Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Bijak Menyikapi Atasan Pilih Kasih Tanpa Bikin Konflik
ilustrasi atasan yang pilih kasih (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Jangan langsung menilai atasan pilih kasih; amati pola pemberian kesempatan dan pertimbangkan pengalaman atau kompetensi rekan yang mungkin relevan dengan proyek tertentu.
  • Tetap fokus pada kualitas tanggung jawab tanpa mengejar perhatian atasan, lalu sampaikan minat terhadap proyek secara profesional berdasarkan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki.
  • Hindari menjadikan rekan kerja musuh; jika pembagian kesempatan terasa merugikan, simpan catatan kontribusi dan gunakan data untuk membicarakan perkembangan kerja dengan atasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rasanya memang kurang menyenangkan ketika kamu melihat ada rekan kerja yang selalu mendapat perlakuan berbeda dari atasan. Kamu mungkin sudah berusaha mengerjakan tugas dengan baik, tetapi tetap saja ada momen ketika orang lain lebih dulu mendapat kesempatan, lebih mudah dimaklumi, atau lebih sering diajak terlibat dalam pekerjaan tertentu.

Situasi seperti ini gampang bikin kesal, apalagi kalau kamu mulai membandingkan perlakuan yang kamu terima dengan apa yang didapat rekan kerja tersebut. Sebelum rasa kesal itu berubah menjadi masalah baru di kantor, cara bijak menyikapi atasan pilih kasih tanpa bikin konflik berikut ini bisa dilakukan.

1. Jangan langsung menuduh atasan pilih kasih

ilustrasi menuduh (pexels.com/AI25.Studio Studio )

Melihat atasan lebih sering mengajak satu orang dalam proyek tertentu memang bisa bikin kamu merasa dianaktirikan. Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua perlakuan berbeda itu pasti karena atasan punya karyawan kesayangan. Bisa saja ada alasan lain yang belum kamu ketahui, misalnya rekan tersebut memang sudah pernah mengerjakan proyek serupa atau memiliki pengalaman yang sedang dibutuhkan.

Karena itu, perhatikan kejadiannya beberapa kali sebelum mengambil kesimpulan. Lihat apakah orang yang sama terus mendapat kesempatan meskipun kemampuan atau pengalamannya gak jauh berbeda dengan anggota tim lain. Cara ini membuat kamu punya gambaran yang lebih jelas dan gak sekadar bereaksi karena kesal setelah melihat satu kejadian.

2. Tetap kerjakan bagianmu dengan baik tanpa sibuk mengejar perhatian atasan

ilustrasi kerja (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Ketika merasa gak diperhatikan, kamu mungkin tergoda untuk bekerja lebih keras hanya supaya atasan akhirnya melihat kemampuanmu. Masalahnya, kalau semua pekerjaan dilakukan demi mendapatkan pengakuan dari satu orang, kamu justru bisa cepat lelah dan kecewa ketika hasilnya gak sesuai harapan. Kerjakan tanggung jawabmu dengan baik, tetapi jangan sampai setiap tugas berubah menjadi ajang pembuktian diri.

Kamu juga gak perlu ikut-ikutan mencari perhatian dengan cara yang membuat rekan kerja lain merasa tersaingi. Misalnya, terus menawarkan diri untuk pekerjaan yang sedang dibicarakan hanya karena takut kesempatan itu jatuh ke orang lain. Lebih baik tunjukkan kemampuan lewat hasil kerja yang memang bisa dilihat dan dipertanggungjawabkan.

3. Sampaikan keinginanmu untuk mendapat kesempatan yang lebih besar

ilustrasi rapat (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kalau selama ini kamu jarang mendapat proyek tertentu, gak ada salahnya menyampaikan keinginan tersebut kepada atasan secara langsung. Bicarakan dari sisi pekerjaan, bukan dengan membawa nama rekan kerja yang selama ini dianggap sebagai anak emas. Misalnya, kamu bisa mengatakan bahwa kamu tertarik menangani proyek dengan klien tertentu karena sebelumnya sudah punya pengalaman di bidang tersebut.

Cara bicara seperti ini jauh lebih aman daripada mengatakan, “Kenapa dia terus yang dikasih proyek?” Atasan mungkin saja gak sadar bahwa kamu memang ingin mendapat kesempatan tersebut. Dengan menyampaikan minat secara jelas, setidaknya kamu sudah memberi tahu bahwa kamu siap ketika ada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu.

4. Jangan menjadikan rekan kerja sebagai musuh

ilustrasi gosip (pexels.com/Felicity Tai)

Perlakuan khusus dari atasan memang bisa membuat hubungan dengan rekan kerja yang bersangkutan ikut terasa gak nyaman. Apalagi kalau namanya terus muncul dalam proyek bagus, sementara kamu merasa kesempatanmu semakin sedikit. Namun, orang tersebut belum tentu menjadi penyebab keputusan atasan dan belum tentu pula bisa mengatur siapa yang mendapat pekerjaan.

Tetap jaga komunikasi seperlunya dan jangan membawa rasa kesal ke dalam pekerjaan bersama. Kalau memang ada hal yang bisa kamu pelajari dari cara dia bekerja, ambil bagian tersebut tanpa harus menjadikannya saingan. Dengan begitu, masalah antara kamu dan atasan gak melebar menjadi konflik dengan satu tim.

5. Simpan catatan pekerjaan kalau perlakuannya sudah mulai merugikan

ilustrasi kerja (unsplash.com/SumUp)

Kalau kamu merasa pembagian pekerjaan semakin gak masuk akal, mulai simpan catatan tentang tugas yang kamu kerjakan, proyek yang pernah kamu tangani, serta hasil yang sudah kamu capai. Catatan ini bukan untuk mengumpulkan kesalahan atasan, melainkan supaya kamu punya gambaran yang jelas tentang kontribusimu selama bekerja. Data seperti ini juga akan berguna ketika suatu saat kamu perlu membicarakan perkembangan pekerjaan atau pembagian kesempatan dengan atasan.

Misalnya, kamu sudah beberapa kali mengajukan diri untuk proyek tertentu, tetapi selalu dilewati tanpa penjelasan. Daripada hanya mengatakan bahwa kamu merasa diperlakukan berbeda, kamu bisa menunjukkan pekerjaan yang pernah kamu selesaikan dan alasan mengapa kamu merasa siap mengambil tanggung jawab tersebut. Pembicaraan pun lebih mudah diarahkan ke pekerjaan dan kesempatan yang kamu inginkan, bukan berubah menjadi pertengkaran soal siapa yang lebih disukai atasan.

Kalau atasan memang punya orang yang lebih sering diajak bekerja sama, kamu gak harus ikut bermain dalam lingkaran persaingan untuk mendapatkan perhatian tersebut. Terpenting, kamu punya cara bijak menyikapi atasan pilih kasih tanpa bikin konflik, seperti mengerti apa yang sudah kamu kerjakan, kemampuan apa yang ingin kamu kembangkan, dan kesempatan seperti apa yang memang ingin kamu dapatkan. Dengan begitu, perlakuan orang lain di kantor gak sepenuhnya menentukan bagaimana kamu melihat dirimu sendiri sebagai pekerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article