5 Red Flag Perusahaan yang Harus Dihindari Fresh Graduate, Catat!

- Proses rekrutmen terburu-buru dan tidak profesional, seperti informasi yang tidak jelas dan kontrak langsung ditandatangani tanpa waktu untuk mempertimbangkan.
- Deskripsi pekerjaan yang terlalu luas dan ambigu, bisa menandakan perusahaan ingin tenaga kerja "serba bisa" dengan gaji satu orang.
- Review karyawan di internet didominasi oleh komentar negatif, lampu kuning yang gak boleh diabaikan karena kemungkinan besar ada masalah sistemik di perusahaan tersebut.
Memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya memang terasa seperti petualangan baru yang menegangkan sekaligus menggembirakan. Bayangkan, setelah bertahun-tahun berkutat dengan tugas kuliah dan skripsi, akhirnya kamu bisa menghasilkan uang sendiri dan membuktikan kemampuanmu di dunia profesional. Wajar saja kalau rasa antusias itu membuat kamu ingin segera mendapatkan pekerjaan, apa pun itu.
Sayangnya, semangat yang terlalu membara ini kadang membuat fresh graduate kurang teliti dalam memilih perusahaan. Akibatnya, banyak dari mereka yang terjebak di tempat kerja yang justru menghambat perkembangan karier atau bahkan merusak kesehatan mental. Nah, supaya kamu gak mengalami hal serupa, yuk kenali beberapa red flag perusahaan yang sebaiknya dihindari berikut ini!
1. Proses rekrutmen terasa terburu-buru dan tidak profesional

Proses rekrutmen sebenarnya adalah cerminan dari bagaimana perusahaan mengelola operasionalnya sehari-hari. Kalau dari awal saja sudah terasa berantakan, bisa jadi ini pertanda bahwa manajemen internal mereka juga gak jauh berbeda. Lantas, seperti apa sih tanda-tanda rekrutmen yang patut dicurigai?
Coba perhatikan apakah HRD memberikan informasi yang jelas tentang posisi yang kamu lamar, termasuk job description dan kisaran gaji. Waspadai juga bila mereka memintamu untuk langsung tanda tangan kontrak tanpa memberi waktu untuk membaca dan memahami isinya. Perusahaan yang baik pasti akan memberikan ruang bagi calon karyawannya untuk mempertimbangkan keputusan sepenting ini.
2. Deskripsi pekerjaan yang terlalu luas dan tidak spesifik

Saat mencari lowongan kerja, kamu pasti sering menemukan job description yang isinya panjang sekali dengan tanggung jawab yang sangat beragam. Hal ini sebenarnya bukan hal yang langka, tetapi kamu perlu waspada bila deskripsinya terasa terlalu ambigu atau malah mencakup pekerjaan yang seharusnya ditangani oleh beberapa divisi berbeda.
Kondisi seperti ini biasanya mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut ingin mendapatkan tenaga kerja "serba bisa" dengan gaji satu orang. Ujung-ujungnya, kamu akan kewalahan mengerjakan tugas yang seharusnya bukan tanggung jawabmu. Jadi, pastikan untuk bertanya dengan detail saat interview mengenai ekspektasi pekerjaan yang sebenarnya, ya!
3. Review karyawan di internet didominasi oleh komentar negatif

Di era digital seperti sekarang, mencari informasi tentang reputasi perusahaan bukanlah hal yang sulit. Kamu bisa memanfaatkan platform seperti Glassdoor, LinkedIn, atau bahkan sekadar googling untuk menemukan ulasan dari mantan karyawan. Nah, bila mayoritas review yang muncul bernada negatif dengan keluhan serupa, ini jelas merupakan lampu kuning yang gak boleh diabaikan.
Tentu saja, kamu perlu bijak dalam menyaring informasi karena gak semua review itu objektif. Namun, bila sudah puluhan atau bahkan ratusan orang yang mengeluhkan hal yang sama, misalnya soal manajemen yang buruk, jam kerja yang gila-gilaan, atau gaji yang sering telat, maka kemungkinan besar memang ada masalah sistemik di perusahaan tersebut.
4. Pewawancara berbicara buruk tentang karyawan atau mantan karyawan

Sesi interview seharusnya menjadi ajang untuk saling mengenal antara perusahaan dan kandidat. Namun, ada kalanya pewawancara justru menggunakan momen ini untuk curhat tentang betapa buruknya karyawan yang sebelumnya mengisi posisi tersebut atau menjelek-jelekkan tim yang akan bekerja denganmu nanti. Kalau sudah begini, sebaiknya kamu mulai mempertimbangkan ulang keputusanmu.
Perilaku seperti ini menunjukkan kurangnya profesionalisme dan bisa jadi pertanda bahwa budaya kerja di sana cenderung toxic. Bayangkan, bila mereka gak segan membicarakan orang lain di depan orang asing, bagaimana dengan dirimu nanti setelah bergabung? Perusahaan yang sehat pasti akan fokus membahas potensi dan kontribusi yang bisa kamu berikan, bukan malah bergosip.
5. Tidak ada kejelasan tentang jenjang karier dan pengembangan diri

Sebagai fresh graduate, kamu tentu ingin berkembang dan meniti karier yang cemerlang. Oleh karena itu, penting sekali untuk memastikan bahwa perusahaan yang kamu tuju memiliki sistem jenjang karier yang jelas. Bila saat interview kamu bertanya tentang peluang promosi atau program pelatihan dan jawabannya terasa mengambang, ini bisa jadi tanda bahwa mereka kurang peduli dengan pengembangan karyawannya.
Perusahaan yang baik biasanya memiliki program onboarding yang terstruktur, kesempatan untuk mengikuti training, dan jalur karier yang transparan. Jangan sampai kamu terjebak di tempat yang membuatmu stagnan selama bertahun-tahun tanpa ada peningkatan skill maupun posisi. Ingat, masa-masa awal karier adalah waktu emas untuk belajar sebanyak-banyaknya!
Mencari pekerjaan pertama memang penuh tantangan, tetapi bukan berarti kamu harus menerima tawaran apa pun yang datang. Lebih baik bersabar sedikit lebih lama daripada terjebak di lingkungan kerja yang justru merugikanmu. Jadi, sudah siap untuk lebih selektif dalam memilih perusahaan?


















