Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sulitnya Capai Work Life Balance saat Biaya Hidup Kian Tinggi

4 min read
Sulitnya Capai Work Life Balance saat Biaya Hidup Kian Tinggi
ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Kenaikan biaya hidup membuat masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, bekerja lebih keras atau mengambil beberapa pekerjaan, sehingga stres datang dari urusan kerja dan tanggungan sehari-hari.
  • Pengurangan jam kerja sulit dilakukan karena penghasilan berisiko tidak cukup memenuhi kebutuhan. Kerja panjang turut mengurangi waktu tidur, menunda makan-minum, dan menyisakan kelelahan berat.
  • Anggaran hiburan sering dipangkas, sementara kebutuhan hari ini dan persiapan masa depan tetap harus dibiayai. Kondisi ekonomi nasional turut memengaruhi peluang masyarakat mencapai keseimbangan hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Work life balance seharusnya memang bukan sekadar bayangan tentang kehidupan yang ideal. Hal tersebut semestinya benar-benar dicapai oleh semua orang, apa pun pekerjaannya. Sebab kehidupan memiliki begitu banyak aspek.

Ketika pekerjaan sudah menyita terlalu banyak waktu serta energi seseorang, maka aspek-aspek lain dalam hidupnya menjadi terbengkalai. Sifat gila kerjanya tidak semata-mata terbentuk oleh kecintaannya terhadap pekerjaan, tetapi juga oleh biaya hidup yang makin memberatkan. Dampaknya bakal sangat serius. Kesehatan fisik dan mental sangat mungkin menurun.

Orang tak dapat lagi menikmati hidupnya. Aslinya semua orang menginginkan hidup dalam keseimbangan antara aktivitas kerja dengan hal-hal lain. Akan tetapi, keinginan sesederhana ini menjadi terasa sangat muluk ketika biaya hidup terus naik. Sulitnya capai work life balance saat biaya hidup kian tinggi inilah yang dirasakan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah. Mengapa hal ini bisa terjadi, ya?

  1. 1. Sumber stres tak hanya dari pekerjaan

    pekerja
    ilustrasi pekerja (pexels.com/YWEN ZHU)

    Pekerjaan memang terkadang bikin stres. Namun, stres karena pekerjaan saja masih cukup mudah diatasi. Setidaknya orang tidak bekerja 24 jam penuh. Ada saatnya ia pulang dan tidur sehingga terbentuk jarak antara dirinya dengan pekerjaan yang membuat stres itu.

    Akan tetapi, saat biaya hidup kian tinggi, stres datang dari segala arah. Orang yang menjalani 2 atau 3 pekerjaan demi mendapatkan lebih banyak penghasilan berarti masalah dalam pekerjaannya pun berlipat. Masih ditambah sumber stres di luar pekerjaan.

    Seperti banyaknya tanggungan, pasangan yang hanya suka memarahinya saat uang belanja gak cukup, dan sebagainya. Persoalan dalam hidupnya bertambah. Pikirannya menjadi terlalu penuh sepanjang waktu.

  2. 2. Bekerja superkeras saja hidup masih susah apalagi mengurangi kerja

    perajin tempe
    ilustrasi perajin tempe (pexels.com/Andaru Firmansyah)

    Siapa yang tidak ingin bekerja sebentar atau secukupnya saja dan bisa hidup makmur? Tentu semua orang mau bekerja benar-benar hanya 7 jam dalam 5 hari per minggu, tapi semua kebutuhan hidup dan keinginan dapat terpenuhi. Bahkan bila waktu kerjanya cuma 4 jam per hari.

    Work life balance akan sangat mudah tercapai bila begini. Realitas sekarang di tanah air sangat jauh dari ini. Orang dapat bekerja dari bangun tidur sampai tidur lagi, tetapi kehidupannya tetap pas-pasan. Ini merupakan tanda anomali dan ketidakberesan.

