Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Etika saat Ada Teman Cari Loker pada Usia 30 Tahun ke Atas

4 min read
Etika saat Ada Teman Cari Loker pada Usia 30 Tahun ke Atas
ilustrasi mengobrol (pexels.com/John Diez)
  • Pencarian kerja di usia 30 tahun ke atas bisa dipicu PHK, kebutuhan penghasilan tambahan, atau tanggungan meningkat; hindari mengorek penyebabnya jika tidak dekat.
  • Berikan informasi lowongan yang relevan dengan usia, pengalaman, pendidikan, dan kriteria teman; bila belum ada, sampaikan akan mengabari tanpa memberi harapan palsu.
  • Saat teman bercerita, dengarkan dengan empati, jangan membandingkan keberuntungan karier sendiri, serta hormati haknya menolak lowongan yang tidak sesuai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di usia 30 tahun ke atas, orang sering dibayangkan sekaligus dituntut untuk sudah hidup mapan. Paling tidak, dari segi pekerjaan, ia tak lagi bingung dengan minatnya, apalagi masih sibuk ke sana kemari mencari info loker (lowongan kerja). Dia bukan lagi fresh graduate yang umum memenuhi bursa kerja.

Akan tetapi, jangankan orang berumur 30 tahunan. Orang berusia setengah abad saja masih ada yang harus mencari pekerjaan demi menyambung hidup. Tugas membesarkan anak juga kerap kali belum selesai.

Pun pencarian lowongan kerja tidak hanya disebabkan oleh kehilangan pekerjaan. Temanmu mungkin sudah dan masih tetap bekerja di kantornya. Ia juga tak ada pemikiran untuk resign. Meski begitu, dia tetap butuh pekerjaan sampingan. Jaga etikamu ketika kawan menyampaikan permintaan informasi loker baik secara langsung maupun melalui japri dan grup WhatsApp (WA). Berikut beberapa etika saat ada teman cari loker pada usia 30 tahun ke atas.

  1. 1. Gak usah terlihat kepo soal penyebabnya apabila kalian tidak dekat

    seorang pria
    ilustrasi seorang pria (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳)

    Penyebab orang merasa perlu mencari pekerjaan lagi di umur yang tak lagi terlalu muda sangat bervariasi. Boleh jadi dia korban PHK, pekerjaan aman tapi tanggungan bertambah, atau bukan tanggungannya yang bertambah, melainkan dampak inflasi yang sangat nyata. Sebagian orang sadar harus segera meningkatkan penghasilan.

    Segala cara berhemat sudah tak berhasil dilakukan. Pekerjaan sampingan adalah jalan yang paling masuk akal supaya mereka tidak pusing terus setiap bulan memikirkan keuangan. Namun, ada pula penyebab yang lebih sensitif dan orang malu membicarakannya.

    Misalnya, temanmu terjerat utang pinjol atau judol. Lantaran kamu gak tahu penyebab pastinya dia sampai mencari pekerjaan lagi, mending bersikap seakan-akan tidak terlalu memedulikan bagian itu. Fokus saja pada apakah kamu dapat memberinya info loker atau tidak. Takutnya, keingintahuanmu membuatnya sangat tidak nyaman.

  2. 2. Kasih info loker yang sesuai untuknya, bukan asal-asalan

    menunjukkan loker pada teman
    ilustrasi menunjukkan loker pada teman (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Setiap hari sebenarnya ada info loker. Sebagiannya mungkin diketahui juga olehmu. Apalagi kamu masih berlangganan informasi lowongan kerja yang rutin dikirim via surel. Kadang juga ada informasi perekrutan karyawan di media sosial. Meski begitu, gak semuanya cocok buat kawanmu. Terlebih dengan umurnya yang sudah kepala tiga. Bila kamu asal memberinya info loker dengan syarat umur maksimal 25 tahun maka menjadi sia-sia.

