Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Urusan Perempuan yang Punya Sangkut Paut dengan Politik

7 min read
5 Urusan Perempuan yang Punya Sangkut Paut dengan Politik
ilustrasi pembalut (unsplash.com/The Female Company)
  • Kualitas udara dan air, kebutuhan menstruasi, serta biaya perawatan diri dipengaruhi kebijakan lingkungan, sanitasi, pajak, ekonomi, dan akses layanan publik.
  • Harga konser dan pengalaman penonton turut dipengaruhi perizinan, pajak, imigrasi, transportasi, nilai tukar, serta perlindungan konsumen dalam pembelian tiket.
  • Keamanan perempuan saat pulang malam berkaitan dengan tata kota, penerangan, trotoar, transportasi umum, pengawasan titik rawan, dan penanganan kekerasan atau pelecehan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak hal yang dianggap sebagai urusan pribadi perempuan ternyata tidak pernah benar-benar lepas dari keputusan yang dibuat di ruang pemerintahan. Hal-hal kecil yang ditemui setiap hari bisa memperlihatkan bagaimana kebijakan publik memengaruhi kehidupan seseorang tanpa selalu disadari.

Ironisnya, perempuan sering kali diminta mencari solusi sendiri untuk masalah yang sebenarnya turut dipengaruhi oleh lingkungan, akses fasilitas, hingga kebijakan ekonomi. Walau selama ini dianggap sepele, yuk, lihat lima urusan perempuan yang punya sangkut paut dengan politik!

  1. 1. Wajah breakout akibat kualitas udara dan air yang buruk

    ilustrasi wajah breakout
    ilustrasi wajah breakout (pexels.com/ShotPot)

    Jerawat yang terus bermunculan, kulit yang terasa semakin sensitif, atau wajah yang mudah mengalami iritasi sering kali langsung dikaitkan dengan hormon, pola makan, dan produk perawatan yang kurang cocok. Padahal, kondisi lingkungan tempat tinggal juga patut diperhatikan karena paparan polusi udara dapat memperburuk peradangan kulit, sementara kualitas air yang buruk juga bisa memicu iritasi pada sebagian orang, utamanya bagi mereka yang memiliki kulit sensitif. Ketika perempuan harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli pembersih wajah, pelembap, atau produk penunjang kesehatan kulit demi mengatasi keluhan tersebut, persoalannya tidak selalu berhenti pada pilihan skincare.

    Kualitas udara dan air berkaitan dengan keputusan politik karena pengelolaannya melibatkan kebijakan lingkungan, pengawasan industri, penyediaan air bersih, hingga penegakan aturan terhadap pencemaran. Ketika pengawasan emisi kendaraan dan industri tidak berjalan optimal, masyarakat dapat menanggung dampaknya melalui paparan polutan yang berlangsung berulang kali dalam aktivitas sehari-hari. Begitu pula ketika akses terhadap air bersih belum merata, biaya untuk mendapatkan air yang layak dapat menambah pengeluaran rumah tangga, termasuk untuk kebutuhan kebersihan dan perawatan diri.

  2. 2. Pembalut yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar, bukan barang mewah

    ilustrasi pembalut
    ilustrasi pembalut (unsplash.com/Natracare)

    Menstruasi merupakan proses biologis yang dialami perempuan, tetapi biaya untuk melalui ini setiap bulannya tidaklah murah. Harga pembalut, pantyliner, obat pereda nyeri, hingga kebutuhan untuk menjaga kebersihan selama menstruasi dapat menjadi pengeluaran rutin yang sulit dihindari, terutama bagi perempuan dengan pendapatan terbatas. Situasinya semakin rumit ketika kebutuhan tersebut harus dipenuhi bersamaan dengan biaya transportasi, makan, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lain yang harganya ikut meningkat.

    Persoalan ini memiliki kaitan dengan politik melalui kebijakan pajak, perlindungan konsumen, program kesehatan reproduksi, serta penyediaan fasilitas sanitasi di sekolah dan tempat kerja. Ketersediaan pembalut gratis di fasilitas tertentu, misalnya, dapat membantu mengurangi hambatan bagi perempuan yang kesulitan membeli produk menstruasi, meskipun pelaksanaannya tetap membutuhkan anggaran, distribusi, dan pengawasan yang memadai. Di sisi lain, akses terhadap toilet bersih dan air mengalir juga menentukan apakah menstruasi dapat dikelola dengan nyaman ketika perempuan berada di luar rumah. Ketika kebutuhan menstruasi belum terjangkau atau fasilitas pendukungnya tidak tersedia, dampaknya bisa meluas hingga ketidakhadiran di sekolah, terganggunya pekerjaan, dan berkurangnya kesempatan untuk beraktivitas secara normal.

