Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Skill yang Justru Makin Berharga di Era AI, Kamu Punya?

5 Skill yang Justru Makin Berharga di Era AI, Kamu Punya?
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)
Share Article

Kehadiran artificial intelligence (AI) memang mengubah cara manusia bekerja. Banyak tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa dibantu dalam hitungan menit, mulai dari membuat rangkuman, menganalisis data, mencari informasi, sampai menghasilkan draft tulisan.

Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya: kalau AI semakin pintar, skill apa yang masih akan dibutuhkan manusia? Jawabannya ternyata bukan sekadar kemampuan teknis.

  1. 1. Berpikir kritis dan menganalisis informasi

    Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)
    Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)

    AI bisa memberikan jawaban dengan cepat, tetapi cepat bukan berarti selalu benar. Pengguna tetap perlu memeriksa apakah informasi yang diberikan masuk akal, apakah sumbernya dapat dipercaya, apakah ada konteks yang terlewat, dan apakah kesimpulannya sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi.

    Itulah kenapa kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu skill penting yang membedakan orang yang sekadar menggunakan AI dengan orang yang mampu memanfaatkannya secara efektif. World Economic Forum (WEF) menempatkan analytical thinking sebagai skill inti nomor satu yang paling dibutuhkan perusahaan pada 2025. Sebanyak 69 persen perusahaan yang disurvei menganggap kemampuan tersebut sebagai skill inti bagi pekerja.

    "Berpikir analitis tetap menjadi keterampilan inti yang paling dicari oleh pemberi kerja; tujuh dari sepuluh perusahaan menganggapnya sebagai hal yang esensial pada tahun 2025," dikutip dalam Future of Jobs Report 2025 World Economic Forum.

    Laporan yang sama juga menjelaskan bahwa AI saat ini masih memiliki keterbatasan dalam tugas yang membutuhkan nuanced judgment atau penilaian yang membutuhkan konteks dan pertimbangan manusia. Jadi, kemampuan berpikir kritis dan menganalisis informasi masih sangat penting.

    "Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan GenAI saat ini masih terbatas dalam menjalankan tugas-tugas yang memerlukan pelaksanaan fisik, penilaian yang mempertimbangkan nuansa (nuanced judgment), atau penerapan secara langsung," demikian laporannya.

  2. 2. Kreativitas dan kemampuan menghasilkan ide

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

    AI memang mampu menghasilkan teks, gambar, musik, desain, hingga berbagai alternatif ide. Namun, kreativitas manusia tidak hanya soal menghasilkan sesuatu yang terlihat baru. Kreativitas juga berkaitan dengan kemampuan memahami masalah, menemukan sudut pandang berbeda, menggabungkan berbagai informasi, dan menentukan ide mana yang benar-benar relevan.

    World Economic Forum memasukkan creative thinking sebagai skill inti nomor empat pada 2025. Sebanyak 57 persen perusahaan yang disurvei menganggapnya sebagai skill inti. Bahkan, WEF menempatkan creative thinking sebagai salah satu kemampuan yang diperkirakan terus meningkat pentingnya sampai 2030, berdampingan dengan AI and big data, resilience, flexibility and agility, serta curiosity and lifelong learning.

    "Industri memprediksi peningkatan permintaan akan keterampilan AI dan big data, pemikiran kreatif, jaringan dan keamanan siber, serta pemikiran sistem, desain dan pengalaman pengguna (user experience), dan manajemen sumber daya," demikian laporan World Economic Forum.

  3. 3. Empati dan kemampuan berkomunikasi

    Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)
    Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)

    AI dapat membantu membuat email, merangkum rapat, menyusun presentasi, bahkan memberikan saran mengenai cara menyampaikan pesan. Namun, memahami perasaan seseorang dalam situasi tertentu tetap membutuhkan konteks manusia. Kalimat yang terdengar sempurna secara tata bahasa belum tentu tepat jika dikirim kepada orang yang sedang kecewa, menghadapi masalah, atau membutuhkan pendekatan yang berbeda.

