Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Layoff Mengancam, Gen Z Harus Siap Perkuat Karier sejak Dini

Layoff Mengancam, Gen Z Harus Siap Perkuat Karier sejak Dini
ilustrasi stres saat bekerja (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya Sih
  • Gelombang layoff 2026 dipicu efisiensi, perlambatan ekonomi, perubahan strategi bisnis, dan pemanfaatan AI, sehingga Gen Z perlu terus beradaptasi agar tetap bernilai bagi perusahaan.
  • Gen Z dianjurkan meningkatkan keterampilan teknis dan nonteknis, sekaligus membangun portofolio serta personal branding digital untuk menunjukkan kompetensi dan membuka peluang kerja atau kolaborasi.
  • Menyiapkan penghasilan tambahan dan memperluas jaringan profesional sejak awal karier dapat menambah pengalaman, akses informasi lowongan, serta pilihan saat menghadapi perubahan pekerjaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gelombang layoff masih menjadi tantangan di dunia kerja sepanjang tahun 2026. Berbagai perusahaan melakukan efisiensi akibat perlambatan ekonomi, perubahan strategi bisnis, hingga pemanfaatan teknologi seperti AI. Kondisi ini membuat banyak pekerja mulai memikirkan cara agar tetap memiliki nilai di mata perusahaan.

Sebagai generasi yang banyak baru memulai karier, Gen Z perlu lebih siap menghadapi perubahan di dunia kerja. Karier yang kuat tidak hanya bergantung pada jabatan atau lama bekerja, tetapi juga kemampuan untuk terus berkembang dan beradaptasi. Berikut empat langkah yang bisa dilakukan Gen Z agar lebih siap menghadapi ketidakpastian di dunia kerja.

1. Terus tingkatkan keterampilan yang relevan

ilustrasi belajar
ilustrasi belajar (pexels.com/Karola G)

Perubahan di dunia kerja membuat kebutuhan perusahaan ikut berubah. Keterampilan yang dicari hari ini belum tentu tetap dibutuhkan beberapa tahun ke depan. Karena itu, Gen Z sebaiknya tidak berhenti belajar setelah lulus kuliah atau mendapatkan pekerjaan pertama. Mengikuti pelatihan, sertifikasi, atau mempelajari keahlian baru bisa menjadi cara untuk menjaga kemampuan tetap relevan.

Selain kemampuan teknis, perusahaan juga membutuhkan kemampuan kita dalam berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama dalam tim. Keterampilan tersebut tetap dibutuhkan meski banyak proses kerja mulai dibantu AI. Semakin banyak kemampuan yang bisa diterapkan dalam berbagai situasi, semakin besar pula peluang kita untuk beradaptasi ketika tuntutan pekerjaan berubah.

2. Bangun portofolio dan personal branding

ilustrasi linkedin
ilustrasi linkedin (pexels.com/Airam Dato-on)

CV memang penting, tetapi portofolio menunjukkan hasil kerja yang lebih nyata. Meski belum memiliki pengalaman kerja yang panjang, Gen Z tetap bisa membangun portofolio dari proyek selama kuliah, kegiatan organisasi, pekerjaan freelance, maupun hasil pelatihan yang pernah diikuti. Portofolio yang tersusun rapi akan memudahkan perekrut memahami kompetensi yang kita miliki.

Di sisi lain, personal branding membantu orang lain mengenali keahlian kita. Platform seperti LinkedIn dapat kita manfaatkan untuk membagikan pengalaman, pencapaian, atau wawasan sesuai bidang yang ditekuni. Kehadiran kita di dunia digital juga dapat membuka peluang kolaborasi maupun tawaran kerja di masa depan.

3. Jangan hanya mengandalkan satu sumber penghasilan

ilustrasi freelance
ilustrasi freelance (pexels.com/Vlada Karpovich)

Tidak ada salahnya jika kita mulai menyiapkan sumber penghasilan tambahan. Bentuknya tidak harus berupa bisnis besar. Kita bisa memanfaatkan kemampuan yang dimiliki untuk mengambil proyek freelance, mengajar secara online, menjual produk digital, atau menawarkan jasa sesuai keahlian.

Penghasilan tambahan bukan hanya membantu kondisi keuangan, tetapi juga memperluas pengalaman kerja. Kita dapat mempelajari cara menghadapi klien, mengatur waktu, hingga mengembangkan kemampuan baru di luar pekerjaan utama. Jika suatu saat terjadi perubahan dalam karier, kita memiliki lebih banyak pilihan untuk melangkah.

4. Bangun koneksi sejak awal karier

ilustrasi rekan kerja
ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Koneksi atau jaringan profesional sering kali menjadi pintu masuk berbagai peluang kerja. Banyak lowongan tidak diumumkan melalui situs rekrutmen, tetapi dibagikan melalui komunitas atau rekomendasi dari rekan kerja. Karena itu, bangunlah relasi sejak awal karier, bukan saat sedang mencari pekerjaan.

Mulailah mengenal lebih banyak orang melalui seminar, pelatihan, komunitas, atau media sosial seperti LinkedIn. Hubungan yang terjalin dengan baik dapat menjadi tempat bertukar informasi hingga berbagi pengalaman. Semakin luas jaringan yang kita miliki, semakin besar pula kesempatan untuk menemukan peluang baru di tengah kondisi dunia kerja yang cepat berubah.

Memulai karier bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan pertama, tetapi juga tentang bagaimana mempertahankannya dan terus berkembang. Karena itu, penting bagi Gen Z untuk membangun kemampuan, pengalaman, dan relasi sejak dini. Dengan persiapan tersebut, kita akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja, termasuk ketika gelombang layoff kembali terjadi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More