Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Performative Sanctity: Citra Kesalehan yang Kerap Berujung Kecewa

4 min read
Performative Sanctity: Citra Kesalehan yang Kerap Berujung Kecewa
ilustrasi orang saleh (pexels.com/Zila Sirr An Nurr)

Pernahkah kamu dibuat heran oleh fenomena kontrasnya perilaku seseorang dengan kesan religius yang selalu ditampilkannya di media sosial atau berbagai siaran? Misalnya, oknum pemuka agama justru melakukan pengeroyokan, kekerasan seksual, penipuan, penghinaan, dan sebagainya. Bukan pemuka agama pun bisa berbuat hal yang sama.

Status-statusnya konsisten penuh kebajikan seperti potongan firman Tuhan, selalu mengingatkan orang agar berbuat baik, dan terlihat kerap menolong sesama. Namun, perilakunya di dunia nyata amat lain. Ia mungkin ketahuan suka bersikap kasar serta semena-mena.

Seluruh fenomena di atas memenuhi ciri-ciri performative sanctity atau pertunjukan kesalehan. Performative sanctity juga kerap disebut sebagai panggung teater/sandiwara agama dan kesalehan palsu. Berikut penjelasannya.

  1. 1. Benar-benar saleh vs terlihat saleh

    Ilustrasi orang saleh dengan suasana religius yang menggambarkan ketakwaan dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
    ilustrasi orang saleh (pexels.com/Nothing Ahead)

    Orang yang sibuk mencitrakan dirinya taat dalam beragama dan selalu bijaksana tidak benar-benar saleh dalam keseharian. Ia hanya secara sadar ingin mendapat penilaian tinggi dalam hal moralitas serta religiositas. Dia menonjolkan satu sisi saja dalam hidupnya.

    Itu pun penuh rekayasa atau cuma dipilih bagian-bagian tertentu yang memperkuat kesan keimanannya tinggi. Urusan yang seharusnya cukup antara dirinya sebagai hamba dengan Tuhan diekspos sampai sedemikian rupa. Ia berusaha mempertahankan topeng kesalehannya.

    Ini sangat berbeda dengan perilaku orang yang sungguh-sungguh saleh. Orang yang mendalami agamanya dengan baik justru tidak sibuk melakukan pencitraan. Sebab setiap ucapan serta perbuatannya di dunia nyata telah otomatis menggambarkan tingkat keimanannya.

    Kesalehan sejati juga kerap mendorong orang hidup sesederhana mungkin. Ini tidak terbatas terkait barang-barang yang dipakainya. Namun, juga seluruh perkataan serta perilakunya. Termasuk ia tak berusaha keras terlihat sebagai si paling beriman dan suci dari dosa.

  2. 2. Pengaruh kepentingan pribadi dan dukungan sosial

    Ilustrasi narasumber podcast berbicara di depan mikrofon saat sesi rekaman audio di dalam studio.
    ilustrasi narasumber podcast (pexels.com/Erman Kayıkcı)

    Pertanyaan paling menggelitik ialah kenapa orang sampai merasa perlu membuat dirinya terkesan saleh? Apa yang dicarinya dari tindakan tersebut? Ini berkaitan dengan motivasi pribadi untuk memperoleh keuntungan materi maupun nonmateri.

    Dengan ia terkenal saleh, orang akan segan padanya. Rasa segan memudahkannya memperoleh apa pun yang diinginkannya dari orang lain. Dia juga memperoleh kepercayaan besar berkat citra positif tersebut.

    Soal akhirnya nanti orang benar-benar puas dengan sosoknya atau justru kecewa tidak pernah terlalu dipikirkannya. Terpenting tujuannya tercapai dulu. Sementara itu, lingkungan juga secara gak langsung mendukung performative sanctity. Ini tecermin dari pemujaan mereka terhadap orang yang kelihatannya taat beragama.

  3. 3. Kelelahan pribadi serta orang-orang yang merasa tertipu

    Ilustrasi sosok orang saleh sebagai representasi ketakwaan dan perilaku baik, dari Pexels oleh Lance He.
    ilustrasi orang saleh (pexels.com/lance he)

    Kepalsuan dalam beragama pada akhirnya akan menimbulkan akibat negatif baik pada orang lain maupun pelaku sendiri. Orang yang terjebak dalam perasaan harus terlihat seperti orang saleh tak henti-hentinya memikul beban berat. Ia hidup dalam kepura-puraan yang melelahkan.

    Dia tidak berbuat sangat berhati-hati demi menyelamatkan dirinya dari dosa, melainkan semata-mata sangat khawatir kehilangan rasa kagum orang-orang. Padahal, ia tak lebih dari manusia biasa. Dia dapat melakukan kesalahan bahkan menginginkan hal-hal yang bertentangan dengan standar kesalehan yang tinggi.

    Orang-orang yang telanjur memercayai kesalehannya juga bisa dirugikan besar-besaran. Mereka dapat mengalami kerugian materi. Misalnya, mereka menjadi korban penipuan orang yang terkenal alim. Bahkan mereka bisa menjadi korban eksploitasi seksual seperti kejadian yang marak di lingkungan pendidikan berbasis agama.

  4. 4. Pentingnya penghayatan penuh dalam beragama

    Ilustrasi seseorang berdoa dengan tangan terlipat sebagai ekspresi ibadah, harapan, dan ketenangan rohani.
    ilustrasi berdoa (pexels.com/Thirdman)

    Semua orang harus mewaspadai jebakan performative sanctity. Agama dan setiap ajarannya harus kembali ditempatkan di posisi tertinggi. Bukan keduanya justru dijadikan alat guna seseorang memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

    Apalagi tindakan tersebut sampai merugikan orang lain. Agama mesti dipelajari dengan hati-hati serta diresapi. Kalau pemahaman tentang agama baik, tentu orang tidak perlu ribet sendiri dengan ingin tampak saleh di mata manusia.

    Bukan validasi dari sesama manusia yang dicarinya, melainkan ganjaran dari Tuhan. Begitu pula masyarakat luas perlu terus disadarkan bahwa kesalehan sejati tak dapat diukur hanya dari penampilan atau unggahan-unggahan di medsos. Masyarakat harus kritis serta tidak mudah memercayai, mengagumi, apalagi menuruti orang yang kelihatannya saleh padahal belum tentu aslinya sama.

    Performative sanctity tidak boleh disepelekan dan dianggap sebatas urusan pribadi orang yang melakukannya. Dampaknya bisa sangat luas, seperti berbagai kasus kekerasan seksual oleh pemuka atau pengajar agama. Di ranah pribadi pun, topeng kesalehan mengikis sisi manusiawi. Ini menciptakan kelelahan psikis sampai rasa bersalah untuk hal-hal yang bukan dosa sekalipun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More