Dr. Jessica A. Gold, pakar psikiatri dan hubungan sosial remaja serta dewasa, menjelaskan "Pertemanan lintas generasi yang terbentuk secara organik dapat menjadi ikatan sosial yang sehat. Gen Z bisa mendapatkan mentor hidup yang tenang tanpa merasa dihakimi, sementara Gen X mendapatkan energi baru dan perspektif modern dari generasi yang lebih muda." Demikian dikutip dari Psychology Today.
Tips Gen Z Berteman dengan Gen X Minim Konflik di Kantor

- Perbedaan Gen Z dan Gen X di kantor terlihat dalam cara merespons masalah serta bercanda; perhatian atau tawaran bantuan tidak selalu berarti ikut campur.
- Gen Z disarankan menyampaikan batas privasi secara sopan, mencari humor yang nyaman bersama, dan menghindari candaan terlalu personal saat hubungan masih baru.
- Kedekatan lintas generasi dapat dibangun dengan mendengarkan cerita secara tulus, mengurangi distraksi ponsel, serta saling menghargai tanpa memaksakan gaya masing-masing.
Punya teman kantor beda generasi kadang bikin sadar kalau cara melihat sesuatu memang gak selalu sama. Saat ada rekan kerja yang punya masalah, Gen X mungkin lebih spontan bertanya, memberi saran, atau ikut membantu, sementara Gen Z cenderung memilih fokus pada urusannya sendiri selama masalah tersebut bukan bagiannya.
Perbedaan juga bisa terasa saat bercanda. Jokes yang menurut satu generasi biasa saja, belum tentu dianggap lucu oleh generasi lain. Biar perbedaan ini gak berubah jadi salah paham, bagaimana cara Gen Z berteman dengan Gen X dengan tetap nyaman?
1. Jangan langsung menganggap kepo sebagai ikut campur

Ilustrasi bekerja (magnific.com/magnific) Saat Gen X bertanya soal masalah pribadi atau menawarkan bantuan, Gen Z mungkin bisa merasa, “Kenapa harus ikut tahu?” Padahal, bagi sebagian orang, bertanya dan menawarkan bantuan merupakan bentuk perhatian.
Jadi, gak semua perhatian harus dianggap sebagai bentuk ikut campur. Kalau memang belum ingin bercerita, cukup sampaikan batasan dengan cara yang tetap sopan. Dengan begitu, kamu bisa menjaga privasi tanpa membuat teman merasa ditolak.
2. Pahami kalau gaya bercandanya bisa berbeda

Ilustrasi bekerja (magnific.com/magnific) Gen Z mungkin terbiasa dengan meme, roasting, atau jokes yang cepat dan random. Sementara itu, rekan Gen X bisa punya referensi humor yang berbeda atau lebih nyaman dengan candaan yang sudah familier bagi mereka.
Daripada langsung menganggap jokes mereka garing atau merasa candaanmu gak dipahami, coba cari titik humor yang sama. Kalau baru berteman, hindari candaan yang terlalu personal dan lihat dulu respons mereka. Pertemanan juga gak harus selalu dipenuhi jokes yang sama. Kadang, saling memahami batas humor justru membuat hubungan lebih nyaman.
2. Mau duduk dan mendengarkan ceritanya

Ilustrasi bekerja (magnific.com/jcomp) Salah satu cara paling sederhana untuk mendekat dengan Gen X adalah memberi ruang ketika mereka sedang bercerita. Bisa soal pengalaman kerja, kehidupan sebelum era media sosial, musik yang mereka sukai, atau sekadar cerita masa lalu yang menurut mereka menarik.
Rendra Setyadiputra, M.Psi., Psikolog, psikolog grafolog dan pengamat dinamika sosial mengatakan, "Kunci berteman dengan generasi yang lebih tua seperti Gen X adalah ketulusan dan kerendahan hati untuk belajar. Menurutnya, Gen X gak mencari teman yang sempurna secara digital, tetapi teman yang otentik dan mau duduk bersama serta mendengarkan cerita mereka tanpa sibuk melihat ponsel." Demikian dikutip dari buku Membangun Jembatan Emosional Lintas Generasi di Era Digital.
Jadi, sesekali taruh ponsel saat sedang ngobrol dan benar-benar dengarkan. Gak harus selalu memberikan respons panjang karena merasa didengarkan saja sudah bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih dekat.
4. Tetap jadi diri sendiri, tapi tahu batas

Ilustrasi bekerja (magnific.com/jcomp) Berteman dengan Gen X bukan berarti Gen Z harus mengikuti semua kebiasaan mereka. Begitu juga sebaliknya, perbedaan cara berpikir gak perlu selalu diperdebatkan. Kalau mereka lebih suka membantu ketika melihat teman punya masalah, kamu tetap boleh punya batas dan memilih gak terlibat terlalu jauh. Begitu juga ketika mereka punya gaya bercanda yang berbeda, kamu bisa menyampaikan kalau ada candaan yang membuatmu kurang nyaman.
Kuncinya adalah saling menghargai tanpa memaksakan gaya masing-masing. Dengan begitu, perbedaan generasi justru bisa membuat pertemanan lebih berwarna, bukan menjadi alasan untuk terus salah paham.
Pada akhirnya, berteman lintas generasi gak harus berarti punya gaya komunikasi atau cara berpikir yang sama. Cukup saling terbuka, menghargai batasan, dan memberi kesempatan untuk mengenal satu sama lain lebih jauh.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




![[QUIZ] Pilih Karakter Masha and The Bear, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_a69e752741ecb28c67ff3a7d88570426_5f9dbad1-24e0-4b05-9d9a-0c3d2cd57d3c.png)










![[QUIZ] Seberapa Tajam Matamu? Cek dengan Tebak Karakter Masha and the Bear](https://image.idntimes.com/post/20260521/masha-172-masha-8_5fbf0864-911b-4ebc-967e-e6b937ac8e53.jpg)







