Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Antara Karier atau Rumah, 6 Stigma Ini Sering Melekat pada Ibu Bekerja

ilustrasi ibu sedang bekerja sambil menggendong bayi
ilustrasi ibu sedang bekerja sambil menggendong bayi (pexels.com/Sarah Chai)
Intinya sih...
  • Ibu bekerja sering mendapat stigma kurang perhatian pada anak dan tidak fokus bekerja.
  • Mereka kerap disalahkan atas masalah keluarga dan dicap ambisius atau egois.
  • Tekanan untuk selalu sempurna dan minim dukungan sosial membuat peran ibu bekerja makin berat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi ibu bekerja kerap dianggap berdiri di dua dunia yang berlawanan. Di satu sisi, ada tanggung jawab profesional yang menuntut komitmen. Di sisi lain, ada peran sebagai ibu yang juga tidak bisa ditinggalkan. Sayangnya, posisi ibu bekerja kerap dibarengi dengan berbagai stigma yang tidak selalu diucapkan terang-terangan.

Stigma-stigma ini muncul dari ekspektasi sosial yang sudah lama tertanam. Akibatnya, banyak ibu bekerja merasa serbasalah, apa pun pilihan yang diambil. Padahal, kondisi setiap keluarga sangat beragam dan hanya ibu yang tahu apa yang terbaik untuk keluarganya masing-masing.

1. Dianggap kurang perhatian pada anak

ilustrasi ibu dan anak sedang membaca buku bersama
ilustrasi ibu dan anak sedang membaca buku bersama (pexels.com/Kindel Media)

Salah satu stigma paling umum ialah anggapan bahwa ibu yang bekerja biasanya kurang perhatian pada anak. Jam kerja yang panjang kerap dijadikan tolok ukur kualitas pengasuhan, seolah kehadiran fisik sepanjang hari jadi satu-satunya bentuk kepedulian. Padahal, kualitas waktu dan keterlibatan emosional tidak selalu ditentukan oleh lamanya waktu di rumah. Banyak ibu bekerja yang tetap aktif terlibat dalam tumbuh kembang anak meski punya waktu terbatas.

2. Dipandang tidak sepenuhnya fokus pada pekerjaan

ilustrasi perempuan sedang bekerja
ilustrasi perempuan sedang bekerja (vecteezy.com/IVAN SVIATKOVSKYI)

Di dunia kerja, perempuan yang sudah memiliki anak kerap dianggap tidak bisa totalitas dalam bekerja karena fokus terbagi antara pekerjaan dan urusan keluarga. Saat meminta fleksibilitas atau izin, ini kerap langsung dikaitkan dengan kurangnya profesionalisme. Stigma ini membuat ibu bekerja harus berusaha lebih keras untuk membuktikan kapasitas mereka. Bukan karena tidak mampu, tapi ini karena ada stigma yang masih melekat.

3. Selalu disalahkan saat ada masalah di rumah

ilustrasi anak melihat orangtua bertengkar
ilustrasi anak melihat orangtua bertengkar (pexels.com/cottonbro)

Ketika anak sakit, prestasi anak menurun, atau ada masalah di rumah, ibu acap kali menjadi orang pertama yang disalahkan. Pilihan untuk berkarier seolah langsung dikaitkan sebagai akar dari segala masalah dalam keluarga. Padahal, masalah keluarga bisa muncul dalam kondisi apa pun, terlepas dari status ibu bekerja atau tidak.

4. Dicap terlalu ambisius atau egois

perempuan sedang bekerja
ilustrasi perempuan sedang bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ada anggapan bahwa ibu yang memilih tetap bekerja berarti lebih mementingkan karier daripada keluarga, khususnya anak. Label ambisius atau egois kerap disematkan tanpa benar-benar memahami latar belakang keputusan mereka. Padahal, bagi sebagian ibu, mereka memilih untuk tetap bekerja karena tuntutan ekonomi. Bagi yang lain, bekerja merupakan bagian dari identitas diri. Keduanya sah dan tidak layak dihakimi.

5. Tekanan untuk selalu tampil sempurna

ilustrasi orangtua merasa lelah
ilustrasi orangtua merasa lelah (pexels.com/Yan Krukau)

Ibu bekerja sering dituntut untuk berhasil dalam dua peran sekaligus. Di kantor harus produktif, di rumah harus tetap bisa menjalankan peran sebagai ibu dan istri secara sempurna. Tekanan ini tidak selalu datang dari luar, tapi juga dari ekspektasi diri sendiri. Saat tidak mampu memenuhi standar tersebut, ada rasa bersalah yang muncul dari dalam diri. Padahal, tidak ada definisi mutlak tentang ibu yang sempurna itu seperti apa.

6. Minimnya dukungan sosial

ilustrasi perempuan merasa lelah
ilustrasi perempuan merasa lelah (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Stigma juga bisa muncul dalam bentuk kurangnya dukungan sosial. Alih-alih dibantu, ibu bekerja justru sering disalahkan, diberi komentar yang melemahkan, atau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Dukungan sosial yang minim membuat ibu bekerja merasa sendirian dalam menjalani peran mereka.

Stigma yang menempel pada ibu bekerja tidak hanya melelahkan secara emosional, tapi juga membentuk rasa bersalah dalam diri ibu sendiri. Dengan memahami bahwa setiap ibu memiliki kondisi dan pilihan yang berbeda, diharapkan ruang empati bisa tumbuh lebih luas. Ibu bekerja tidak perlu dikomentari karena merekalah yang paling tahu kebutuhan keluarganya masing-masing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

Apakah Puasa Nisfu Syaban Bisa Digabung Puasa Ganti Ramadan?

26 Jan 2026, 15:55 WIBLife