadi.

Jika memang merasa tidak optimal, komunikasikan secara profesional, bukan menghilang tanpa kabar. Menyampaikan progres atau kendala lebih awal justru memberi kesan dewasa dan bertanggung jawab. Konsistensi seperti ini membuat rekan kerja tetap percaya pada komitmenmu, meski tahu kamu sedang berpuasa dan beradaptasi dengan ritme baru.

4. Jaga penampilan yang rapi untuk menopang sikap profesional

Seorang pria berpenampilan rapi.
ilustrasi seorang pria berpenampilan rapi (pexels.com/Beard Kid)

Saat energi turun, penampilan sering menjadi hal pertama yang diabaikan. Padahal, tampil rapi bisa membantu membangun mindset kerja yang lebih siap. Tidak perlu berlebihan, cukup pastikan pakaian bersih, sopan, dan sesuai dengan budaya kantor. Penampilan yang terjaga memberi sinyal bahwa kamu tetap menghargai peran dan tanggung jawabmu.

Selain itu, penampilan rapi juga memengaruhi cara orang lain meresponsmu. Rekan kerja dan atasan cenderung tetap melihatmu sebagai sosok profesional, meski mungkin kamu terlihat lebih pendiam dari biasanya. Dengan begitu, kamu tidak perlu bekerja ekstra keras untuk membuktikan kompetensi, karena kesan awal sudah terbentuk dengan baik.

5. Kendalikan emosi, jangan jadikan puasa sebagai alasan

ilustrasi seorang perempuan mengatur emosi saat bekerja
ilustrasi seorang perempuan mengatur emosi saat bekerja (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Puasa bukan alasan untuk meluapkan emosi di tempat kerja. Justru di sinilah profesionalisme diuji secara nyata. Saat rasa lapar atau lelah muncul, penting untuk lebih sadar terhadap reaksi diri sendiri. Menahan komentar sarkas, nada tinggi, atau gestur tidak sabar adalah bentuk kedewasaan profesional yang sangat dihargai.

Jika emosi mulai naik, ambil jeda singkat. Pergi ke toilet, minum air saat waktunya, atau sekadar menarik napas dalam-dalam bisa membantu menenangkan diri. Dengan mengelola emosi secara sadar, kamu tidak hanya menjaga hubungan kerja tetap sehat, tetapi juga menunjukkan bahwa kamu mampu bersikap profesional dalam kondisi apa pun.

Energi boleh turun saat puasa, tapi sikap profesional seharusnya tetap naik kelas. Dengan lima cara di atas, kamu tetap bisa tampil solid di kantor, lho. Ingat ya, profesionalisme bukan menjadi sempurna setiap saat, tapi bagaimana kamu membawa diri ketika kondisi sedang tidak ideal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More