  3. 3. Skincare, makeup, dan baju lucu yang makin sulit dijangkau

    ilustrasi skincare
    ilustrasi skincare (unsplash.com/Maria Lupan)

    Keinginan membeli serum, lipstik baru, atau pakaian dengan model yang sedang disukai sering kali dianggap sebagai kebiasaan konsumtif perempuan. Padahal, hubungan perempuan dengan penampilan tidak sesederhana urusan ingin terlihat cantik karena penampilan juga bisa berkaitan dengan tuntutan pekerjaan, aturan berpakaian, kebutuhan untuk tampil profesional, hingga cara mengekspresikan identitas diri. Masalahnya, harga produk perawatan, kosmetik, dan pakaian dapat berubah mengikuti biaya produksi, distribusi, nilai tukar, pajak, serta kondisi pasar, sehingga barang yang sebelumnya masih bisa dibeli dengan uang saku tertentu perlahan terasa semakin mahal.

    Keputusan politik dan ekonomi dapat memengaruhi rantai tersebut melalui kebijakan perdagangan, perpajakan, perlindungan pekerja, dan pengaturan impor bahan baku maupun barang jadi. Perubahan nilai tukar, misalnya, dapat meningkatkan biaya bahan atau produk impor ketika pelemahan rupiah tidak diimbangi oleh penyesuaian harga dari produsen dan penjual. Kebijakan upah serta kondisi ketenagakerjaan juga berpengaruh terhadap kemampuan perempuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi setelah pengeluaran pokok dibayarkan. Dalam situasi ketika pendapatan tidak bertambah secepat biaya hidup, perempuan mungkin harus memilih antara membeli produk yang dibutuhkan, menunda keinginan pribadi, atau mengurangi pengeluaran lain yang sama pentingnya.

    Ada pula persoalan yang jarang dibahas, yakni standar penampilan yang tetap dilekatkan pada perempuan meskipun kemampuan ekonominya berbeda-beda. Perempuan bisa dinilai kurang profesional karena penampilannya dianggap tidak terawat, tetapi pada saat yang sama, tidak semua orang memiliki anggaran untuk memenuhi standar tersebut. Kondisi ini membuat pembahasan mengenai harga skincare, makeup, dan pakaian relevan dengan isu ekonomi sekaligus tekanan sosial yang dialami perempuan. Politik tidak menentukan setiap pilihan warna lipstik atau model pakaian yang dibeli seseorang, tetapi kebijakan ekonomi ikut membentuk seberapa besar ruang yang tersedia bagi perempuan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa mengorbankan kebutuhan lain.

  4. 4. Self-reward seperti menonton konser KPop yang makin mahal

    ilustrasi menonton konser
    ilustrasi menonton konser (pexels.com/BoliviaInteligente)

    Menonton konser idola KPop bisa menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi penggemar perempuan, terutama setelah berbulan-bulan bekerja, kuliah, atau menjalani rutinitas yang melelahkan. Uang yang dikumpulkan untuk membeli tiket bukan selalu sekadar biaya hiburan, melainkan juga hasil dari perencanaan keuangan dan keinginan untuk menikmati sesuatu yang disukai. Namun, harga tiket yang tinggi, biaya transportasi, penginapan, merchandise, hingga kebutuhan makan selama acara dapat membuat pengalaman tersebut semakin sulit dijangkau, terutama bagi penggemar yang harus datang dari luar kota.

    Keterkaitan konser dengan politik terlihat melalui perizinan acara, perpajakan, kebijakan imigrasi, pengelolaan transportasi umum, dan tata kelola penyelenggaraan kegiatan berskala besar. Ketika konser melibatkan artis dari luar negeri, proses administrasi, biaya operasional, serta perubahan nilai tukar dapat ikut memengaruhi perhitungan harga tiket dan kebutuhan produksi. Sementara itu, ketersediaan transportasi publik yang aman dan beroperasi sesuai kebutuhan penonton dapat menentukan apakah seseorang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk taksi atau kendaraan daring setelah acara selesai. Harga tiket memang tidak ditentukan oleh pemerintah semata karena keputusan promotor, permintaan pasar, dan biaya produksi juga berperan, tetapi kebijakan publik tetap menjadi salah satu faktor yang membentuk pengalaman penonton.

