5 Sikap yang Menunjukkan Kamu Terjebak dalam Performative Self-Care

- Performative self-care terjadi ketika perawatan diri lebih berorientasi pada citra dan pengakuan sosial, seperti sibuk mendokumentasikan aktivitas daripada menikmati manfaatnya.
- Ketergantungan pada likes, pujian, serta tren kesejahteraan dapat membuat seseorang memilih rutinitas yang terlihat mengesankan, bukan yang sesuai kebutuhan fisik dan emosional.
- Memaksakan rutinitas ideal atau menutupi tekanan dengan citra positif dapat mengabaikan kebutuhan istirahat dan emosi; perawatan diri perlu dijalani secara jujur dan fleksibel.
Merawat diri sendiri sering dianggap sebagai langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup di tengah rutinitas yang melelahkan. Namun, belakangan ini, aktivitas perawatan diri juga kerap menjadi bagian dari gaya hidup yang ditampilkan kepada orang lain melalui media sosial. Tanpa disadari, sesuatu yang seharusnya membantu diri merasa lebih baik justru dapat berubah menjadi tuntutan untuk terlihat bahagia, sehat, dan memiliki kehidupan yang tertata.
Fenomena tersebut dikenal sebagai performative self-care, yaitu kecenderungan melakukan aktivitas perawatan diri lebih demi citra atau pengakuan sosial daripada kebutuhan pribadi yang sesungguhnya. Mulai dari mengunggah rutinitas pagi yang terlihat sempurna hingga merasa harus mengikuti tren kesejahteraan tertentu, semuanya dapat membuat perawatan diri kehilangan makna aslinya. Supaya gak terjebak dalam pola tersebut, yuk kenali lima sikap yang perlu diwaspadai agar aktivitas merawat diri benar-benar memberi manfaat bagi kesejahteraan pribadi.
1. Lebih sibuk mendokumentasikan daripada menikmati prosesnya

ilustrasi unggah foto di HP (pexels.com/Rafael Rodrigues) Salah satu tanda performative self-care terlihat ketika seseorang lebih sibuk mengabadikan aktivitas perawatan diri daripada menikmati manfaatnya secara langsung. Misalnya, saat melakukan meditasi, berolahraga, atau menikmati waktu santai, perhatian justru lebih banyak tertuju pada sudut pengambilan gambar dan hasil unggahan yang menarik. Akibatnya, aktivitas yang seharusnya menjadi kesempatan untuk terhubung dengan diri sendiri malah berubah menjadi pekerjaan tambahan demi menghasilkan konten yang terlihat sempurna.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang sulit menikmati momen tanpa melibatkan penilaian orang lain. Bahkan, aktivitas sederhana seperti membaca buku atau menikmati secangkir teh terasa kurang memuaskan apabila gak sempat diabadikan dan dibagikan. Padahal, esensi perawatan diri terletak pada manfaat yang dirasakan secara pribadi, bukan pada seberapa menarik aktivitas tersebut ketika dilihat oleh orang lain.
2. Mengukur keberhasilan merawat diri dari pengakuan orang lain

ilustrasi teman nongkrong (pexels.com/Helena Lopes) Perawatan diri seharusnya membantu seseorang memahami kebutuhan fisik dan emosionalnya tanpa harus menunggu persetujuan dari lingkungan sekitar. Namun, dalam praktik performative self-care, pujian, tanda suka, dan komentar positif justru menjadi tolok ukur keberhasilan aktivitas tersebut. Ketika unggahan tentang rutinitas sehat mendapat banyak respons, seseorang merasa usahanya berarti, tetapi ketika gak ada yang memperhatikan, muncul perasaan bahwa aktivitas itu kurang berharga.
Pola seperti ini dapat membuat penghargaan terhadap diri sendiri bergantung pada validasi eksternal. Seseorang akhirnya lebih terdorong melakukan aktivitas yang terlihat mengesankan daripada memilih kebiasaan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhannya. Jika terus berlangsung, perawatan diri berisiko berubah menjadi sarana mencari pengakuan, bukan cara membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.
3. Memaksakan rutinitas sehat meski tubuh dan pikiran sudah lelah