    Bagaimana mereka dapat merasakan kehidupan yang lebih seimbang jika begitu? Sementara pemangkasan waktu kerja demi mencapai work life balance memiliki konsekuensi serius. Penghasilan tak akan cukup untuk membiayai kebutuhan.

  3. 3. Setelah kerja mati-matian yang tersisa hanya kelelahan

    lelah menunggu pembeli
    ilustrasi lelah menunggu pembeli (pexels.com/Vietnam Hidden Light)

    Masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, tidak punya banyak pilihan setiap kali biaya hidup mengalami kenaikan. Mereka hanya bisa berusaha bekerja lebih keras lagi dari sebelumnya. Mereka tidak dapat mengandalkan pertolongan siapa pun, apalagi dalam jangka panjang.

    Namun, tentu saja bekerja begitu keras membuat mereka dihantam kelelahan yang luar biasa. Jam tidur berkurang karena sebagiannya digunakan untuk terus bekerja. Bahkan kebutuhan paling dasar, yaitu makan dan minum pun amat sering tertunda.

    Work life balance menjadi sebatas kata-kata indah di tengah makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental diri sendiri. Akan tetapi, tidak ada lagi ruang dalam hidup mereka untuk mencicipinya. Saat mereka mau tak mau menyudahi pekerjaan mereka hari itu, seketika itu pula mereka tumbang dalam kelelahan yang nyaris mematikan.

  4. 4. Kemampuan mengakses hiburan menjadi sangat terbatas

    bekerja keras
    ilustrasi bekerja keras (pexels.com/kevin yung)

    Salah satu hal yang harus ada supaya work life balance tercapai ialah akses terhadap berbagai macam hiburan. Bukan hanya hiburan yang dapat dinikmati dari layar televisi atau gadget, melainkan juga wisata dan main ke mana pun. Ada saatnya orang fokus bekerja atau sepenuhnya dalam mode santai menikmati aneka hiburan.

    Sayangnya, saat biaya hidup melonjak, budget hiburan adalah yang paling mungkin dipangkas besar-besaran. Bahkan mereka hendak pergi ke tempat wisata murah dengan tiket masuk 10 ribu rupiah pun terasa sayang. Uang itu dapat digunakan untuk membeli sayuran, tahu, dan tempe.

    Apalagi ketika anggota keluarganya banyak, biaya yang diperlukan untuk piknik dapat setara atau melebihi anggaran token listrik dan air dalam sebulan. Wisata dalam kota yang semestinya dapat dinikmati siapa saja berubah terlalu mewah saat kantong makin cekak. Tanpa hiburan sesekali, pikiran menjadi selalu tegang dan lelah.

  5. 5. Berjuang bertahan hari ini sekaligus menyiapkan masa depan

    lelah bekerja
    ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Thirdman)

    Work life balance tinggal angan-angan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah seiring biaya hidup yang tak bersahabat. Mereka tidak lagi sempat memikirkan diri sendiri. Ada terlalu banyak tanggung jawab yang harus dipikul.

    Perjuangan mereka hari ini saja buat mencukupi kebutuhan yang paling dasar terasa kian berat. Di saat yang sama, mereka tetap perlu menyiapkan berbagai hal di masa depan. Mereka hampir putus asa saking kewalahannya menghadapi inflasi.

    Namun, masih ada setitik asa akan masa depan yang kudu dijaga. Sekalipun harapan itu mesti dihidupkan dengan kerja yang luar biasa kerasnya. Contohnya, persiapan agar bila masanya tiba, anak-anaknya dapat berkuliah tak peduli betapa beratnya kehidupan mereka saat ini.

    Sulitnya capai work life balance saat biaya hidup kian tinggi inilah yang mengakibatkan masyarakat kehabisan energi. Akan tetapi, mewujudkan hidup yang lebih seimbang ternyata juga tak bisa hanya mengandalkan keinginan pribadi. Keadaan ekonomi nasional ikut menentukan apakah masyarakat dapat menikmati work life balance atau tidak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More