Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bimbang Resign? Coba 5 Prompt AI Ini Sebelum Memutuskan
Ilustrasi women stress (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • AI dapat membantu mengurai alasan ingin resign melalui pertanyaan reflektif tentang beban kerja, gaji, relasi, karier, work-life balance, dan kondisi pekerjaan tanpa langsung memberi keputusan.
  • Pengguna dapat membandingkan skenario bertahan atau resign selama enam bulan, termasuk keuntungan, kerugian, risiko, persiapan, serta opsi perbaikan masalah yang masih bisa dikendalikan dalam 30 hari.
  • Sebelum resign tanpa pekerjaan pengganti, AI dapat mensimulasikan ketahanan finansial 3, 6, dan 9 bulan serta memproyeksikan konsekuensi hidup, karier, peluang, dan risiko enam bulan mendatang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keputusan untuk resign jarang sesederhana “sudah gak betah, jadi keluar saja”. Ada pemasukan bulanan, kebutuhan hidup, jenjang karier, sampai peluang mendapat pekerjaan baru yang perlu ikut dipertimbangkan.

Saat terlalu banyak hal memenuhi kepala, AI dapat digunakan untuk membantu menyusunnya satu per satu. Berikut lima prompt yang bisa kamu gunakan sebelum membuat keputusan untuk resign atau tetap bertahan!

1. Minta AI membantu mencari tahu alasan sebenarnya ingin resign

ilustrasi resign (unsplash.com/Getty Images)

Sebelum memikirkan pekerjaan baru, coba cari tahu terlebih dahulu apa yang membuatmu ingin pergi. Ceritakan kondisimu kepada AI, lalu minta AI mengajukan pertanyaan lanjutan satu per satu. Cara ini dapat membantu memisahkan masalah yang masih mungkin diperbaiki dengan alasan yang memang membuatmu perlu mempertimbangkan pindah pekerjaan.

Berikut prompt yang bisa digunakan:

“Aku sedang mempertimbangkan resign dari pekerjaanku. Bantu aku mencari tahu alasan utama di balik keinginan tersebut. Ajukan 10 pertanyaan reflektif satu per satu tentang beban kerja, gaji, hubungan dengan atasan dan rekan kerja, perkembangan karier, work-life balance, serta kondisi pekerjaanku. Setelah aku menjawab semuanya, rangkum faktor yang paling banyak memengaruhi keinginanku untuk resign. Jangan langsung menyarankan resign atau bertahan.”

2. Buat perbandingan realistis antara bertahan dan resign

Ilustrasi stress tabungan tipis (pexels.com/Anna Tarazevich)

Ketika sudah lelah dengan pekerjaan, sisi negatif kantor bisa terasa jauh lebih besar daripada sisi positifnya. AI dapat membantu membuat pertimbangan lebih terstruktur dengan membandingkan dua skenario: tetap bekerja atau resign. Minta AI menampilkan keuntungan, kerugian, dan risiko dari masing-masing pilihan. Hasilnya bisa menjadi bahan tambahan sebelum kamu mengambil keputusan.

Berikut prompt yang bisa digunakan:

“Bantu aku membandingkan keputusan bertahan di pekerjaan sekarang dan resign. Kondisiku: [jelaskan gaji, masalah di tempat kerja, hal yang masih disukai, tabungan, peluang kerja lain, tanggungan, dan tujuan karier]. Buat dua skenario untuk enam bulan ke depan jika aku bertahan dan jika aku resign. Jelaskan keuntungan, kerugian, risiko, dan hal yang perlu kupersiapkan dari masing-masing pilihan. Jangan mengambil keputusan untukku.”

3. Cek apakah masalahnya perlu resign atau masih bisa diperbaiki

Seorang remaja memgang handphone yg sedang duduk di tangga terlihat stress

Ada masalah kerja yang mungkin membaik tanpa harus resign. Kamu bisa menceritakan masalah secara spesifik kepada AI dan sebutkan langkah yang sudah pernah dilakukan untuk mengatasinya. Dari sana, kamu bisa mendapatkan beberapa alternatif tindakan yang mungkin belum terpikirkan.

Berikut prompt yang bisa digunakan:

“Aku ingin resign karena [jelaskan masalah]. Selama ini aku sudah mencoba [jelaskan langkah yang pernah dilakukan]. Sebelum aku memutuskan resign, bantu identifikasi bagian dari masalah ini yang masih berada dalam kendaliku dan yang sulit kuubah. Berikan beberapa opsi realistis yang bisa dicoba selama 30 hari ke depan, lalu jelaskan indikator yang bisa kugunakan untuk menilai apakah situasinya membaik.”

4. Hitung kesiapan finansial sebelum benar-benar resign

Ilustrasi transaksi bisnis teknologi finansial modern. (pexels.com)

Kalau misal kamu resign padahal belum ada pekerjaan baru, kondisi finansial juga harus dipertimbangkan. Kamu bisa minta AI membuat simulasi sederhana mengenai berapa lama dana yang dimiliki dapat memenuhi kebutuhan

Berikut prompt yang bisa digunakan:

“Aku mempertimbangkan resign tanpa pekerjaan pengganti. Tabunganku Rp[jumlah], pengeluaran wajib per bulan Rp[jumlah], cicilan Rp[jumlah], dan pengeluaran fleksibel rata-rata Rp[jumlah]. Buat simulasi kondisi keuanganku untuk 3, 6, dan 9 bulan setelah resign. Pisahkan kebutuhan wajib dan pengeluaran yang masih bisa dikurangi. Hitung juga berapa dana darurat minimum yang sebaiknya tetap tersisa dan tunjukkan asumsi yang kamu gunakan.”

5. Bayangkan keputusanmu enam bulan dari sekarang

Ilustrasi minum disaat jeda kerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Coba gunakan AI untuk melakukan future projection. Minta AI membuat dua gambaran realistis mengenai kehidupanmu enam bulan kemudian, satu ketika memilih bertahan dan satu lagi ketika memilih resign. Setelah membaca keduanya, perhatikan konsekuensi mana yang terasa lebih bisa kamu terima.

Berikut prompt yang bisa digunakan:

“Berdasarkan kondisi yang aku ceritakan berikut: [jelaskan situasi secara lengkap], buat dua skenario realistis tentang kehidupanku enam bulan dari sekarang. Skenario A jika aku tetap bekerja di perusahaan ini dan skenario B jika aku memutuskan resign. Untuk masing-masing skenario, bahas kondisi finansial, perkembangan karier, rutinitas sehari-hari, peluang, dan risiko yang mungkin muncul. Hindari membuat asumsi yang tidak didukung informasiku dan tandai bagian yang masih tidak pasti.”

Berikut prompt AI yang bisa kamu gunakan. Semoga membantumu menentukan keputusan terbaik!

Curated For You

Editorial Team

Related Article