    Teman juga bisa agak sedih dan merasa harapannya menipis. Kalau kamu belum memperoleh informasi lowongan kerja yang secara usia pas buatnya mending bilang nanti akan mengabarinya jika sudah ada. Pengalaman kerja dan latar belakang pendidikannya juga pantas dipertimbangkan. Kecuali, dia bilang mau pekerjaan apa saja. Tidak sesuai dengan pengalaman kerja dan pendidikannya pun tak apa-apa.

  3. 3. Kalau dia menceritakan masalahnya, dengarkan penuh empati

    mengobrol
    ilustrasi mengobrol (pexels.com/Mizuno K)

    Kamu gak tanya apa-apa, teman dapat tiba-tiba menceritakan sendiri alasan dia mencari info loker. Di sini bisa ada banyak kisah tak terduga yang membuatmu sebagai kawan kaget. Misalnya, dia harus menutup utang ke berbagai pihak lantaran gaya hidup pasangannya.

    Walaupun kamu sebenarnya kesal dengan ceritanya, utamakan empati. Pasangannya memang bersalah. Temanmu juga punya andil karena kurang bisa menerapkan batasan keuangan ke suami atau istrinya. Namun, kekesalanmu sama sekali tak akan membantunya.

    Hargai rasa percayanya sampai dia mau bercerita secara terbuka padamu. Lihat juga sisi baiknya, yakni dia berusaha mencari side job. Bukan ia malah asal mengajukan pinjaman padamu.

  4. 4. Jangan ganti menceritakan keberuntunganmu dalam pekerjaan

    mengobrol
    ilustrasi mengobrol (pexels.com/Thirdman)

    Nasibmu dengan orang lain memang tidak sama. Bahkan keberuntunganmu vs kawan bisa seperti bumi dan langit. Ketika dia diuji dalam pekerjaan dan pendapatan, malah kamu lagi memperoleh banyak kemujuran. Contohnya, dirimu naik jabatan atau dapat bonus gede bulan ini.

    Semua itu fakta, tapi tidak tepat untuk diceritakan sekarang. Apalagi kamu menceritakannya di depan teman yang lagi sumpek mencari tambahan penghasilan, bahkan mungkin baru kena layoff. Jangan ubah fokus percakapan ke kehidupanmu. Fokuslah pada persoalannya dan apa yang dapat kamu lakukan untuk membantunya.

  5. 5. Tidak usah kesal kalau dia menolak lowongan kerja darimu

    bercakap-cakap
    ilustrasi bercakap-cakap (pexels.com/Felicity Tai)

    Katanya mencari loker dan butuh pekerjaan sekali, tapi kenapa dia menolak informasi darimu? Kelihatannya memang kontras dan pantas membuatmu merasa kesal. Akan tetapi, sadari bahwa itu tetap haknya.

    Sekalipun menurutmu lowongan kerjanya bagus dan kawan berpotensi diterima, menurutnya mungkin beda. Barangkali dia keberatan dengan penempatannya yang jauh atau bidangnya yang sama persis dengan bidang kerjanya selama ini malah menambah kejenuhannya. Jika kamu masih mau membantunya mencarikan loker, tanyakan kriteria yang diinginkannya.

    Namun, kalau dia memang tipe orang yang terlalu selektif soal pekerjaan sampai menyusahkanmu, kamu tak perlu menjanjikan apa pun padanya. Bila kebetulan ada info loker persis seperti keinginannya, dapat dikirimkan padanya. Jika tak ada, dirimu gak usah merasa terbebani.

    Di usia 30 tahun lebih, tanggung jawab finansial seseorang sedang tinggi-tingginya. Ia sudah lepas sepenuhnya dari sokongan orangtua sekaligus mungkin telah berumah tangga. Pencarian lowongan kerja menjadi sangat mendesak saat dia kena PHK atau harus menambah pendapatan. Jangan membuatnya malu dengan reaksi yang seperti mengejek. Oleh sebab itu, terapkan etika saat ada teman cari loker pada usia 30 tahun ke atas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More