Dulu, mungkin ada alasan yang cukup kuat untuk menerima pekerjaan yang kini kamu geluti. Sekarang, membuka laptop saja kadang sudah bikin malas, tetapi tetap dikerjakan karena memang harus kamu tuntaskan. Hari-hari seperti ini berlangsung setiap hari tanpa benar-benar membuat kamu mengambil keputusan untuk resign.
Apa yang Dicari dari Bertahan di Pekerjaan yang Gak Disukai?

- Kebutuhan gaji bulanan untuk cicilan, tagihan, makan, dan kebutuhan sehari-hari membuat banyak orang bertahan, terutama saat belum memiliki tabungan atau pekerjaan pengganti.
- Meski tidak disukai, pekerjaan saat ini masih dapat memberi pengalaman, kemampuan, proyek, dan tanggung jawab baru yang berguna untuk memperkuat CV sebelum mencari langkah berikutnya.
- Keputusan resign tertahan karena pekerjaan baru belum cocok, fasilitas seperti asuransi dan tunjangan masih bernilai, serta penghasilan turut menopang kebutuhan keluarga atau orang terdekat.
Resign mungkin sempat terpikir oleh kamu, bahkan mungkin sudah beberapa kali mencari tempat kerja baru. Namun, ada saja yang membuat keputusan itu kembali ditunda. Sebenarnya, apa yang masih dicari ketika seseorang memilih bertahan di pekerjaan yang gak disukai?
1. Kamu masih butuh gaji setiap bulan

ilustrasi gaji (pexels.com/Defrino Maasy) Kamu mungkin sudah bosan mengerjakan pekerjaan yang sama setiap hari. Namun, ada kebutuhan yang tetap harus dipenuhi tak hanya setiap bulan, tetapi juga setiap hari. Cicilan yang harus dibayar, tagihan bulanan tetap datang, dan kamu masih perlu makan serta memenuhi kebutuhan lainnya.
Berhenti bekerja berarti harus siap kehilangan pemasukan yang selama ini membantu membiayai semua kebutuhan tersebut. Kalau belum punya pekerjaan pengganti atau tabungan yang cukup, bertahan di tempat yang sekarang mungkin masih terasa lebih masuk akal. Setidaknya, setiap bulan masih ada gaji yang bisa diandalkan.
2. Pengalaman ini masih berguna untuk langkah berikutnya

ilustrasi CV (pexels.com/Lukas) Pekerjaan yang sekarang mungkin bukan pekerjaan yang ingin kamu jalani selamanya. Namun, ada pengalaman yang bisa kamu bawa ketika nanti mencari tempat baru. Apalagi kalau kamu masih beberapa tahun bekerja dan ingin menambah kemampuan atau memperkuat isi CV.
Rasa benci belum tentu membuat kamu ingin pergi secepatnya. Kamu mungkin masih ingin menyelesaikan proyek tertentu, mencoba tanggung jawab baru, atau belajar hal yang belum pernah kamu kerjakan sebelumnya. Setelah merasa cukup dengan pengalaman yang didapat, keputusan untuk resign bisa terasa lebih mudah.
3. Pekerjaan baru belum kunjung datang

ilustrasi melamar pekerjaan (pexels.com/Resume Genius) Mencari pekerjaan baru juga gak selalu berjalan sesuai rencana. Kamu bisa saja sudah mengirim CV ke banyak perusahaan, tetapi belum ada yang memberikan tawaran. Ada pula lowongan yang menarik, tetapi gajinya lebih kecil, lokasinya terlalu jauh, atau pekerjaannya ternyata gak sesuai dengan yang kamu cari.
Selama belum menemukan tempat yang pas, pekerjaan sekarang akhirnya masih dijalani. Kamu mungkin sudah gak betah, tetapi setidaknya sudah tahu pekerjaan apa yang harus dilakukan dan berapa penghasilan yang akan diterima setiap bulan. Daripada berhenti tanpa persiapan, bertahan sementara waktu bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
4. Ada fasilitas yang masih sayang untuk dilepas

ilustrasi asuransi (vecteezy.com/pichai pipatkuldilok) Pekerjaan gak cuma soal gaji yang masuk setiap bulan. Asuransi, bonus, tunjangan, cuti, atau fasilitas kantor tertentu juga bisa menjadi alasan untuk berpikir dua kali sebelum pergi. Apalagi kalau semua keuntungan tersebut sudah kamu dapatkan setelah cukup lama bekerja di sana.
Pekerjaan baru dengan gaji lebih besar pun belum tentu memberikan keuntungan yang sama. Bisa saja gajinya naik, tetapi gak ada asuransi atau bonus yang selama ini kamu dapatkan. Selama belum menemukan tawaran yang benar-benar sepadan, pekerjaan sekarang masih punya sesuatu yang membuat kamu bertahan.
5. Ada orang lain yang ikut bergantung pada pekerjaanmu

ilustrasi orangtua (unsplash.com/Age Cymru) Keputusan untuk berhenti kerja kadang gak cuma menyangkut diri sendiri. Ada orangtua yang masih kamu bantu, pasangan yang berbagi kebutuhan rumah, atau anggota keluarga lain yang ikut terbantu dari penghasilanmu. Karena itu, rasa gak suka pada pekerjaan belum tentu cukup kuat untuk membuat kamu benar-benar pergi.
Kamu mungkin sering membayangkan betapa leganya kalau gak perlu lagi mengerjakan pekerjaan tersebut. Namun, setelah mengingat kebutuhan orang lain yang selama ini ikut terbantu, keputusan untuk resign kembali ditahan. Pekerjaan itu memang gak lagi kamu sukai, tetapi penghasilan yang datang setiap bulan masih punya arti untuk kehidupan di luar kantor.
Bertahan di pekerjaan yang gak disukai memang bisa membuat hari-hari terasa lebih berat, apalagi kalau perasaan itu sudah berlangsung cukup lama. Namun, gak semua orang punya kesempatan untuk langsung meninggalkan pekerjaan begitu saja. Mungkin kamu juga sedang berada di posisi tersebut. Lalu, apa yang membuatmu masih memilih bertahan sampai sekarang?






















