Tak sedikit anak laki-laki yang terbiasa duduk santai menunggu makanan disiapkan, sementara ibu atau saudara perempuannya masih sibuk membereskan meja setelah makan. Ketika piring kotor dibiarkan begitu saja, respons keluarga terkadang justru berupa pembelaan bahwa anak laki-laki tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah atau sudah terlalu lelah untuk dimintai bantuan.
Jangan Mendidik Anak Laki-Laki seperti Tamu di Rumah Sendiri

Membiasakan anak laki-laki selalu dilayani berisiko membuatnya menganggap pelayanan sebagai hak dan menunggu perintah untuk menjalankan tanggung jawab domestik.
Pembagian tugas rumah berdasarkan gender dapat membebani anak perempuan, membatasi waktu mereka, serta menanamkan anggapan bahwa urusan domestik adalah kewajiban perempuan.
Keterlibatan sejak dini dalam merapikan, mencuci, dan mengatur kebutuhan pribadi membantu anak laki-laki mandiri, berempati, serta berbagi tanggung jawab dalam hubungan.
Kebiasaan seperti ini bisa berlangsung bertahun-tahun sampai sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama terasa seperti kewajiban perempuan, sedangkan laki-laki cukup hadir dan menikmati hasilnya. Coba lihat empat alasan mengapa jangan mendidik anak laki-laki seperti tamu di rumah sendiri.
1. Anak laki-laki bisa tumbuh dengan anggapan bahwa pelayanan adalah haknya

ilustrasi anak laki-laki (pexels.com/Ivan S) Ketika kebutuhan anak laki-laki selalu disiapkan, mulai dari seragam yang sudah disetrika, makanan yang tinggal disantap, hingga kamar yang rutin dibersihkan orang lain, ia bisa terbiasa menerima pelayanan tanpa memahami pekerjaan di baliknya. Masalahnya bukan terletak pada orangtua yang ingin memanjakan anak, melainkan pada kebiasaan yang tidak pernah diimbangi dengan tanggung jawab sesuai usia. Anak yang tidak pernah diminta membereskan barangnya sendiri berisiko menganggap bahwa rumah memang akan selalu rapi dengan sendirinya, tanpa menyadari adanya tenaga dan waktu yang dikeluarkan oleh anggota keluarga lain.
Kebiasaan tersebut bisa terbawa ke kehidupan dewasa, terutama ketika ia mulai tinggal bersama pasangan dan mendapati bahwa kebutuhan sehari-hari tidak otomatis terpenuhi. Pasangannya mungkin harus mengingatkan soal pakaian kotor, menyiapkan makanan, atau mengatur kebutuhan rumah tangga, bukan karena pekerjaan itu tidak mampu dilakukan olehnya, melainkan karena ia tidak terbiasa mengambil inisiatif. Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan sekadar seseorang malas mencuci piring, tetapi adanya anggapan bahwa tanggung jawab domestik baru perlu dilakukan setelah diminta. Anak laki-laki perlu dibiasakan memahami bahwa tinggal di rumah berarti ikut merawat tempat tersebut, bukan hanya menikmati kenyamanannya.
2. Anak perempuan bisa dianggap bertanggung jawab atas pekerjaan rumah hanya karena gendernya

ilustrasi anak-anak membantu orang tua (pexels.com/Gustavo Fring) Pembagian tugas di rumah terkadang terlihat sederhana, seperti anak perempuan diminta membantu memasak, mencuci piring, atau menjaga adiknya, sementara anak laki-laki diperbolehkan bermain setelah pulang sekolah. Ketika pola ini dilakukan berulang kali, anak-anak dapat menangkap pesan bahwa pekerjaan domestik merupakan bagian alami dari kehidupan perempuan, sedangkan laki-laki hanya perlu membantu jika sedang ingin atau memiliki waktu luang. Padahal, kemampuan memasak, membersihkan rumah, dan merawat anggota keluarga tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan bisa dipelajari melalui kebiasaan dan kesempatan yang diberikan sejak kecil.
Dampaknya juga tidak berhenti pada jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari karena pembagian seperti ini dapat memengaruhi cara anak memandang waktu dan kebebasan masing-masing. Anak perempuan mungkin terbiasa menunda belajar atau beristirahat demi menyelesaikan tugas rumah, sedangkan anak laki-laki memiliki lebih banyak waktu untuk bermain, mengikuti kegiatan, atau mengembangkan minatnya. Ketimpangan tersebut dapat terlihat sepele ketika anak masih kecil, tetapi berpotensi membentuk ekspektasi yang terbawa hingga dewasa, termasuk anggapan bahwa perempuan memang sewajarnya mengurus rumah setelah menikah. Orangtua perlu memastikan bahwa pembagian tugas didasarkan pada usia, kemampuan, dan kesepakatan yang adil, bukan pada anggapan bahwa anak perempuan lebih pantas mengerjakannya.
3. Anak laki-laki bisa kesulitan mengurus dirinya sendiri ketika jauh dari keluarga

