Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejarawan: Generasi Muda Perlu Pahami G30S Tak Cuma Peristiwa Penculikan

3 min read
Sejarawan: Generasi Muda Perlu Pahami G30S Tak Cuma Peristiwa Penculikan
Cuplikan poster film G30S PKI (Dok.P.P.F.N/Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI)
  • Bondan Kanumoyoso menilai G30S perlu dipahami sebagai bagian dari krisis politik, sosial, ekonomi, dan ideologis yang kompleks.

  • Pembelajaran G30S juga mencakup perubahan politik serta dimensi kemanusiaan setelah peristiwa 1965.

  • Generasi muda didorong membandingkan sumber, memahami konteks zaman, dan membedakan fakta dari interpretasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bagaimana cara terbaik memahami sejarah G30S?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sejarawan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Bondan Kanumoyoso, menilai generasi muda perlu memahami peristiwa Gerakan 30 September (G30S) secara lebih utuh. Menurutnya, G30S tidak bisa dipahami hanya sebagai peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat pada 30 September hingga 1 Oktober 1965.

Bondan mengatakan, G30S merupakan bagian dari krisis politik, sosial, ekonomi, dan ideologis yang kompleks, dalam konteks Indonesia serta situasi Perang Dingin.

  1. 1. G30S tak cukup dilihat dari siapa dalangnya

    Sejarawan: Generasi Muda Perlu Pahami G30S Tak Cuma Peristiwa Penculikan
    Pengkhianatan G30S/PKI (dok. Produksi Film Negara/Pengkhianatan G30S/PKI)

    Bondan menilai sejarah G30S tidak sebaiknya disederhanakan hanya pada pertanyaan mengenai siapa dalang di balik peristiwa tersebut.

    "Memang, persoalan mengenai aktor, jaringan, motif, dan tingkat keterlibatan berbagai pihak merupakan bagian penting dari perdebatan historiografi," kata Bondan saat dihubungi IDN Times, Selasa (29/9/2026).

    Menurutnya, pembahasan mengenai G30S perlu membedakan antara fakta yang dapat diverifikasi, interpretasi para sejarawan, dan narasi politik yang berkembang setelah peristiwa tersebut.

    "Namun, kita perlu membedakan antara fakta yang dapat diverifikasi, interpretasi para sejarawan, dan narasi politik yang berkembang setelah peristiwa tersebut," ujarnya.

    Bondan mengatakan hingga kini masih terdapat perbedaan interpretasi mengenai pihak yang paling bertanggung jawab serta bagaimana struktur gerakan tersebut sebenarnya.

  2. 2. Dampak G30S berlanjut setelah peristiwa 1965

    Sejarawan: Generasi Muda Perlu Pahami G30S Tak Cuma Peristiwa Penculikan
    Cuplikan poster film G30S PKI (Dok.P.P.F.N/Penumpasan Pengkhianata G30S PKI)

    Menurut Bondan, hal penting lainnya yang perlu dipahami generasi muda adalah berbagai peristiwa yang terjadi setelah G30S. Peristiwa tersebut kemudian diikuti perubahan politik yang mengakhiri era Demokrasi Terpimpin dan menjadi bagian dari proses munculnya Orde Baru.

    Selain perubahan politik, Bondan menyoroti dimensi kemanusiaan yang terjadi setelah G30S. Ia menyebut adanya kekerasan massal, penangkapan, penahanan, serta berbagai bentuk penderitaan terhadap orang-orang yang dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI.

    "Dimensi kemanusiaan ini tidak boleh dihilangkan dari pembelajaran sejarah 1965," kata Bondan.

    Karena itu, menurut Bondan, pembelajaran mengenai G30S seharusnya tidak berhenti pada kronologi penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat.

  3. 3. Generasi muda perlu membaca sejarah secara kritis

    Sejarawan: Generasi Muda Perlu Pahami G30S Tak Cuma Peristiwa Penculikan
    Ilustrasi anak muda milenial dan Gen Z (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Bondan mengatakan generasi muda dapat mengambil pelajaran penting dari G30S dengan mempelajari sejarah secara kritis. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menghafalkan rangkaian peristiwa dan menerima satu narasi sejarah.

    "Bagi generasi muda, pelajaran terpenting dari G30S adalah bagaimana membaca sejarah secara kritis," ujarnya.

    Bondan mendorong generasi muda untuk membandingkan berbagai sumber, memahami konteks zaman, serta membedakan fakta dan interpretasi. Menurutnya, sikap tersebut penting karena terdapat bagian-bagian dari sejarah G30S yang hingga kini masih menjadi perdebatan.

    "Jangan hanya menghafal kronologi dan menerima satu narasi, tetapi bandingkan berbagai sumber, pahami konteks zamannya, bedakan fakta dengan interpretasi, dan berani mengakui bagian-bagian sejarah yang masih menjadi perdebatan," kata dia.

    Dengan pendekatan tersebut, Bondan berharap, sejarah tidak digunakan untuk mewariskan kebencian. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi sarana untuk memahami masa lalu sekaligus mencegah terulangnya kekerasan politik dan kemanusiaan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More