Menurut Martin Poduška, pimpinan redaksi sekaligus penulis di Kickresume, "Tanda-tanda quiet cracking yang terlihat sangat mirip dengan burnout. Kamu mungkin menyadari bahwa dirimu mulai kehilangan motivasi dan antusiasme terhadap pekerjaan, merasa tidak berguna, atau bahkan marah dan mudah tersinggung," dikutip dari Fortune.
Bukan Cuma Capek Kerja, Kenali 3 Tanda Kamu Alami Quite Cracking

Pulang kerja dengan tubuh lelah memang wajar. Namun, bagaimana kalau bukan cuma tubuh yang terasa capek, tetapi kamu juga mulai kehilangan semangat, merasa tidak mood mengerjakan pekerjaan, dan menjalani hari kerja hanya karena harus melakukannya?
Kondisi seperti ini belakangan dikenal sebagai quiet cracking. Berbeda dengan quiet quitting, quiet cracking lebih menggambarkan kondisi saat seseorang perlahan kehilangan gairah dan keterikatan terhadap pekerjaannya.
Dari luar, seseorang mungkin terlihat bekerja seperti biasa, tetapi dalam dirinya mulai muncul rasa tidak bersemangat dan mempertanyakan kembali tujuan dari pekerjaan yang dijalani. Kalau belakangan kamu merasa hal-hal yang serupa, coba kenali beberapa tanda quiet cracking ini.
1. Semangat dan motivasi kerja perlahan menghilang

ilustrasi tidak termotivasi (pexels.com/Karolina Grabowska) Salah satu tanda yang cukup mudah kamu rasakan adalah ketika pekerjaan yang sebelumnya masih bisa membuat kamu bersemangat mulai terasa hambar. Kamu mungkin tetap menjalankan tugas dan datang ke kantor tepat waktu, tetapi tidak lagi memiliki antusiasme untuk mengerjakan sesuatu yang baru.
2. Mulai merasa tidak punya ruang untuk berkembang

ilustrasi karier stuck dan gak berkembang (Pexels.com/Andrea Piacquadio) Ketika bekerja, seseorang tidak hanya menyelesaikan tugas dan menerima gaji setiap bulannya. Ada kalanya seseorang juga perlu apresiasi atas usaha yang dilakukan serta kesempatan untuk belajar dan berkembang dalam pekerjaannya.
Saat peluang untuk mendapatkan pengalaman baru atau mengembangkan karier semakin terbatas, kamu perlahan bisa merasa pekerjaanmu tidak lagi memiliki arah. Kondisi tersebut bisa menjadi pemicu quiet cracking.
"Quiet cracking bisa terjadi ketika manager tidak memberikan dukungan dan apresiasi yang cukup, sehingga karyawan merasa kurang dihargai," ujar Peter Duris, CEO dan co-founder Kickresume, dilansir dari Human Resource Director (HRD).
3. Mulai menarik diri dari pekerjaan

ilustrasi menarik diri dari interaksi sosial (freepik.com/freepik) Kamu mungkin masih tetap masuk kantor, menyelesaikan pekerjaan, atau memenuhi tanggung jawab seperti biasa, tetapi dalam hati kamu sudah merasa ingin pergi. Kamu tidak lagi tertarik untuk terlibat lebih jauh dalam urusan kantor.
Perubahan ini dapat membuat seseorang mulai menarik diri dari lingkungan kerjanya. Misalnya, kamu menjadi lebih pasif saat berdiskusi atau enggan mengambil inisiatif. Ketika kondisi ini terjadi bukan berarti seseorang tiba-tiba menjadi pemalas atau tidak profesional. Bisa jadi, perubahan tersebut adalah tanda bahwa kamu mulai kehilangan keterikatan dengan pekerjaanmu.
Pekerjaan memang tidak selalu terasa menyenangkan. Ada saat dimana kamu merasa bosan, lelah, atau membutuhkan jeda tanpa berarti ada sesuatu yang salah dengan dirimu. Namun, ketika rasa lelah tersebut berubah menjadi ketidakpuasan yang berkelanjutan dan perlahan membuat kamu tidak tertarik lagi dengan pekerjaanmu, mungkin kamu memerlukan rehat sejenak. Dengan mengenali tanda-tanda ini lebih awal, kamu dapat mengevaluasi dan memahami kembali apa yang sebenarnya membuat semangat kerja perlahan hilang.






















