Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Visual Clutter Bisa Membuat Pikiran Cepat Lelah, Benarkah?

Visual Clutter Bisa Membuat Pikiran Cepat Lelah, Benarkah?
ilustrasi wanita berbaring (pexels.com/cottonbro)
Share Article

Pernah merasa cepat lelah di rumah yang sebenarnya bersih, tetapi dipenuhi banyak benda? Kondisi ini bisa berkaitan dengan visual clutter, yakni terlalu banyak elemen yang bersaing menarik perhatian. Penelitian Princeton menunjukkan bahwa berbagai stimulus visual dapat saling berkompetisi untuk diproses oleh otak.

Karena itu, visual clutter bukan sekadar persoalan estetika, tetapi juga dapat memengaruhi fokus. Lantas, benarkah terlalu banyak benda yang terlihat bisa membuat pikiran lebih cepat lelah? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

  1. 1. Apa itu visual clutter?

    ilustrasi membersihkan karpet (pexels.com/ketutsubiyanto)
    ilustrasi membersihkan karpet (pexels.com/ketutsubiyanto)

    Visual clutter atau kekacauan visual adalah terlalu banyak elemen yang memenuhi pandangan dan bersaing menarik perhatian. Menurut Molly Heartfield, pendiri sekaligus CEO Heart & Co. Home Organizing and Design, dikutip dari Washington Post, kondisi ini mencakup apa pun yang mengganggu alur rumah yang tenang dan tertata dengan sengaja, seperti tumpukan surat di meja atau kabel yang terlihat dari balik furnitur.

    Sementara itu, dikutip laman yang sama, Corey Pence, senior manager layanan penataan rumah di The Container Store, menjelaskan bahwa visual clutter merupakan jumlah elemen visual yang berlebihan atau terlalu banyak dalam suatu ruang sehingga membuat seseorang kesulitan berkonsentrasi pada informasi penting atau menyelesaikan tugas. Jadi, visual clutter tidak selalu berarti rumah berantakan karena ruangan yang bersih dan rapi pun bisa terasa penuh jika terlalu banyak benda, warna, bentuk, atau detail yang terlihat bersamaan.

  2. 2. Visual clutter membuat otak harus menyaring lebih banyak informasi

    ilustrasi membersihkan dapur (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi membersihkan dapur (pexels.com/cottonbro)

    Saat berada di ruangan yang dipenuhi barang, mata menerima banyak informasi sekaligus, mulai dari buku, dekorasi, kabel, hingga benda-benda kecil. Berbagai stimulus tersebut dapat saling bersaing sehingga otak perlu menyaring mana yang penting dan mana yang bisa diabaikan.

    “Meskipun barang-barang ditata dengan rapi, kekacauan visual tetap dapat membuat sebuah ruangan terasa tidak terorganisasi atau berantakan serta mengurangi estetika dan fungsionalitas ruangan secara keseluruhan,” ujar Pence.

    Semakin banyak elemen yang menarik perhatian, semakin besar pula beban otak untuk memprosesnya. Karena itu, ruangan yang lebih sederhana dapat terasa lebih menenangkan, terutama saat membutuhkan fokus atau waktu untuk beristirahat.

  3. 3. Visual clutter berbeda dari rumah yang sekadar berantakan

    ilustrasi membersihkan debu pakai kemoceng bulu
    ilustrasi membersihkan debu pakai kemoceng bulu (pexels.com/cottonbro)

    Visual clutter sering disalahartikan sebagai rumah yang kotor atau berantakan. Padahal, ruangan yang bersih dan rapi tetap bisa terasa penuh jika terlalu banyak benda, warna, atau detail yang terlihat bersamaan. Corey Pence, menjelaskan bahwa mengurangi kekacauan membuat kita lebih mudah bergerak.

    Artinya, merapikan rumah bukan berarti harus membuang banyak barang atau membuat ruangan terasa kosong. Kamu tetap bisa mempertahankan koleksi kesayangan, tetapi batasi jumlah benda yang terlihat dalam satu area agar ruang terasa lebih lega. Kuncinya adalah memilih barang yang ingin ditonjolkan dan menyimpan sisanya dengan lebih terorganisasi.

  4. 4. Ruang yang terlalu penuh bisa membuat aktivitas terasa lebih melelahkan

    ilustrasi meja kerja (freepik.com/tara-winstead)
    ilustrasi meja kerja (freepik.com/tara-winstead)

    Visual clutter dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, terutama ketika meja, rak, atau lantai dipenuhi terlalu banyak benda. Selain membuat barang lebih sulit ditemukan, kondisi ini juga dapat membuat ruangan terasa kurang praktis dan nyaman digunakan.

