4 Red Flag di CV yang Bikin Rekruter Skip, Menurut Eks Rekruter Google

- Mantan rekruter Google Farah Sharghi menekankan CV harus cepat dipahami; pengalaman kerja perlu dijelaskan dengan konteks perusahaan, proyek, peran, dan kontribusi yang jelas.
- Angka pencapaian perlu disertai asal serta dampaknya, agar rekruter tidak perlu menebak apakah hasil tersebut berasal dari penjualan, kampanye, atau penghematan biaya.
- CV sebaiknya menghindari singkatan internal dan kata sifat umum; gunakan bahasa langsung serta bukti konkret, seperti tugas, skala tim, durasi, dan hasil kerja.
CV memang menjadi pintu pertama sebelum rekruter mengenal kamu lebih jauh. Sayangnya, pengalaman kerja yang sebenarnya menarik bisa saja terlewat kalau isi CV terlalu rumit, penuh istilah internal, atau hanya berisi klaim tanpa bukti.
Farah Sharghi, mantan technical recruiter di Google yang juga pernah bekerja di TikTok, Uber, Lyft, dan The New York Times, membagikan beberapa hal yang sering membuat CV kandidat kurang efektif. Dilansir CNBC, ia mengingatkan bahwa rekruter perlu bisa menangkap inti pengalaman kandidat dengan cepat. Yuk, cek empat red flag berikut sebelum mengirim lamaran!
1. Pengalaman kerja ditulis terlalu “orang dalam”

Ilustrasi mencari kerja (pexels.com/ Christina Morillo) Kamu tentu paling paham dengan pekerjaan yang pernah dilakukan. Namun, rekruter yang membaca CV belum tentu mengenal perusahaan, proyek, atau istilah yang kamu gunakan sehari hari. Kalau deskripsinya terlalu spesifik, mereka justru bisa kesulitan memahami apa sebenarnya kontribusimu.
Coba tulis pengalaman kerja seolah kamu sedang menjelaskannya kepada seseorang dari industri yang berbeda. Jelaskan secara singkat konteks perusahaan atau proyek, kemudian baru uraikan peran dan hasil yang kamu kerjakan. Dengan begitu, pengalamanmu tetap mudah dipahami meski pembacanya gak punya latar belakang yang sama.
2. Memajang angka tanpa menjelaskan hasilnya

Ilustrasi seleksi kerja (freepik.com/pch.vector) Angka memang bisa membuat pencapaian terlihat lebih nyata. Akan tetapi, menulis nominal, jumlah, atau persentase tanpa konteks justru membuat rekruter harus menebak sendiri apa arti angka tersebut.
Misalnya, daripada hanya menulis “menghasilkan Rp630 juta”, jelaskan dari mana angka itu berasal dan apa dampaknya bagi perusahaan. Kalau angka tersebut merupakan hasil penjualan, kampanye, atau penghematan biaya, tuliskan konteksnya supaya pencapaianmu bisa langsung terbaca.
3. Memakai singkatan yang cuma dipahami kantor lama

ilustrasi kerja (freepik.com/pressfoto) Punya pengalaman menggunakan sistem atau tools tertentu memang layak dicantumkan? Namun, jangan biarkan CV dipenuhi singkatan yang hanya dimengerti oleh rekan satu tim di pekerjaan sebelumnya.
Misalnya, kamu menulis “PIC untuk OKR Q3 dan koordinasi dengan PMO”. Bagi orang yang gak familier dengan istilah tersebut, kalimatnya bisa terasa membingungkan. Lebih baik tuliskan perannya secara langsung, seperti “memimpin pemantauan target tim pada kuartal ketiga dan berkoordinasi dengan tim pengelola proyek”.
4. Mengandalkan kata sifat daripada bukti

ilustrasi kerja (freepik.com/jcomp) Menulis “pekerja keras”, “team player”, atau “memiliki komunikasi yang baik” gak otomatis membuat rekruter yakin dengan kemampuanmu. Kata kata tersebut terlalu umum dan bisa ditemukan di banyak CV kandidat lain.
Coba ganti klaim dengan pengalaman nyata. Misalnya, daripada menulis “memiliki kemampuan leadership”, jelaskan bahwa kamu pernah memimpin tim berisi enam orang untuk menyelesaikan kampanye dalam waktu tiga minggu dan berhasil mencapai target yang ditentukan. Bukti konkret membuat kemampuanmu terasa jauh lebih meyakinkan.
CV yang baik bukan yang paling banyak isinya, tetapi yang paling mudah dipahami dan menunjukkan nilai dari pengalamanmu. Sebelum mengirim lamaran, coba cek lagi setiap poin dan tanyakan: "Apakah rekruter bisa langsung tahu apa yang aku kerjakan dan hasil yang aku berikan?"





















