Makin Banyak Generasi Muda di Jepang Enggan Punya Anak

- Survei IPSS mencatat lebih dari 30 persen warga lajang Jepang usia 18–34 tahun tidak ingin punya anak, rekor tertinggi sejak pendataan dimulai pada 2002.
- Rata-rata rencana anak pasangan menikah turun menjadi 1,95, di bawah dua untuk pertama kali; mahalnya biaya pengasuhan dan pilihan hidup mandiri menjadi faktor yang disorot.
- Niat menikah lajang usia 18–34 tahun turun di bawah 80 persen, beriringan dengan penurunan kelahiran yang mengancam tenaga kerja produktif dan sistem jaminan sosial.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Jepang memublikasikan laporan survei demografi nasional mengenai pergeseran pandangan hidup generasi muda pada Jumat (11/9/2026). Laporan tersebut menyoroti peningkatan jumlah masyarakat lajang di usia produktif yang memilih untuk tidak memiliki anak.
Temuan ini memicu kekhawatiran terkait krisis demografi nasional yang diprediksi akan semakin memburuk. Otoritas setempat kini menghadapi tantangan berat untuk menjaga keberlanjutan populasi di tengah perubahan sosial yang bergulir sangat cepat.
1. Rekor tertinggi keengganan memiliki anak di kalangan pemuda Jepang
Survei dari National Institute of Population and Social Security Research (IPSS) mencatat lebih dari 30 persen warga lajang berusia 18–34 tahun di Jepang enggan memiliki anak. Angka penolakan ini menjadi rekor tertinggi sejak pendataan dimulai pada 2002. Rata-rata jumlah anak yang diinginkan oleh kaum pria merosot ke angka 1,30, sedangkan wanita berada di angka 1,36.
Secara rinci, sebanyak 33 persen pria lajang dan 32,4 persen wanita lajang menyatakan tidak ingin mempunyai keturunan. Angka ini melonjak tajam dibandingkan dengan survei lima tahun lalu, di mana rata-rata jumlah anak yang diharapkan masih mencapai 1,56.
"Tantangannya adalah tidak ada faktor tunggal yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab utama anjloknya angka kelahiran," ujar Direktur Riset Dinamika Kependudukan IPSS, Miho Iwasawa, dilansir Bangkok Post.
2. Mahalnya biaya pengasuhan picu tren hidup mandiri
Saat ini, pasangan menikah rata-rata hanya merencanakan 1,95 anak, yang menjadi rekor pertama kalinya dalam sejarah perencanaan keluarga di Jepang jatuh di bawah angka dua. Padahal, angka ideal yang sebenarnya diharapkan berada di kisaran 2,18 anak. Mahalnya biaya membesarkan anak dituding menjadi faktor penghambat utama.
"Ketika masyarakat memiliki lebih sedikit anak, mereka cenderung menghabiskan lebih banyak uang untuk setiap anak, sehingga standar biaya pengasuhan ikut naik dan membuat sebagian orang enggan memiliki keturunan," jelas Ekonom Senior Dai-ichi Life Research Institute, Takuya Hoshino.
Selain faktor finansial, pergeseran nilai sosial membuat generasi muda lebih memilih menikmati kebebasan tanpa beban ikatan keluarga. Kondisi ini membuat konsep membangun keluarga dan membesarkan anak tidak lagi menjadi prioritas utama mereka.
3. Penurunan minat menikah perburuk krisis demografi
Tren keengganan memiliki anak ini berhubungan erat dengan merosotnya minat untuk menikah. Niat menikah pada kalangan lajang usia 18–34 tahun turun ke bawah 80 persen untuk pertama kalinya, yakni di angka 75,1 persen untuk pria dan 77,8 persen untuk wanita.
Keputusan untuk melajang otomatis memangkas angka kelahiran karena mayoritas persalinan di Jepang terjadi dalam ikatan pernikahan yang sah.
"Penurunan jumlah perkawinan berkaitan langsung dengan anjloknya angka kelahiran bayi yang seharusnya menjadi penopang masa depan negara," terang Peneliti Senior Demografi NLI Research Institute, Kanako Amano.
Penyusutan angka kelahiran ini berpotensi memicu krisis tenaga kerja produktif serta mengguncang sistem jaminan sosial di masa depan. Menghadapi situasi genting ini, pemerintah didesak untuk segera melahirkan intervensi kebijakan yang lebih efektif.


















