5 Novel Romansa Berlatar Paris, Bikin Ingin Jatuh Cinta Lagi

- Anna and the French Kiss – Stephanie Perkins: Anna menemukan cinta dan pertumbuhan emosional di Paris bersama Étienne St. Clair.
- Someday in Paris – Olivia Lara: Kisah cinta Zara dan Leon yang terus diuji selama dua dekade oleh takdir di Paris.
- Kisses and Croissants – Anne-Sophie Jouhanneau: Mia mengejar mimpi baletnya sambil jatuh cinta pada Louis dan keindahan Paris.
Paris sejak lama dikenal sebagai kota cinta, tempat di mana kisah romansa seolah menemukan latar yang sempurna. Jalanan berbatu, kafe kecil di sudut kota, hingga cahaya lampu malam yang memantul di Sungai Seine membuat banyak cerita cinta terasa lebih hidup dan emosional. Tak heran jika Paris sering menjadi latar favorit dalam banyak novel romansa.
Novel-novel berlatar Paris biasanya tidak hanya menawarkan kisah cinta manis, tetapi juga perjalanan menemukan jati diri dan belajar menerima perasaan sendiri. Kisah-kisah ini mampu membuat pembaca ikut hanyut dan tanpa sadar kembali percaya pada cinta. Berikut lima novel romansa berlatar Paris yang bisa membuat siapa pun ingin jatuh cinta lagi.
1. Anna and the French Kiss – Stephanie Perkins

Anna awalnya sama sekali tidak antusias ketika harus meninggalkan kehidupannya di Atlanta untuk sekolah asrama di Paris. Namun, kota ini perlahan mengubah segalanya, terutama saat ia bertemu Étienne St. Clair yang menawan, cerdas, dan penuh pesona. Hubungan mereka berkembang lewat obrolan ringan, kebersamaan kecil, dan momen canggung yang lucu.
Kisah ini istimewa bukan hanya romansanya, tetapi bagaimana Paris digambarkan sebagai ruang pertumbuhan emosional. Anna belajar memahami dirinya sendiri dan berdamai dengan perasaan yang rumit. Novel ini terasa hangat, jujur, dan penuh momen kecil yang membekas, cocok bagi pembaca yang ingin romansa ringan tapi tetap punya kedalaman emosional.
2. Someday in Paris – Olivia Lara

Cerita dimulai pada tahun 1954 ketika Zara yang masih berusia 15 tahun bertemu Leon secara tidak sengaja di sebuah museum saat listrik padam. Dalam gelap, mereka menghabiskan satu jam penuh berbincang tentang seni, mimpi, dan Paris, tanpa pernah saling melihat wajah. Pertemuan singkat itu meninggalkan kesan mendalam yang membekas seumur hidup.
Bertahun-tahun kemudian, takdir terus mempermainkan mereka. Pada 1963, Zara dan Leon kembali bertemu tanpa menyadari bahwa merekalah dua remaja dari museum itu, namun perasaan spesial yang sama kembali muncul. Selama lebih dari dua dekade, hidup berkali-kali mempertemukan dan memisahkan keduanya, seolah Paris sendiri ikut menguji cinta mereka.
3. Kisses and Croissants – Anne-Sophie Jouhanneau

Mia Jenrow datang ke Paris dengan satu mimpi besar yakni menjadi balerina profesional. Ia percaya takdir keluarganya terikat dengan Paris dan dunia balet, meski orang tuanya menganggap itu hanya fantasi. Namun, realitas Paris tidak semanis bayangannya, terutama saat ia harus menghadapi rival ambisius dan guru balet yang sangat keras.
Di tengah tekanan itu, hadir Louis, sosok lokal yang penuh pesona dan perlahan membuat Mia jatuh cinta pada kota ini dengan cara berbeda. Kisah ini memadukan ambisi dan romansa dengan keindahan Paris. Novel ini mengingatkan bahwa mimpi dan cinta sering kali datang bersamaan, dan keduanya menuntut keberanian untuk diperjuangkan.
4. Love Requires Chocolate – Ravynn K. Stringfield

Whitney Curry tiba di Paris dengan rencana yang sangat terstruktur, lengkap dengan daftar kegiatan dan impian akademis yang rapi. Namun, kehidupan nyata di kota ini segera mengacaukan semua ekspektasinya. Sebagai siswa asing, ia harus menghadapi rasa kesepian, tantangan bahasa, dan tekanan sekolah yang tak terduga.
Segalanya berubah saat ia bertemu Thierry Magnon, tutor bahasa Prancis yang dingin namun menyimpan sisi hangat. Hubungan mereka berkembang perlahan, dipenuhi tarik-ulur emosional dan pembelajaran tentang kehidupan. Novel ini memperlihatkan Paris bukan hanya sebagai kota romantis, tetapi juga tempat belajar tentang diri sendiri dan arti koneksi yang tulus.
5. Thirty Days in Paris – Veronica Henry

Berbeda dari kisah romansa remaja, novel ini menawarkan perspektif cinta di usia dewasa. Juliet kembali ke Paris setelah 30 tahun, membawa kenangan lama, luka yang belum sembuh, dan rahasia yang selama ini ia pendam. Tinggal di apartemen loteng dekat Notre Dame, ia perlahan menghadapi masa lalunya sambil mencoba menemukan arah hidup yang baru.
Selama 30 hari di Paris, Juliet menyadari bahwa cinta tidak selalu datang dengan cara yang sama seperti dulu. Kota ini menjadi saksi proses penyembuhan, refleksi diri, dan kemungkinan untuk memulai kembali. Novel ini tenang dan emosional, cocok bagi pembaca yang percaya bahwa cinta tidak mengenal usia dan selalu memberi kesempatan kedua.
Paris dalam novel-novel ini bukan sekadar latar, melainkan bagian penting dari perjalanan emosional para tokohnya. Kota ini menjadi tempat jatuh cinta, patah hati, dan menemukan kembali harapan. Dari kelima rekomendasi novel romansa berlatar Paris, buku nomor berapa yang paling membuatmu ingin percaya lagi pada cinta?

