ilustrasi rebahan (pexels.com/Lisa from Pexels) Anak yang selalu dilayani mungkin terlihat baik-baik saja selama kebutuhan sehari-harinya masih dipenuhi oleh orangtua, tetapi situasinya bisa berubah ketika ia harus tinggal di kos, kuliah di luar kota, atau bekerja jauh dari rumah. Hal sederhana seperti mencuci pakaian, menyiapkan makanan, menjaga kebersihan kamar, dan mengatur persediaan kebutuhan pribadi bisa terasa merepotkan ketika semuanya belum pernah dilakukan secara mandiri. Kesulitan tersebut bukan berarti anak laki-laki secara alami kurang mampu mengurus dirinya, melainkan karena keterampilan yang seharusnya dapat dilatih sejak dini tidak mendapatkan cukup kesempatan untuk berkembang.
Ketergantungan ini juga dapat membuat orangtua terus mengambil alih tanggung jawab anak meskipun ia sebenarnya sudah cukup besar untuk belajar menyelesaikannya sendiri. Ibu, misalnya, masih harus mengingatkan jadwal mencuci atau mengirimkan makanan karena anak belum terbiasa merencanakan kebutuhannya, sementara persoalan yang sama mungkin tidak akan muncul jika kemandirian sudah dibangun secara bertahap. Padahal, keterampilan domestik merupakan bagian dari kemampuan hidup yang berguna bagi siapa pun, terlepas dari status perkawinan atau kondisi finansialnya. Anak laki-laki yang mampu mengurus dirinya sendiri bukan hanya menjadi lebih mandiri, tetapi juga tidak perlu bergantung pada perempuan lain untuk memenuhi kebutuhan dasar yang sebenarnya bisa ia tangani.
4. Anak laki-laki bisa membawa kebiasaan merasa paling berhak ke dalam hubungan

ilustrasi patriarki (pexels.com/Annushka Ahuja) Alasan terakhir jangan mendidik anak laki-laki seperti tamu di rumah sendiri adalah agar dirinya tidak membawa kebiasaan merasa paling berhak ke dalam hubungan. Ketika anak laki-laki selalu diutamakan, pendapatnya lebih sering dituruti, atau kesalahannya lebih mudah dimaafkan daripada saudara perempuannya, ia bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa kebutuhannya memang layak mendapat perhatian lebih besar. Hal ini dapat terlihat ketika ia selalu memperoleh bagian terbaik, tidak pernah diminta mengalah, atau dibebaskan dari tugas keluarga dengan alasan bahwa ia laki-laki dan kelak akan menjadi kepala keluarga. Perlakuan seperti itu tidak otomatis membuat setiap anak tumbuh egois, tetapi dapat membentuk pola pikir bahwa kenyamanan dirinya lebih penting daripada kontribusi dan kebutuhan orang lain jika tidak disertai pendidikan tentang empati serta tanggung jawab.
Dalam hubungan, kebiasaan tersebut dapat muncul melalui kebiasaan mengharapkan pasangan mengingat semua kebutuhan rumah tangga, mengambil keputusan tanpa berdiskusi, atau menganggap pekerjaan domestik sebagai bantuan kepada perempuan, bukan tanggung jawab bersama. Pasangan akhirnya bukan hanya mengerjakan tugas rumah tangga, tetapi juga menanggung beban mental untuk mengingat jadwal belanja, mengatur kebutuhan anak, dan memastikan berbagai urusan rumah tidak terlewat. Karena itu, anak laki-laki perlu diajarkan bahwa menjadi laki-laki bukan berarti harus selalu dilayani atau diutamakan, melainkan mampu menghargai orang lain dan mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama. Sikap menghormati pasangan tidak cukup dibentuk melalui nasihat tentang cara memperlakukan perempuan, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari ketika ia diminta mendengarkan, berbagi tugas, dan menyadari bahwa orang lain pun memiliki kebutuhan serta batas tenaga.
Membiasakan anak laki-laki terlibat dalam pekerjaan rumah tidak berarti kasih sayang orangtua harus dikurangi. Justru, keterlibatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar menghargai pekerjaan yang selama ini mungkin tidak pernah diperhatikannya. Perubahan bisa dimulai dari kebiasaan kecil di rumah, seperti merapikan tempat tidur sendiri, mencuci piring setelah makan, atau ikut membereskan rumah tanpa menunggu perintah. Menurutmu, kebiasaan apa yang paling penting diterapkan orangtua agar anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak menganggap perempuan sebagai orang yang harus selalu melayaninya?























