Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Budaya Senioritas di Tempat Kerja, Begini Cara Menyikapinya
ilustrasi seorang wanita yang bekerja di kantor (pexels.com/Alena Darmel)
  • Budaya senioritas di tempat kerja bisa berdampak positif jika digunakan untuk membimbing, namun dapat menjadi masalah bila berubah menjadi perlakuan tidak adil terhadap karyawan baru.
  • Karyawan baru disarankan memahami konteks situasi, menjaga profesionalitas saat menghadapi tekanan, serta berani bertanya agar proses adaptasi berjalan lancar dan hubungan kerja tetap sehat.
  • Jika perlakuan senior sudah berlebihan atau merendahkan, penting menetapkan batas secara profesional dan melapor ke pihak berwenang sambil tetap fokus pada tujuan karier jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya sering membawa campuran rasa antusias dan gugup. Banyak fresh graduate membayangkan lingkungan kerja yang suportif dan penuh kesempatan belajar. Namun pada kenyataannya, justru menemukan budaya senioritas sejak hari-hari pertama bekerja.

Ada senior yang menggunakan pengalaman mereka untuk membimbing dan membantu karyawan baru berkembang. Masalahnya muncul ketika senioritas berubah menjadi perlakuan yang membuat seseorang merasa diremehkan, terlalu ditekan, atau diperlakukan tidak adil. Jika mengalaminya, berikut beberapa cara menyikapinya tanpa membuat situasi semakin rumit.

1. Pahami dulu situasinya dengan jelas

ilustrasi seorang senior memberi arahan kepada rekan kerja (unsplash.com/Lyubomyr Reverchuk)

Sebelum langsung menyimpulkan bahwa sedang menjadi korban senioritas, coba pahami situasi yang terjadi. Ada kemungkinan seorang senior bersikap tegas karena standar kerja perusahaan memang tinggi atau karena mereka sedang mengajarkan ritme kerja yang harus diikuti.

Di awal bekerja, perbedaan cara komunikasi juga sering memicu salah paham. Teguran yang terdengar keras belum tentu memiliki tujuan menjatuhkan. Dengan memahami konteksnya lebih dulu, seseorang dapat membedakan mana proses belajar yang wajar dan mana perlakuan yang memang berlebihan.

2. Tetap profesional meski emosi sedang naik

ilustrasi seroang wanita yang bekerja menggunakan laptop (unsplash.com/Brooke Cagle)

Mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan memang bisa memancing rasa kesal atau kecewa. Namun, membalas dengan nada tinggi atau menunjukkan sikap defensif sering kali justru memperburuk keadaan dan membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman.

Cobalah tetap fokus pada pekerjaan dan respons dengan tenang. Sikap profesional menunjukkan bahwa seseorang mampu mengendalikan diri dalam situasi yang menantang. Di dunia kerja, kemampuan mengelola emosi sering kali sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

3. Jangan takut bertanya dan belajar

ilustrasi rekan kerja yang melakukan diskusi (pexels.com/Yan Krukau)

Sebagian karyawan baru memilih diam karena takut dianggap tidak mampu. Padahal, sikap terlalu diam justru bisa membuat proses adaptasi menjadi lebih sulit dan menimbulkan kesalahpahaman dengan rekan kerja.

Bertanya ketika ada hal yang belum dipahami bukan tanda kurang pintar. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan keinginan untuk belajar dan berkembang. Senior yang awalnya terlihat kaku juga terkadang lebih terbuka ketika melihat adanya inisiatif dari karyawan baru.

4. Bangun hubungan yang sehat dengan rekan kerja

ilustrasi membangun relasi dengan tim di kantor (unsplash.com/Jud Mackrill)

Lingkungan kerja akan terasa lebih ringan ketika memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar. Tidak perlu memaksakan diri menjadi dekat dengan semua orang, tetapi cobalah membangun komunikasi yang nyaman dan profesional.

Relasi yang baik dapat membantu seseorang memperoleh dukungan saat menghadapi situasi sulit. Selain itu, memiliki jaringan yang sehat di kantor juga membantu proses adaptasi menjadi lebih cepat dan membuat suasana kerja terasa lebih nyaman.

5. Tetapkan batas jika perlakuannya sudah berlebihan

ilustrasi rekan kerja yang sedang berdiskusi (unsplash.com/ Brooke Cagle)

Ada perbedaan antara arahan kerja dan perlakuan yang mengarah pada tindakan tidak sehat. Jika seseorang mulai menerima hinaan, dipermalukan di depan banyak orang, atau terus-menerus diperlakukan tidak adil, situasinya tidak lagi bisa dianggap normal.

Dalam kondisi seperti ini, penting untuk menyampaikan keberatan secara profesional. Jika situasi tidak berubah, jangan ragu mencari bantuan kepada atasan atau pihak HR sesuai prosedur yang berlaku di perusahaan.

6. Fokus pada tujuan jangka panjang

ilustrasi pekerja kantoran yang sedang bekerja (pexels.com/cottonbro studio)

Pengalaman kurang menyenangkan di awal karier sering membuat seseorang ingin menyerah atau langsung berpikir untuk resign. Padahal, masa adaptasi kerja memang bisa terasa seperti menaiki tangga yang anak tangganya kadang muncul mendadak.

Coba arahkan perhatian pada tujuan yang lebih besar, seperti pengalaman, pengembangan kemampuan, dan proses membangun karier. Tidak semua situasi nyaman, tetapi setiap pengalaman dapat menjadi bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya dengan lebih matang.

Di awal karier, menghadapi budaya senioritas bisa terasa seperti masuk ke ruangan baru tanpa peta. Ada aturan yang belum dipahami, cara komunikasi yang berbeda, dan situasi yang terkadang membuat bingung.

Meski begitu, bukan berarti semuanya harus dihadapi dengan konflik atau drama. Dengan memahami situasi, menjaga sikap profesional, dan mengetahui batasan yang sehat, proses adaptasi bisa berjalan lebih baik. Jadi, jangan sampai pengalaman kurang menyenangkan membuat rasa percaya diri ikut mengecil. Semangat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article