Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kalimat Sales yang Tak Lagi Menarik Konsumen, Ganti Strategi

sales
ilustrasi sales (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳)
Intinya sih...
  • Diskon khusus buat Kakak
  • Besok harga naik
  • Buruan, jangan sampai kehabisan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi sales atau staf penjualan harus pandai menarik konsumen. Kamu bekerja berdasarkan target. Bahkan mungkin gaji pokokmu tidak cukup besar. Potensi pendapatan yang lebih gede hanya jika dirimu mampu menjual lebih banyak produk.

Ini artinya, strategi penjualanmu mesti jitu. Namun, tak sedikit sales yang masih saja menggunakan cara-cara lama buat mempromosikan dagangannya. Kamu jangan sampai gak sadar bahwa konsumen sudah hafal di luar kepala terkait trik staf penjualan sepertimu.

Dirimu mesti lebih kreatif dalam berkomunikasi dengan konsumen potensial. Hindari penggunaan lima kalimat sales yang tak lagi menarik konsumen di bawah ini. Tujuanmu mendorong orang buat bertransaksi, tetapi mereka malah bisa seketika memutuskan tidak membeli produkmu sama sekali.

1. Diskon khusus buat Kakak

diskon
ilustrasi diskon (pexels.com/Gustavo Fring)

Memang masyarakat suka belanja dengan diskon daripada membayar harga penuh. Itu naluri pembeli. Keluar sedikit uang lebih baik daripada dompet menjerit. Kalau mereka masih bisa membeli sesuatu dengan harga murah, kenapa cari harga yang lebih mahal buat produk yang sama?

Namun, sesuka-sukanya calon konsumen dengan potongan harga, caramu mengiming-iminginya malah bisa terasa menggelikan. Kamu bilang ada diskon khusus buat seorang calon konsumen yang tampak tertarik dengan produkmu. Dirimu ingin membuatnya merasa lebih spesial dan sayang untuk melewatkan diskon tersebut.

Akan tetapi, dia tahu bahwa sales mengatakan kalimat yang sama pada hampir semua orang. Rayuanmu tidak akan berhasil. Kecuali, kamu bisa membuktikan memang cuma dia yang memperoleh diskon lebih gede. Calon konsumenmu paham dirinya gak sespesial itu buat produsen dan sales apa pun.

2. Besok harga naik

diskon
ilustrasi diskon (pexels.com/Max Fischer)

Kalimat ini bertujuan agar calon pembeli memutuskan dengan cepat bahkan cenderung terburu-buru. Supaya akal sehat kurang bekerja dengan baik. Terpenting seseorang masih bisa mendapatkan produk yang diinginkan dengan harga sekarang.

Masalahnya, kini kesadaran orang akan bahaya FOMO dan sikap impulsif dalam berbelanja makin tinggi. Saat dirimu bilang agar orang-orang segera membelinya sebelum harga naik, itu justru menyalakan alarm kewaspadaan mereka. Pertama, mereka ingin membuktikan besok harga benar-benar naik atau tidak.

Jika harga naik, mereka bukannya menyesal karena tidak membelinya. Mereka justru bersikap super praktis dengan berpikir bahwa barang itu memang bukan untuk mereka. Sementara bila besok harga masih sama, mereka bersyukur tidak tergoda kata-katamu kemarin.

3. Buruan, jangan sampai kehabisan

sales
ilustrasi sales (pexels.com/Alena Darmel)

Ini kalimat yang paling lucu di telinga masyarakat. Selama barang yang dijual diproduksi secara massal sangat kecil kemungkinan mereka bakal kehabisan dalam waktu singkat. Pabrik dengan begitu banyak karyawan mustahil mendadak tutup dan tak lagi memproduksinya.

Jangankan produk yang keluar dari mesin dalam hitungan detik saja dan siap dipasarkan. Dirimu memakai kalimat yang sama buat produk properti pun tidak serta-merta menggerakkan orang untuk membelinya. Properti jualanmu habis, masih ada properti lainnya buat dibeli.

Seandainya pun kelambanan mereka dalam memutuskan pembelian betul-betul membuat produk habis, ini malah menguntungkan mental mereka. Bukannya mereka menyesal telat membeli malah seperti mendapatkan alasan bagus. Mereka tidak memiliki suatu barang karena stoknya telah habis. Bukan karena duitnya gak ada. Secara keuangan pun selamat sebab uang tak jadi dibelanjakan.

4. Ini terbaik di kelasnya

sales
ilustrasi sales (pexels.com/Gustavo Fring)

Semua sales cenderung mengatakan ini untuk produk yang dijualnya. Baik itu kendaraan, gadget, hingga produk kosmetik. Masyarakat sudah mengerti bahwa klaim sepihak begini tidak untuk ditelan mentah-mentah.

Meski dirimu perlu mengunggulkan produk supaya orang tertarik, lebih baik fokus menjelaskan fitur atau bahan dari produkmu. Gak usah bilang produk tersebut terbaik di kelasnya. Soal itu biar menjadi ranah penilaian konsumen.

Percuma kamu bilang produkmu terbaik di kelasnya apabila banyak konsumen malah mengatakan sebaliknya. Itu dapat muncul dalam ulasan-ulasan mereka tentang produkmu. Jangan kasih klaim berlebihan apalagi dirimu tahu produk kompetitor juga punya berbagai keunggulan.

5. Aku juga pakai, lho

menjelaskan produk
ilustrasi menjelaskan produk (pexels.com/Kindel Media)

Kamu ingin menampilkan diri tidak hanya sebagai staf penjualan yang harus mencapai target. Dirimu mau orang juga mengenalmu sebagai sesama konsumen. Kesamaan status ini diharapkan bikin mereka lebih percaya padamu.

Sayangnya, sebagian orang barangkali sama sekali tidak peduli soal itu. Mau kamu hanya menjualnya atau sekaligus menjadi pengguna produk tak memengaruhi pertimbangan mereka. Dirimu boleh jadi cocok dengan produk tersebut.

Namun, orang lain belum tentu akan cocok juga. Contohnya, produk perawatan wajah. Jenis kulit kalian berbeda. Tujuan perawatan kalian juga lain. Kamu ingin memutihkan kulit wajah, misalnya. Sementara orang lain malah takut dengan produk pemutih kulit. Mereka lebih ingin produk buat mencegah jerawat.

Memang tidak mudah membuat orang sampai mau membeli produk apa pun yang dijual olehmu. Atau, mereka sebenarnya sudah tertarik ketika melihat produknya. Meski begitu, hindari mengunakan lima kalimat sales yang tak lagi menarik konsumen agar mereka tergerak untuk membeli.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Dari Kebiasaanmu di Akhir Pekan, Apakah Kamu Alami Kelelahan Emosional?

07 Feb 2026, 19:00 WIBLife