ilustrasi wanita menulis di taman (pexels.com/EGO AGENCY) Rutinitas perawatan diri yang populer sering digambarkan sebagai rangkaian kebiasaan ideal, mulai dari bangun pagi, berolahraga, menulis jurnal, hingga mengonsumsi makanan bergizi. Masalah muncul ketika seseorang merasa harus menjalankan seluruh rutinitas tersebut secara konsisten hanya agar terlihat disiplin dan memiliki gaya hidup sehat. Alih-alih mendengarkan kebutuhan tubuh, ia justru mengabaikan rasa lelah karena takut dianggap kurang berkomitmen terhadap kesejahteraan diri.
Padahal, kebutuhan setiap orang dapat berubah sesuai kondisi fisik, beban pekerjaan, dan keadaan emosional yang sedang dihadapi. Ada kalanya istirahat lebih dibutuhkan daripada memaksakan olahraga, sementara waktu luang tanpa agenda tertentu juga dapat membantu memulihkan energi. Perawatan diri yang sehat seharusnya memberi ruang untuk menyesuaikan diri, bukan menciptakan standar baru yang membuat seseorang merasa bersalah ketika gak mampu memenuhinya.
4. Mengikuti tren perawatan diri tanpa memahami kebutuhan pribadi

ilustrasi lari di treadmill (pexels.com/Anastasia Shuraeva) Tren kesejahteraan di media sosial sering memperkenalkan berbagai metode yang diklaim mampu membuat hidup lebih tenang, produktif, dan teratur. Mulai dari rutinitas pagi yang kompleks hingga kebiasaan mengatur jadwal secara terperinci, semuanya dapat terlihat menarik ketika ditampilkan oleh orang yang dianggap inspiratif. Namun, mengikuti tren tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi pribadi dapat membuat perawatan diri terasa seperti kewajiban yang harus dipenuhi agar gak tertinggal dari orang lain.
Setiap individu memiliki kebutuhan, keterbatasan, dan cara pemulihan yang berbeda sehingga gak semua metode cocok diterapkan secara universal. Rutinitas yang membantu seseorang merasa lebih teratur belum tentu memberi manfaat serupa bagi orang lain dengan jadwal dan kondisi emosional berbeda. Karena itu, penting untuk mengevaluasi apakah suatu kebiasaan benar-benar membantu atau sekadar diikuti karena sedang populer dan terlihat menarik ketika dibagikan kepada publik.
5. Menutupi masalah emosional dengan citra hidup yang selalu positif

ilustrasi pria bahagia (pexels.com/Khoa Le) Sikap lain yang patut diwaspadai adalah kecenderungan menampilkan kehidupan seolah-olah selalu tenang, bahagia, dan terkendali meskipun sebenarnya sedang menghadapi tekanan. Seseorang mungkin rutin membagikan afirmasi positif, aktivitas relaksasi, atau pencapaian pribadi, tetapi merasa harus menyembunyikan kesedihan dan kegelisahan agar citra dirinya tetap terjaga. Dalam situasi ini, perawatan diri justru menjadi alat untuk mempertahankan penampilan luar yang ideal daripada memberi ruang bagi emosi yang benar-benar dirasakan.
Keinginan untuk terlihat baik-baik saja dapat membuat seseorang sulit mengakui bahwa dirinya membutuhkan bantuan atau waktu untuk memulihkan keadaan. Padahal, merawat diri gak berarti harus selalu berpikir positif atau mampu menghadapi seluruh persoalan sendirian. Mengakui rasa kecewa, menerima keterbatasan, dan berbicara dengan orang tepercaya juga merupakan bagian penting dari proses menjaga kesejahteraan emosional secara lebih jujur dan berkelanjutan.
Performative self-care mengingatkan bahwa aktivitas merawat diri dapat kehilangan maknanya ketika terlalu berorientasi pada citra, tren, dan pengakuan sosial. Perawatan diri yang sehat gak harus terlihat estetik, dilakukan secara sempurna, atau mendapat pujian dari orang lain untuk dianggap berharga. Jadi, mulailah mengenali kebutuhan pribadi, memberi ruang bagi emosi yang beragam, dan memilih kebiasaan yang benar-benar membantu menjalani hidup dengan lebih seimbang.























