Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Pekerja yang Malas Malah Lebih Produktif? Ini Alasannya!
ilustrasi produktif bekerja (pexels.com/Vlada Karpovich)
  • Istilah pekerja “malas” dalam konteks ini merujuk pada orang yang menghindari pekerjaan tak perlu dan mencari cara lebih efisien, bukan menunda atau tidak mau bekerja.
  • Mereka cenderung bekerja lebih cerdas dengan memprioritaskan tugas berdampak besar, menyederhanakan proses, serta menghemat waktu dan energi tanpa mengorbankan hasil.
  • Sikap selektif membantu mereka menetapkan batasan, menolak tugas di luar tanggung jawab, memecah masalah kompleks, dan mencari solusi sejak dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak yang berkata bahwa setiap orang harus menjadi pekerja keras atau workaholic untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tentu saja, hal tersebut tidak sepenuhnya salah karena dengan bekerja keras, kita bisa berusaha mencapai apa yang diinginkan. Bekerja keras merupakan bentuk usaha dalam meraih mimpi dan menjadi cara yang dilakukan banyak orang untuk mencapai tujuan.

Namun, beberapa orang justru berpendapat bahwa menjadi pekerja yang 'malas' bisa membuat seseorang lebih produktif. Perlu digarisbawahi, kita tidak sedang membicarakan kemalasan seperti berbaring di tempat tidur sepanjang hari sambil bermain game atau menggulir media sosial. Dalam konteks ini, 'malas' lebih mengarah pada kecenderungan untuk menghindari pekerjaan yang tidak perlu dan mencari cara yang lebih efisien untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Bill Gates juga pernah dikaitkan dengan pernyataan bahwa ia memilih orang malas untuk melakukan pekerjaan sulit karena mereka akan menemukan cara yang lebih mudah untuk menyelesaikannya. Lantas, apa alasan pekerja yang 'malas' bisa lebih produktif? Simak penjelasannya!

1. Bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras

ilustrasi bekerja cerdas (pixabay.com/Jannonivergall)

Apa yang mungkin dianggap sebagai kemalasan terkadang merupakan pendekatan yang lebih strategis terhadap pekerjaan. Individu dengan sikap 'malas' ini cenderung fokus pada efisiensi dan memprioritaskan tugas yang memiliki dampak lebih besar. Karena itu, kecenderungan untuk tidak ingin menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak diperlukan terkadang dapat mendorong seseorang menemukan cara yang lebih praktis untuk menyelesaikan pekerjaan.

Sandrine Mualaw, konsultan SDM, dikutip dari Heart to Heart Consulting, mengatakan bahwa pekerja yang 'malas' tidak selalu melakukan pekerjaan lebih sedikit. Mereka hanya berusaha mengurangi hal-hal yang dianggap tidak penting dan mencari cara untuk menyederhanakan pekerjaan, sehingga dapat mencapai hasil yang baik tanpa menghabiskan energi secara berlebihan.

2. Menetapkan batasan dan berani berkata tidak

ilustrasi membatasi diri (unsplash.com/Jason Goodman)

Orang malas sering kali dianggap sebagai mereka yang tidak ingin melakukan pekerjaan sulit atau pekerjaan yang membuat mereka kesulitan. Namun dalam konteks efisiensi, sikap tersebut juga bisa membuat seseorang lebih selektif dalam menentukan pekerjaan yang perlu dilakukan. Mereka dapat menetapkan batasan yang jelas agar tidak terlalu banyak mengerjakan hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan.

Sandrine juga menambahkan bahwa pekerja yang 'malas' cenderung menghindari mengambil terlalu banyak tugas dan tidak takut menolak tanggung jawab tambahan yang tidak sejalan dengan tujuan mereka. Pendekatan yang lebih selektif ini memungkinkan mereka untuk fokus pada tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya dan mempertahankan kinerja dengan baik.

“Pekerja yang malas bukanlah mereka yang tidak ingin menyelesaikan pekerjaannya. Lebih kepada mereka bisa membatasi apa yang memang harus mereka kerjakan dan menolak apa yang menurut mereka bukan tanggung jawabnya,” kata Sandrine.

3. Memahami sebuah tantangan

ilustrasi berani menghadapi tantangan (unsplash.com/burakbasgoze)

Orang yang mengutamakan efisiensi cenderung tidak langsung melihat sebuah masalah sebagai sesuatu yang besar dan sulit diselesaikan. Mereka mencoba memahami bagian-bagian kecil yang membentuk masalah tersebut. Dengan begitu, sebuah tantangan yang terlihat rumit dapat dibagi menjadi beberapa bagian yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk ditangani.

Mereka juga memahami bahwa masalah kecil yang dibiarkan terlalu lama dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Karena itu, mereka berusaha mencari solusi sedini mungkin agar pekerjaan tidak semakin rumit. Cara berpikir seperti ini dapat membantu seseorang menghemat waktu dan tenaga ketika menghadapi sebuah tantangan.

“Berkali-kali, anggota staf saya yang malas membuat saya terkesan dengan kemampuan mereka untuk mengidentifikasi solusi, membagi tugas, dan menyelesaikan pekerjaan dalam sekejap mata,” ungkap Shawn Freeman, pendiri TWT Group yang berbasis di Calgary, dikutip dari Business Collective.

Pada akhirnya, pekerja yang disebut 'malas' tidak selalu berarti mereka yang suka menunda pekerjaan atau tidak mau bekerja. Dalam konteks ini, istilah tersebut lebih menggambarkan orang yang berusaha menggunakan waktu dan energi secara efisien dengan mencari cara yang lebih praktis untuk menyelesaikan pekerjaan. Mereka juga memahami batas kemampuan dan tanggung jawabnya, sehingga tidak segan menolak pekerjaan yang dianggap berada di luar kapasitas atau bukan menjadi tanggung jawabnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article