Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Korban Bullying di Kantor Sulit Membela Diri?
ilustrasi korban bullying (pexels.com/Khwanchai Phanthong)
  • Korban bullying di kantor sering takut kehilangan pekerjaan atau menghadapi dampak buruk setelah melapor.

  • Ketimpangan kekuasaan dan minimnya dukungan rekan kerja membuat korban semakin sulit melawan.

  • Bullying yang dianggap candaan atau budaya kerja dapat membuat korban kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak aman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perundungan (bullying) di tempat kerja sering kali tidak terlihat seperti kekerasan. Tidak selalu ada bentakan atau hinaan terang-terangan. Kadang, bentuknya justru berupa sindiran yang terus diulang, pekerjaan yang sengaja dipersulit, pendapat yang diremehkan saat rapat, sampai kebiasaan mengucilkan seseorang dari lingkungan pertemanan kantor. Sekilas terlihat sepele, tetapi kalau terjadi terus-menerus, perlakuan seperti ini bisa membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri.

Yang menarik, korban bullying di kantor tidak selalu berani melawan. Bahkan, ada yang memilih diam meskipun sudah berkali-kali diperlakukan tidak adil. Orang lain mungkin menganggap mereka terlalu penakut atau tidak punya pendirian. Padahal, situasinya tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang dipertimbangkan korban sebelum memutuskan untuk bersuara, mulai dari posisi di tempat kerja, hubungan dengan atasan, sampai kekhawatiran kehilangan sumber penghasilan.

1. Ada ketakutan kehilangan pekerjaan

ilustrasi seseorang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya (pexels.com/RDNE Stock project)

Bagi sebagian orang, pekerjaan bukan sekadar tempat mencari pengalaman atau membangun karier. Pekerjaan adalah sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar cicilan, membantu orangtua, atau menghidupi keluarga. Karena itu, melawan pelaku bullying bukan keputusan yang bisa diambil begitu saja. Apalagi kalau pelakunya adalah atasan, karyawan senior, atau orang yang punya pengaruh besar terhadap penilaian kinerja dan kelanjutan kontrak kerja.

Korban mungkin khawatir akan mendapatkan penilaian buruk setelah mengadu. Mereka juga bisa takut tidak mendapat kesempatan promosi, dipindahkan ke bagian yang tidak diinginkan, atau justru kehilangan pekerjaan karena dianggap menimbulkan konflik. Di atas kertas, karyawan memang berhak mendapatkan lingkungan kerja yang aman. Namun, dalam praktiknya, tidak semua orang yakin bahwa hak tersebut akan benar-benar dilindungi.

Inilah salah satu alasan mengapa bullying di kantor tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh korban untuk berani melawan. Kita tidak pernah tahu seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung setelah mengambil sikap. Bagi orang yang memiliki tabungan cukup atau pilihan pekerjaan lain, mengundurkan diri mungkin terdengar masuk akal. Namun, bagi mereka yang masih bergantung pada gaji bulanan, keputusan tersebut bisa sangat berat.

2. Pelaku bullying sering punya posisi yang lebih kuat

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau)

Bullying di kantor juga bisa sulit dilawan karena adanya ketimpangan kekuasaan. Pelaku mungkin memiliki jabatan lebih tinggi, sudah bekerja lebih lama, dekat dengan pimpinan, atau menjadi orang yang paling berpengaruh dalam tim. Sementara itu, korban bisa saja merupakan karyawan baru yang belum memahami budaya kantor dan belum memiliki banyak rekan untuk dimintai bantuan.

Ketika korban mencoba menceritakan perlakuan yang dialaminya, belum tentu orang lain langsung percaya. Apalagi jika pelaku dikenal ramah, berprestasi, atau sering menjadi andalan perusahaan. Orang-orang mungkin kesulitan membayangkan bahwa sosok yang terlihat menyenangkan di depan atasan ternyata bisa memperlakukan rekan kerjanya dengan buruk. Akibatnya, korban merasa harus menghadapi situasi sendirian. Mereka bukan hanya berhadapan dengan perilaku pelaku, tetapi juga harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa pengaduannya tidak akan dipercaya.

