Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Campur Aduk Perasaan saat Mendadak Kena Layoff, Tidak Dihargai!

Campur Aduk Perasaan saat Mendadak Kena Layoff, Tidak Dihargai!
ilustrasi stres kena layoff (pexels.com/Khwanchai Phanthong)
Intinya Sih
  • Artikel menggambarkan pengalaman emosional karyawan yang mendadak terkena PHK tanpa pemberitahuan, mulai dari rasa syok hingga kebingungan menghadapi situasi tak terduga.
  • Karyawan masih bisa merasa lega jika perusahaan memenuhi pesangon dan hak-hak mereka secara adil tanpa drama, meski keputusan pemecatan tetap menyakitkan.
  • Pemecatan mendadak dianggap tidak etis, terutama bila dilakukan tanpa penghargaan terhadap dedikasi karyawan atau digantikan oleh orang dalam yang kurang kompeten.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pada dasarnya, setiap karyawan tahu bahwa bekerja ikut orang ada risiko dipecat kapan saja. Pekerja biasa tidak bisa mengatur kebijakan kantor seperti para petinggi, apalagi pemiliknya. Pada akhirnya, karyawan hanya dapat memperjuangkan hak-hak mereka seandainya itu terjadi.

Seharusnya pemecatan atau pemutusan hubungan kerja tidak seperti acara surprise. Umumnya, karyawan yang masuk daftar PHK sudah diberi tahu terlebih dahulu beberapa waktu sebelumnya. Bisa dalam hitungan bulan atau minggu.

Ini sangat penting supaya sambil tetap menjalankan tugas hingga hari terakhir bekerja, karyawan dapat mulai mencari pekerjaan lain. Harapannya, karyawan yang kena layoff tidak telantar setelah resmi berhenti bekerja di sana. Sayangnya, masih ada saja perusahaan nakal yang melakukan pemberhentian kerja semaunya sendiri atau secara tiba-tiba. Seperti apa perasaan saat mendadak kena layoff setelah bekerja sekian lama?

1. Syok, pagi masih masuk kerja dan siang atau sore dipecat

stres kena layoff
ilustrasi stres kena layoff (pexels.com/Vitaly Gariev)

Perasaan pertama yang amat kuat melanda, tentu syok. Seorang karyawan masih berangkat dan bekerja seperti biasa sejak pagi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu yang buruk hari itu.

Segalanya terasa lancar, bahkan mungkin menyenangkan. Akan tetapi, pimpinan rupanya punya rencana lain. Masih di tengah jam istirahat siang atau mendekati waktu pulang pada sore hari, ia dipanggil ke ruangan atasan.

Seperti petir di siang bolong, pemecatan itu pun disampaikan. Hari ini menjadi hari terakhirnya bekerja. Besok dia gak perlu datang lagi ke kantor. Silakan mengemasi barang-barang pribadi di ruang kerja hari ini juga. Keluar dari sana, tubuh pasti terasa sangat ringan seperti sejumput kapas yang diterbangkan angin. Bingung, tidak tahu harus melakukan apa, dan kenapa ini bisa terjadi?

2. Lega jika pesangon dan hak-hak lainnya dipenuhi tanpa drama

kena layoff
ilustrasi kena layoff (pexels.com/cottonbro studio)

Pemecatan secara tiba-tiba memang tidak diharapkan oleh siapa pun. Bahkan karyawan yang sebenarnya tak mencintai pekerjaannya juga pasti terkejut. Soal pekerjaan boleh bikin kurang kerasan.

Namun, siapa pun tetap butuh sumber pemasukan. Akan tetapi, bersama dengan kabar buruk kena layoff mendadak, seorang karyawan masih merasa cukup lega kalau pesangon berikut hak-hak lainnya dipenuhi tanpa banyak drama. Bahkan hak berupa uang sudah ditransfer sebelum keputusan pemecatan disampaikan.