    World Economic Forum menempatkan empathy and active listening sebagai salah satu dari 10 skill inti paling dibutuhkan perusahaan pada 2025. Sebanyak 50 persen perusahaan yang disurvei menganggap kemampuan tersebut sebagai skill inti. Ini menunjukkan bahwa kemampuan mendengarkan, memahami perspektif orang lain, dan merespons dengan tepat bukan skill “tambahan”, melainkan bagian dari kompetensi profesional.

    "Sepuluh keterampilan inti tersebut dilengkapi dengan literasi teknologi, empati dan kemampuan mendengarkan secara aktif, rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang hayat, manajemen talenta, serta orientasi pelayanan dan layanan pelanggan," jelasnya.

  4. 4. Adaptasi dan kemauan untuk terus belajar

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)

    Skill yang dibutuhkan hari ini belum tentu sama dengan skill yang paling dibutuhkan lima tahun mendatang. AI sendiri berkembang sangat cepat, sehingga seseorang yang merasa sudah “cukup pintar” dengan satu teknologi berisiko tertinggal ketika cara kerja baru muncul. Karena itu, kemampuan belajar kembali dan beradaptasi menjadi semakin penting.

    Dalam Future of Jobs 2025, WEF menempatkan resilience, flexibility and agility sebagai skill inti nomor dua. Curiosity and lifelong learning juga masuk 10 besar. WEF memperkirakan bahwa pada 2030 sekitar 59 dari setiap 100 pekerja akan membutuhkan pelatihan atau peningkatan skill agar tetap relevan.

    "Sebagai contoh, industri pengelolaan asuransi dan dana pensiun memberikan nilai yang jauh lebih tinggi pada rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning); sebanyak 83 persen responden menganggapnya sebagai keterampilan inti, dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 50 persen," demikian laporannya.

  5. 5. Kepemimpinan, kolaborasi, dan pengambilan keputusan

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)

    Ketika AI semakin banyak digunakan sebagai “rekan kerja digital”, manusia tidak otomatis kehilangan peran. Justru kemampuan menentukan tujuan, membagi pekerjaan, mengoordinasikan orang, dan mengambil keputusan menjadi semakin penting. Seseorang mungkin dapat meminta AI membuat lima alternatif strategi, tetapi tetap manusia yang harus menentukan strategi mana yang paling sesuai dengan kondisi perusahaan dan konsekuensi yang mungkin muncul.

    World Economic Forum menempatkan leadership and social influence sebagai skill inti nomor tiga pada 2025, dengan 61 persen perusahaan menganggapnya penting. WEF juga menyebut kemampuan kepemimpinan dan pengaruh sosial termasuk skill yang diperkirakan terus meningkat kebutuhannya dalam lima tahun mendatang.

    "Ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan, bersama dengan kepemimpinan dan pengaruh sosial, yang menggarisbawahi peran penting kemampuan beradaptasi dan kolaborasi di samping keterampilan kognitif," jelasnya.

    "Kepemimpinan dan pengaruh sosial, AI dan big data, manajemen talenta, serta orientasi layanan dan layanan pelanggan, semuanya menunjukkan peningkatan relevansi yang nyata," tambahnya.

    Dengan kata lain, semakin AI mengambil alih tugas-tugas rutin, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan arah, bekerja sama, memimpin orang lain, dan bertanggung jawab atas keputusan. Jadi, kemampuan-kemampuan yang sudah dijelaskan di atas akan memberi dampak dan membantumu di era AI sekarang.

    Era AI bukan berarti manusia harus mengalahkan mesin dalam segala hal. Justru tantangannya adalah mengetahui bagian mana yang sebaiknya dikerjakan AI dan bagian mana yang tetap membutuhkan manusia. Investasi karier di era AI bukan hanya belajar memakai teknologi terbaru, tetapi juga memperkuat kemampuan manusia yang membuat kita mampu berpikir, memahami, memutuskan, dan terus berkembang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More