    Misalnya, meja kerja yang dipenuhi dokumen, kabel, botol minum, dan aksesori bisa membuat perhatian mudah teralihkan meski semuanya tertata rapi. Karena itu, mengurangi benda yang terlihat di area tertentu dapat membantu menciptakan ruang yang lebih lega, sederhana, dan mendukung fokus.

  5. 5. Setiap ruangan punya sumber visual clutter yang berbeda

    ilustrasi penataan ruang tamu (pexels.com/mikebirdy)
    ilustrasi penataan ruang tamu (pexels.com/mikebirdy)

    Di ruang keluarga, rak buku dan konsol TV mudah dipenuhi buku, majalah, remote, konsol gim, hingga dekorasi kecil. Kabel, mainan di lantai, dan terlalu banyak hiasan dinding juga dapat membuat tampilan ruangan terasa semakin penuh.

    “Rak buku dan konsol TV merupakan tempat yang paling umum menjadi lokasi menumpuknya kekacauan visual di ruang keluarga,” ujar Ashley Murphy, salah satu pendiri sekaligus CEO NEAT Method, dikutip dari Washington Post.

    Dapur biasanya dipenuhi peralatan kecil, blok pisau, kotak roti, dan perlengkapan lainnya. Sementara itu, kamar tidur rentan dipenuhi pakaian, tas, sepatu, dan aksesori, sedangkan area pintu masuk sering menjadi tempat menumpuknya sepatu, jaket, kunci, payung, dan surat.

    “Meja dapur merupakan salah satu sumber utama kekacauan karena peralatan kecil, blok pisau, kotak roti, dan wadah peralatan makan dapat mengambil alih ruang,” ujar Murphy.

  6. 5. Mengurangi visual clutter bisa membuat rumah terasa lebih tenang

    ilustrasi pasangan sedang membersihkan rumah
    ilustrasi pasangan sedang membersihkan rumah (pexels.com/annushka-ahuja)

    Mengurangi kekacauan visual tidak harus dengan merombak seluruh interior rumah. Gunakan furnitur dengan penyimpanan tertutup, seperti ottoman, peti, atau meja berlaci, sementara rak terbuka tetap bisa dipakai jika barang yang dipajang ditata secukupnya.

    Selain itu, beri tempat khusus untuk setiap kategori barang, seperti keranjang untuk surat dan remote, kait dinding untuk tas dan kunci, serta pengatur kabel agar tidak berserakan. Cara ini membuat rumah lebih rapi sekaligus mencegah barang terus menumpuk di area yang sama.

    “Ruang yang terasa penuh bisa sulit untuk dinavigasi,” ujar Corey Pence. “Mengurangi kekacauan membuat kita lebih mudah bergerak, mengambil barang yang dibutuhkan, dan menjaga kerapian. Ruang yang bebas dari kekacauan secara umum lebih mendukung produktivitas,” tambahnya.

  7. 6. Tidak perlu menghilangkan semua dekorasi untuk mengurangi kekacauan visual

    ilustrasi membersihkan rak buku (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi membersihkan rak buku (pexels.com/cottonbro)

    Rumah yang nyaman bukan berarti harus minim barang atau memiliki dinding kosong. Dekorasi tetap bisa menunjukkan karakter pemilik rumah selama jumlah dan penempatannya tidak membuat ruangan terasa penuh, bahkan benda kesayangan seperti vas atau lukisan bisa lebih menonjol saat jumlah dekorasi dibatasi.

    Sebelum membeli dekorasi baru, coba cek kembali barang yang sudah ada di rumah. Jika ada benda dengan fungsi atau tampilan serupa, sebagian bisa disimpan atau diseleksi agar rumah tetap terasa personal tanpa membuat setiap sudutnya penuh.

  8. 7. Mulai dari area yang paling sering dilihat setiap hari

    ilustrasi menutup sofa dengan kain (pexels.com/bluebird)
    ilustrasi menutup sofa dengan kain (pexels.com/bluebird)

    Kamu tidak perlu langsung membereskan seluruh rumah. Mulailah dari area yang paling sering digunakan atau terlihat, seperti meja kerja, ruang keluarga, meja samping tempat tidur, atau area pintu masuk agar perubahan terasa tanpa menguras tenaga.

    Setelah satu area lebih lega, pertahankan kerapihannya sebelum beralih ke ruangan lain. Lakukan penyortiran secara berkala terhadap barang yang sudah tidak digunakan, rusak, kedaluwarsa, atau berlebih, seperti saran Ashley Murphy untuk melakukan penyortiran setiap pergantian musim.

    Kalau rumah terasa bikin kepala penuh meski tidak kotor, coba cek kembali benda yang memenuhi pandangan. Tak perlu membuang semuanya, cukup kurangi barang yang tak perlu terlihat dan beri setiap benda tempat khusus agar rumah terasa lebih tenang dan nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More