Karyawan sampai kaget pagi-pagi mendapat kiriman uang yang cukup besar dari perusahaan. Walau ada perasaan senang karena mendadak saldo menggendut, pasti seketika muncul firasat buruk bahwa telah terjadi PHK. Bagian itu menyedihkan, tetapi masih mending perusahaan paham betul kewajibannya dan memenuhinya tanpa perlu didesak, apalagi didemo beramai-ramai.

3. Panik jika tinggal di asrama karyawan dan kudu out sekarang juga

sedih kena layoff
ilustrasi sedih kena layoff (pexels.com/AI25.Studio AI GENERATIVE)

Bekerja dengan fasilitas mess atau asrama untuk karyawan tentu menguntungkan. Pekerja tidak perlu membayar kos-kosan sendiri. Lokasinya biasanya juga sangat dekat dengan tempat kerja sehingga biaya transportasi dapat ditekan sampai nihil.

Namun, bila pemecatan dilakukan secara mendadak dan karyawan yang terkena layoff mesti cabut dari mess seketika itu juga, pasti bikin pusing. Bukan soal ada uang atau gak untuk indekos. Kemungkinan besar uang masih ada asalkan belakangan gaji tetap lancar.

Hanya saja membereskan begitu banyak barang pribadi dalam sekejap juga tak mudah. Kemudian, mencari kos-kosan yang barangkali baru dilakukan di malam hari. Kalau kebanyakan kos-kosan sudah penuh, ia hendak tidur di mana? Rasanya terlunta-lunta sekali diusir dari kantor sekaligus tempat tinggal selama ini.

4. Sakit hari karena merasa tidak dihargai

kesal kena layoff
ilustrasi kesal kena layoff (pexels.com/cottonbro studio)

Cara perusahaan memberhentikan karyawan menentukan perasaan mereka. Selama ini karyawan sudah bekerja sebaik mungkin. Bahkan di hari libur mereka masih kerap diganggu urusan pekerjaan yang tak ada habisnya.

Apa pun perintah atasan selalu dilaksanakan sebaik mungkin. Seharusnya, andai pun pemecatan harus dilakukan, tetap memakai cara-cara yang beretika. Seperti pemberitahuan jauh-jauh waktu bahwa bakal ada perampingan karyawan.

Siapa pun bakal merasa tidak senang apabila dedikasinya selama ini dibalas dengan pemecatan secara tiba-tiba. Seolah-olah mereka tak lebih dari kepingan puzzle yang bisa dicopot kapan saja tanpa memperhatikan perasaannya. Bukan begitu cara membalas orang-orang yang bertahun-tahun membantu membangun kejayaan perusahaan.

5. Makin nyesek bila penggantinya ordal dan minim kompetensi

stres kena layoff
ilustrasi stres kena layoff (pexels.com/Mikhail Nilov)

Segera setelah pemecatan terjadi, pasti posisi yang kosong bakal diisi oleh orang lain. Terutama jika alasan layoff bukan karena perusahaan dalam masalah keuangan yang serius. Jumlah karyawan tidak akan dikurangi.

Karyawan yang dipecat juga paham soal ini. Hanya saja, rasa sesak di dada pasti tak terelakkan kalau penggantinya ternyata punya hubungan khusus dengan orang dalam. Misalnya, dia digantikan oleh anak sang manajer.

Ia masih merasa gak apa-apa seandainya anak manajer itu punya kemampuan yang mumpuni. Namun, menjengkelkan sekali kalau modal untuk mendapatkan posisi tersebut semata-mata faktor keluarga. Padahal, tidak mudah untukmu dahulu melewati berbagai tahapan sampai bisa duduk di posisi tersebut.

Pemberhentian kerja memang seharusnya tetap memperhatikan peraturan dan etika. Jangan seakan-akan perusahaan membuang karyawan yang selama ini setia dan bekerja dengan penuh kesungguhan. Perasaan saat mendadak kena layoff sangatlah tidak menyenangkan bagi pekerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More