    Hal lain yang patut diperhatikan adalah cara industri hiburan memanfaatkan loyalitas penggemar melalui penjualan tiket berjenjang, paket VIP, merchandise eksklusif, dan berbagai fasilitas tambahan. Praktik tersebut tidak otomatis merugikan konsumen, tetapi informasi harga, ketentuan pembelian, dan mekanisme pengembalian dana perlu disampaikan secara transparan agar penggemar dapat mengambil keputusan dengan lebih sadar. Perlindungan konsumen menjadi relevan ketika pembelian tiket dilakukan secara daring, persaingan mendapatkan tiket berlangsung ketat, atau penonton menghadapi perubahan jadwal acara. Dengan begitu, pembicaraan mengenai konser sebagai bentuk self-reward tidak hanya berputar pada kemampuan menabung, tetapi juga menyentuh akses hiburan, transparansi harga, dan hak konsumen.

  5. 5. Takut pulang malam karena ruang publik belum aman bagi perempuan

    ilustrasi transportasi umum
    ilustrasi transportasi umum (commons.wikimedia.org/LN9267)

    Bagi sebagian perempuan, perjalanan pulang setelah bekerja lembur, menghadiri acara, atau bertemu teman tidak bisa dilakukan dengan pikiran yang sepenuhnya tenang. Rute yang gelap, halte yang sepi, trotoar yang terputus, minimnya pilihan transportasi pada malam hari, dan kekhawatiran mengalami pelecehan dapat membuat perjalanan singkat terasa jauh lebih melelahkan. Bahkan, ada perempuan yang sengaja menolak pekerjaan dengan jam pulang larut, tidak mengambil jadwal kegiatan tertentu, atau meninggalkan acara lebih awal karena harus mempertimbangkan keamanan perjalanan pulang.

    Situasi tersebut tidak cukup diselesaikan dengan imbauan agar perempuan lebih berhati-hati atau selalu meminta seseorang menjemput. Keamanan ruang publik juga berkaitan dengan kebijakan tata kota, penerangan jalan, desain halte, ketersediaan transportasi umum, pengawasan terhadap titik rawan, serta penanganan laporan kekerasan dan pelecehan. Penerangan yang memadai, misalnya, dapat membantu meningkatkan visibilitas di jalan, meskipun tidak dengan sendirinya menjamin seseorang bebas dari ancaman. Trotoar yang layak dan akses transportasi yang terintegrasi juga bisa mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, terutama bagi perempuan yang harus berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya.

    Perencanaan kota yang mempertimbangkan kebutuhan perempuan turut menentukan siapa yang dapat menggunakan ruang publik dengan nyaman dan pada jam berapa fasilitas tersebut dapat diakses. Ketika keamanan hanya dibebankan kepada individu, perempuan akhirnya harus mengeluarkan biaya, waktu, dan tenaga tambahan untuk menghindari risiko yang seharusnya juga ditangani melalui sistem pelayanan publik. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat perjalanan pulang, tetapi juga bisa memengaruhi kesempatan bekerja, pilihan tempat tinggal, akses pendidikan, dan kebebasan menikmati kehidupan sosial. Rasa aman, dengan demikian, bukan sekadar urusan pribadi perempuan, melainkan bagian dari hak warga untuk menggunakan ruang publik tanpa harus terus-menerus membatasi aktivitasnya karena takut menjadi korban.

    Urusan yang terlihat sangat personal sering kali memiliki hubungan dengan keputusan yang dampaknya dirasakan bersama oleh masyarakat. Memahami urusan perempuan yang punya sangkut paut dengan politik bukan berarti setiap masalah harus diserahkan kepada pemerintah, melainkan membantu kita membedakan persoalan yang bisa diselesaikan secara individual dan persoalan yang membutuhkan perubahan sistem. Semoga semakin banyak perempuan yang merasa berhak menyuarakan kebutuhannya tanpa harus menganggap kesulitan sehari-hari sebagai sesuatu yang wajar dan tidak bisa diubah. Dari lima persoalan di atas, mana yang paling dekat dengan pengalamanmu dan menurutmu perlu mendapat perhatian lebih besar dari para pengambil kebijakan?

    Refensi

    "Why Does Everything Seem Political?" Psychology Today. Diakses pada Oktober 2026.

    "'Menstrual poverty': Brazil tampon row gets political." France 24. Diakses pada Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More