Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gaji Tinggi Gak Selalu Worth It kalau Mental Hancur, Setuju?

Gaji Tinggi Gak Selalu Worth It kalau Mental Hancur, Setuju?
Ilustrasi bekerja lembur (unsplash.com/Photo by Tu Chu)
Intinya Sih
  • Gaji tinggi tidak selalu menjamin kebahagiaan karena tekanan kerja dan lingkungan yang buruk dapat merusak kesehatan mental meski kondisi finansial terlihat aman.
  • Lingkungan kerja toxic dan budaya lembur berlebihan bisa memicu burnout, kecemasan, hingga depresi, sebagaimana diakui WHO sebagai fenomena terkait pekerjaan.
  • Keseimbangan hidup dan kerja menjadi kebutuhan penting agar tetap sehat fisik dan mental, sebab jam kerja panjang terbukti meningkatkan risiko penyakit serius.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Banyak orang bermimpi punya pekerjaan dengan gaji tinggi, jabatan keren, dan kehidupan yang terlihat sukses. Namun kenyataannya, tidak semua pekerjaan bergaji besar membawa kebahagiaan yang sebanding. Ada orang yang secara finansial terlihat aman, tetapi setiap hari merasa cemas, kelelahan, sulit tidur, bahkan kehilangan semangat hidup karena lingkungan kerja yang toxic dan tekanan pekerjaan yang tidak sehat.

Belakangan ini, isu tentang work-life balance dan kesehatan mental di tempat kerja semakin sering dibicarakan, terutama oleh generasi muda. Karena itu, muncul pertanyaan: apakah gaji tinggi benar-benar worth it kalau mental hancur?

1. Gaji besar tidak selalu berarti bahagia

Ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Photo by Karola G)
Ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Photo by Karola G)

Selama ini, banyak orang menganggap bahwa semakin tinggi penghasilan, maka semakin bahagia hidupnya. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa uang memang bisa meningkatkan kualitas hidup sampai titik tertentu, tetapi tidak otomatis membuat seseorang merasa sehat secara mental jika hidupnya dipenuhi tekanan terus-menerus.

Dalam penelitian dari Princeton University yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), disebutkan bahwa kesejahteraan emosional memang meningkat seiring naiknya pendapatan. Akan tetapi, faktor lingkungan hidup dan stres kerja tetap punya pengaruh besar terhadap kebahagiaan seseorang.

"Kesimpulan kami adalah pendapatan tinggi memberikan kepuasan hidup, tetapi bukan kebahagiaan," ujar psikolog Daniel Kahneman, dikutip dari jurnal PNAS.

2. Toxic workplace bisa menguras mental secara perlahan

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Borja Verbena)
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Borja Verbena)

Lingkungan kerja toxic tidak selalu terlihat jelas di awal. Kadang, bentuknya berupa budaya lembur berlebihan, atasan yang manipulatif, rekan kerja yang kompetitif secara tidak sehat, atau ekspektasi kerja yang tidak manusiawi. Hal-hal seperti ini perlahan bisa menguras energi mental seseorang tanpa disadari.

Menurut laporan dari World Health Organization (WHO), stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan burnout, kecemasan, hingga depresi. WHO bahkan secara resmi mengakui burnout sebagai fenomena yang berhubungan dengan pekerjaan.

"Burnout adalah sindrom yang dikonseptualisasikan sebagai akibat dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola," tulis WHO dalam penjelasan resminya.

3. Work-life balance bukan kemewahan, tapi kebutuhan

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Khwanchai Phanthong)
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Khwanchai Phanthong)

Dulu, work-life balance sering dianggap sebagai sesuatu yang 'bonus' atau hanya penting bagi orang tertentu. Namun sekarang, semakin banyak ahli kesehatan mental yang menegaskan bahwa keseimbangan hidup dan kerja adalah kebutuhan dasar agar seseorang tetap sehat secara fisik maupun emosional.

Ketika seseorang terus bekerja tanpa waktu istirahat yang cukup, tubuh dan otak akan berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan kelelahan emosional, gangguan tidur, penurunan fokus, hingga masalah kesehatan fisik.

"Jam kerja yang panjang menyebabkan 745.000 kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik pada tahun 2016, peningkatan 29 persen sejak tahun 2000," demikian tertulis dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO).

"Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan risiko stroke atau penyakit jantung. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja perlu bekerja sama untuk menyepakati batasan guna melindungi kesehatan pekerja,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

4. Banyak orang bertahan karena takut kehilangan penghasilan

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

Salah satu alasan banyak orang tetap bertahan di lingkungan kerja yang toxic adalah faktor ekonomi. Tidak sedikit yang merasa harus bertahan demi stabilitas finansial, cicilan, atau tanggung jawab keluarga. Akibatnya, kesehatan mental sering dikorbankan.

Kondisi ini dapat membuat seseorang terjebak dalam siklus stres berkepanjangan. Mereka sadar pekerjaannya merusak mental, tetapi merasa tidak punya pilihan lain. Situasi seperti ini sering menyebabkan kelelahan emosional yang semakin berat dari waktu ke waktu.

5. Produktif tidak harus mengorbankan diri sendiri

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)

Budaya hustle culture sering membuat orang merasa harus terus produktif agar dianggap sukses. Padahal, bekerja tanpa batas bukan tanda hebat, melainkan bisa menjadi tanda seseorang tidak punya ruang untuk memulihkan diri. Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa karyawan yang sehat secara mental justru cenderung lebih produktif dan kreatif dalam jangka panjang.

Lingkungan kerja yang sehat tentu secara psikologis dapat meningkatkan performa kerja, loyalitas karyawan, dan kepuasan hidup secara keseluruhan. Sebaliknya, workplace yang toxic justru bisa menurunkan produktivitas karena karyawan bekerja dalam tekanan dan ketakutan.

6. Pergi bisa sebagai bentuk menyelamatkan diri

Ilustrasi resign (pexels.com/Anna Shvets)
Ilustrasi resign (pexels.com/Anna Shvets)

Tidak semua pekerjaan harus dipertahankan mati-matian, terutama jika dampaknya sudah merusak kesehatan mental dan kehidupan pribadi. Banyak orang merasa bersalah saat ingin resign dari pekerjaan bergaji tinggi, padahal menjaga diri sendiri juga merupakan keputusan yang penting dan valid.

Kesehatan mental yang rusak bisa memengaruhi banyak aspek kehidupan lain, mulai dari hubungan sosial, kesehatan fisik, hingga rasa percaya diri. Karena itu, mengenali batas kemampuan diri menjadi hal yang penting sebelum semuanya terlambat.

 

Punya gaji tinggi memang bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup, memberi rasa aman finansial, dan membuka banyak kesempatan. Namun jika setiap hari harus dibayar dengan stres berlebihan, kecemasan, kelelahan, dan mental yang terkuras, banyak orang mulai mempertanyakan apakah semuanya benar-benar sepadan. Kesuksesan tidak selalu tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa hidup dengan lebih sehat dan tenang.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari

Related Articles

See More