Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menyikapi Teguran Atasan agar Mental Tetap Aman
ilustrasi ditegur atasan (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Pisahkan teguran atas hasil kerja dari harga diri agar kritik spesifik tidak berubah menjadi penilaian bahwa kamu tidak kompeten.
  • Tahan respons defensif, pahami inti masalah, lalu sampaikan konteks secara runtut; fokuslah pada bagian pekerjaan yang jelas perlu diperbaiki.
  • Konfirmasi prioritas, tenggat, dan standar setelah ditegur, lalu evaluasi pola kesalahan berulang untuk mencegahnya tanpa menghukum diri sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Teguran atasan bisa terasa lebih tajam ketika kamu sudah berusaha keras, tetapi hasilnya masih dianggap kurang. Satu komentar soal pekerjaan bisa terbawa sampai perjalanan pulang dan membuat pikiran terus mengulang kesalahan. Menjaga mental kerja berarti tahu cara menerima kritik tanpa ikut merendahkan diri sendiri.

Di dunia kerja, kritik memang gak selalu datang dengan kalimat yang enak didengar. Yang perlu dijaga juga adalah cara kamu memprosesnya setelah percakapan selesai. Berikut ini lima cara menyikapi teguran atasan agar mental tetap aman dan senantiasa profesional.

1. Pisahkan teguran dari harga dirimu

ilustrasi berbicara dengan atasan (magnific.com/artursafronovvvv)

Ketika atasan menunjuk kesalahan dalam laporan, fokus perhatian sering langsung bergeser dari pekerjaan ke diri sendiri. Teguran soal satu angka yang keliru bisa terasa seperti penilaian bahwa kamu ceroboh atau gak kompeten. Yang dikoreksi adalah hasil kerja tertentu, bukan seluruh kualitas dirimu.

Pemisahan ini penting karena kritik spesifik mudah berubah menjadi kesimpulan yang jauh lebih besar. Kamu bisa mengakui, “Bagian ini memang salah,” tanpa harus menambahkan, “Berarti aku memang gak becus.” Kritik tetap berguna tanpa menggerus rasa percaya diri.

2. Jangan buru-buru membela diri

ilustrasi mendengarkan atasan (pexels.com/Los Muertos Crew)

Respons pertama saat ditegur biasanya adalah ingin menjelaskan alasan, kondisi, atau siapa yang ikut terlibat. Penjelasan itu mungkin benar, tetapi menyampaikannya terlalu cepat bisa membuat kamu terdengar sedang mencari pembenaran. Beri jeda sebentar agar kamu memahami inti masalah sebelum menjelaskan konteksnya.

Jeda bukan tanda kamu lemah atau kalah dalam percakapan. Kemampuan menahan respons spontan menunjukkan kontrol emosi dalam dunia kerja. Setelah situasinya tenang, kamu bisa menjelaskan fakta dengan lebih runtut.

3. Cari bagian yang bisa diperbaiki

ilustrasi berdiskusi dengan atasan (pexels.com/Los Muertos Crew)

Gak semua teguran harus kamu telan sebagai satu paket, terutama jika cara penyampaiannya terasa kurang nyaman. Ambil bagian yang jelas seperti pekerjaan mana yang bermasalah, standar apa yang belum terpenuhi, dan perubahan apa yang diharapkan. Sisanya, termasuk nada bicara yang membuat hati panas, gak perlu kamu bawa pulang.

Ini membantu kamu mengubah teguran dari pengalaman yang menyakitkan menjadi informasi kerja. Kritik gak harus disukai untuk bisa dimanfaatkan. Fokus pada hal yang bisa diperbaiki membuat energimu gak habis untuk menebak maksud atasan.

4. Konfirmasi ekspektasi setelah ditegur

ilustrasi berdiskusi dengan atasan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Pernah selesai ditegur, lalu beberapa jam kemudian masih bingung sebenarnya atasan ingin kamu melakukan apa? Situasi ini melelahkan karena kamu membawa rasa gak enak sekaligus ketidakjelasan. Daripada terus menebak, pastikan ekspektasinya lewat pertanyaan yang spesifik.

Kamu bisa menanyakan prioritas revisi, tenggat, atau contoh hasil yang dianggap sesuai. Pertanyaan ini membuat kamu terlihat sebagai profesional yang ingin memperbaiki pekerjaan. Dengan begitu, mental kerja lebih aman karena kamu punya arah yang jelas.

5. Evaluasi pola, bukan satu kejadian

ilustrasi perempuan melakukan evaluasi (magnific.com/magnific)

Satu teguran belum tentu menunjukkan bahwa kamu punya masalah besar dalam bekerja. Namun, kalau jenis kesalahan yang sama terus muncul, mungkin ada pola yang perlu diperhatikan. Salah satu cara menyikapi teguran atasan agar mental tetap aman adalah mampu membedakan antara kritik sesaat dan masukan berulang karena keduanya butuh respons berbeda.

Kamu gak perlu menghukum diri setiap kali salah, tetapi juga gak perlu menutup telinga dari pola. Catat kesalahan yang berulang dan cari cara kerja yang bisa mencegahnya terjadi lagi. Sikap ini membuat teguran atasan menjadi bahan evaluasi, bukan luka yang terus dipelihara.

Teguran atasan memang bisa bikin hati gak nyaman, tetapi kamu gak harus menjadikannya ukuran nilai dirimu. Profesionalisme terlihat dari kemampuan menerima hal yang perlu diperbaiki sekaligus menjaga batas agar kritik gak berubah menjadi serangan terhadap diri sendiri. Berkembang berarti tahu bagaimana pulih, belajar, lalu bekerja lagi dengan kepala lebih tenang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article