Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)
Ketika AI semakin banyak digunakan sebagai “rekan kerja digital”, manusia tidak otomatis kehilangan peran. Justru kemampuan menentukan tujuan, membagi pekerjaan, mengoordinasikan orang, dan mengambil keputusan menjadi semakin penting. Seseorang mungkin dapat meminta AI membuat lima alternatif strategi, tetapi tetap manusia yang harus menentukan strategi mana yang paling sesuai dengan kondisi perusahaan dan konsekuensi yang mungkin muncul.
World Economic Forum menempatkan leadership and social influence sebagai skill inti nomor tiga pada 2025, dengan 61 persen perusahaan menganggapnya penting. WEF juga menyebut kemampuan kepemimpinan dan pengaruh sosial termasuk skill yang diperkirakan terus meningkat kebutuhannya dalam lima tahun mendatang.
"Ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan, bersama dengan kepemimpinan dan pengaruh sosial, yang menggarisbawahi peran penting kemampuan beradaptasi dan kolaborasi di samping keterampilan kognitif," jelasnya.
"Kepemimpinan dan pengaruh sosial, AI dan big data, manajemen talenta, serta orientasi layanan dan layanan pelanggan, semuanya menunjukkan peningkatan relevansi yang nyata," tambahnya.
Dengan kata lain, semakin AI mengambil alih tugas-tugas rutin, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan arah, bekerja sama, memimpin orang lain, dan bertanggung jawab atas keputusan. Jadi, kemampuan-kemampuan yang sudah dijelaskan di atas akan memberi dampak dan membantumu di era AI sekarang.
Era AI bukan berarti manusia harus mengalahkan mesin dalam segala hal. Justru tantangannya adalah mengetahui bagian mana yang sebaiknya dikerjakan AI dan bagian mana yang tetap membutuhkan manusia. Investasi karier di era AI bukan hanya belajar memakai teknologi terbaru, tetapi juga memperkuat kemampuan manusia yang membuat kita mampu berpikir, memahami, memutuskan, dan terus berkembang.