Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal yang Sulit Dibiarkan Berantakan oleh Orang Perfeksionis

5 Hal yang Sulit Dibiarkan Berantakan oleh Orang Perfeksionis
perempuan serius bekerja (pexels.com/Los Muertos Crew)
  • Orang perfeksionis cenderung sulit mengabaikan file dan folder digital yang acak, karena penamaan serta penyimpanan teratur memudahkan pencarian dokumen.
  • Meja kerja penuh barang dan ruangan yang berubah berantakan dapat mengganggu fokus, sehingga mereka terdorong segera mengembalikan barang ke tempatnya.
  • Jadwal tak jelas dan detail pekerjaan yang belum rapi memicu kebutuhan untuk mengatur atau merevisi, meski mengejar kesempurnaan berlebihan dapat menguras energi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa tangan gatal ingin segera membereskan sesuatu yang terlihat tidak pada tempatnya? Meski bagi orang lain bukan masalah besar, sedikit ketidakteraturan bisa terasa mengganggu bagi orang perfeksionis. Rasanya sulit benar-benar tenang sebelum semuanya kembali tertata.

Menariknya, hal yang dianggap berantakan ternyata tidak selalu berupa barang yang berserakan. Jadwal, pekerjaan, hingga file di laptop pun bisa memunculkan keinginan serupa untuk segera merapikannya. Yuk, cari tahu lima hal yang biasanya sulit dibiarkan berantakan oleh orang perfeksionis!

  1. 1. File dan folder yang tidak tertata

    ilustrasi perempuan menatap layar laptop (pexels.com/Anna Shvets)
    ilustrasi perempuan menatap layar laptop (pexels.com/Anna Shvets)

    Kekacauan ternyata tidak hanya bisa ditemukan di atas meja, tetapi juga di layar laptop. File dengan nama asal-asalan, dokumen bercampur dalam satu folder, atau desktop yang penuh bisa membuat orang perfeksionis ingin segera melakukan beres-beres digital. Mereka biasanya lebih nyaman ketika setiap berkas memiliki nama dan tempat penyimpanan yang jelas.

    Kebiasaan tersebut juga membuat mereka lebih mudah menemukan dokumen ketika dibutuhkan kembali. Tidak perlu membuka satu per satu file hanya untuk mencari berkas yang dibuat beberapa bulan lalu. Bagi mereka, folder yang tertata bisa memberikan kepuasan kecil karena semuanya terasa berada di tempat yang semestinya.

  2. 2. Meja kerja yang penuh barang berserakan

    ilustrasi membersihkan meja (magnific.com/magnific)
    ilustrasi membersihkan meja (magnific.com/magnific)

    Niatnya ingin langsung bekerja, tetapi mata malah sibuk memperhatikan gelas kosong, kertas bertumpuk, atau alat tulis yang berserakan. Bagi orang perfeksionis, meja yang tidak rapi terkadang membuat konsentrasi ikut terpecah. Akhirnya, beberapa menit pertama justru dihabiskan untuk mengembalikan barang ke tempatnya.

    Meja yang kembali rapi bisa membuat suasana bekerja terasa lebih nyaman. Mereka tidak lagi terganggu oleh benda-benda yang sejak tadi menarik perhatian. Setelah semuanya terasa teratur, barulah pekerjaan bisa dimulai dengan pikiran yang lebih tenang.

  3. 3. Jadwal yang masih tidak jelas

    ilustrasi perempuan sedang lelah bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
    ilustrasi perempuan sedang lelah bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Tidak semua hal yang terasa berantakan bisa dilihat dengan mata. Punya banyak pekerjaan tetapi belum tahu harus mengerjakan yang mana terlebih dahulu juga dapat membuat orang perfeksionis merasa tidak tenang. Mereka cenderung ingin segera menyusun semuanya agar hari yang akan dijalani memiliki arah yang lebih jelas.

    Karena itu, daftar kegiatan atau jadwal sering menjadi andalan untuk menjaga semuanya tetap terkendali. Mengetahui apa yang harus dikerjakan sekarang dan setelahnya dapat mengurangi rasa kewalahan ketika tugas sedang menumpuk. Meski nantinya rencana bisa berubah, setidaknya mereka sudah memiliki pegangan untuk menjalani hari.

  4. 4. Pekerjaan yang masih memiliki detail kurang rapi

    Ilustrasi wanita lelah bekerja (pexels.com/Anna Shvets)
    Ilustrasi wanita lelah bekerja (pexels.com/Anna Shvets)

    Pekerjaan sebenarnya sudah selesai, tetapi ada satu bagian yang terasa mengganjal ketika dilihat kembali. Bisa berupa tulisan yang tidak sejajar, format yang berbeda, atau detail kecil lain yang mungkin bahkan tidak diperhatikan orang lain. Begitu menyadarinya, orang perfeksionis biasanya sulit menahan keinginan untuk memperbaikinya.

    Ketelitian seperti ini memang bisa membuat hasil pekerjaan menjadi lebih rapi dan matang. Namun, mengejar setiap detail juga dapat membuat pekerjaan yang seharusnya selesai malah terus mengalami revisi. Ada kalanya menerima hasil yang sudah cukup baik justru diperlukan agar energi tidak habis hanya untuk mengejar kesempurnaan.

  5. 5. Ruangan yang tidak kembali seperti semula

    ilustrasi membersihkan rumah (unsplash.com/Josue Michel)
    ilustrasi membersihkan rumah (unsplash.com/Josue Michel)

    Baru saja selesai membereskan kamar, lalu ada pakaian di atas kursi atau barang yang diletakkan sembarangan. Bagi orang perfeksionis, perubahan kecil semacam ini bisa cepat tertangkap mata dan memunculkan keinginan untuk langsung membenahinya. Mereka mungkin merasa sayang melihat ruangan yang tadinya sudah rapi perlahan kembali berantakan.

    Tidak mengherankan jika mereka terbiasa mengembalikan barang segera setelah selesai menggunakannya. Kebiasaan ini memang membantu menjaga ruangan tetap nyaman tanpa perlu melakukan beres-beres besar terlalu sering. Namun, sesekali membiarkan beberapa barang belum berada di tempatnya juga tidak akan membuat seluruh keteraturan yang sudah dijaga menjadi sia-sia.

    Perfeksionisme bisa membuat seseorang lebih peka terhadap hal-hal kecil yang terasa tidak pada tempatnya. Namun, hidup tentu tidak selalu bisa serapi meja yang baru dibereskan atau jadwal yang sudah disusun sejak pagi. Kalau kamu juga sering merasa terganggu melihat sesuatu sedikit berantakan, mungkin sesekali tidak ada salahnya memberi diri sendiri izin untuk berkata, "nanti saja dibereskan."

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More