ilustrasi kerja (unsplash.com/SumUp)
Kalau kamu merasa pembagian pekerjaan semakin gak masuk akal, mulai simpan catatan tentang tugas yang kamu kerjakan, proyek yang pernah kamu tangani, serta hasil yang sudah kamu capai. Catatan ini bukan untuk mengumpulkan kesalahan atasan, melainkan supaya kamu punya gambaran yang jelas tentang kontribusimu selama bekerja. Data seperti ini juga akan berguna ketika suatu saat kamu perlu membicarakan perkembangan pekerjaan atau pembagian kesempatan dengan atasan.
Misalnya, kamu sudah beberapa kali mengajukan diri untuk proyek tertentu, tetapi selalu dilewati tanpa penjelasan. Daripada hanya mengatakan bahwa kamu merasa diperlakukan berbeda, kamu bisa menunjukkan pekerjaan yang pernah kamu selesaikan dan alasan mengapa kamu merasa siap mengambil tanggung jawab tersebut. Pembicaraan pun lebih mudah diarahkan ke pekerjaan dan kesempatan yang kamu inginkan, bukan berubah menjadi pertengkaran soal siapa yang lebih disukai atasan.
Kalau atasan memang punya orang yang lebih sering diajak bekerja sama, kamu gak harus ikut bermain dalam lingkaran persaingan untuk mendapatkan perhatian tersebut. Terpenting, kamu punya cara bijak menyikapi atasan pilih kasih tanpa bikin konflik, seperti mengerti apa yang sudah kamu kerjakan, kemampuan apa yang ingin kamu kembangkan, dan kesempatan seperti apa yang memang ingin kamu dapatkan. Dengan begitu, perlakuan orang lain di kantor gak sepenuhnya menentukan bagaimana kamu melihat dirimu sendiri sebagai pekerja.