3. Terlalu sering diremehkan membuat korban kehilangan kepercayaan diri

ilustrasi lingkungan kerja yang tidak sehat (pexels.com/Yan Krukau)

Perkataan yang menyakitkan mungkin terdengar sepele bagi orang yang mengucapkannya. Namun, kalau terus diterima setiap hari, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang terlihat. Bayangkan seorang karyawan yang setiap kali menyampaikan ide selalu mendapat respons merendahkan. Pekerjaannya terus dibandingkan dengan karyawan lain, kesalahan kecilnya dibesar-besarkan, sementara keberhasilannya jarang mendapat pengakuan. Lama-kelamaan, dia mungkin mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri.

Awalnya, korban bisa merasa marah dan ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Namun, setelah menghadapi perlakuan serupa berkali-kali, semangat tersebut perlahan berubah menjadi keraguan. Bahkan, sebelum berbicara dalam rapat, dia sudah takut idenya akan ditertawakan. Hal ini membuat korban semakin sulit membela diri. Untuk menyampaikan keberatan saja, mereka harus melawan rasa takut yang telanjur terbentuk akibat pengalaman sebelumnya.

4. Korban khawatir tidak mendapatkan dukungan dari rekan kerja

ilustrasi pelaku bullying (pexels.com/Yan Krukau)

Lingkungan kerja yang sehat seharusnya membuat karyawan merasa bisa saling membantu. Sayangnya, ketika bullying terjadi, tidak semua rekan kerja berani mengambil sikap. Ada yang memilih diam karena tidak ingin ikut campur. Ada juga yang sebenarnya merasa kasihan kepada korban, tetapi takut menjadi sasaran berikutnya jika ikut membela. Sementara itu, sebagian orang mungkin memilih mengikuti perilaku mayoritas agar tetap diterima dalam kelompok.

Akibatnya, korban merasa seolah-olah semua orang membiarkan perlakuan tersebut terjadi. Bahkan, ketika ada banyak orang yang menyaksikan kejadian itu, belum tentu ada satu orang pun yang berani membela korban. Situasi ini bisa membuat korban semakin ragu untuk bersuara. Mereka mungkin berpikir, kalau orang-orang yang melihat kejadian secara langsung saja tidak mau membantu, apakah laporan mereka akan benar-benar ditanggapi?

5. Bullying sering disamarkan sebagai candaan atau budaya kerja

ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Mikhail Nilov)

Salah satu hal yang membuat bullying di kantor sulit dilawan adalah kebiasaan menganggap perlakuan buruk sebagai sesuatu yang wajar. Kalimat seperti "Namanya juga anak baru", "Di sini memang harus tahan mental", atau "Jangan baper, kita cuma bercanda" sering digunakan untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya sudah melewati batas. Masalahnya, ketika bullying dianggap sebagai bagian dari budaya kantor, korban justru bisa merasa bahwa dirinya yang bermasalah karena tidak mampu menyesuaikan diri.

Misalnya, seorang senior terbiasa mempermalukan junior di depan banyak orang. Ketika junior tersebut merasa tersinggung, rekan kerja lainnya menganggap hal itu sebagai tradisi yang sudah berlangsung sejak lama. Tidak ada yang merasa perlu mengubahnya karena semua orang sudah terbiasa.

Pada akhirnya, sulitnya korban bullying di kantor membela diri bukan semata-mata persoalan keberanian. Banyak kekhawatiran yang membuat seseorang memilih diam meskipun sebenarnya ingin melawan. Karena itu, sudah saatnya kita berhenti bertanya kenapa korban tidak berani membela diri dan mulai mempertanyakan mengapa lingkungan kerja membiarkan mereka merasa tidak aman untuk bersuara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article