Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Mengatur THR untuk Pekerja Informal yang Ikut Kamu

5 Tips Mengatur THR untuk Pekerja Informal yang Ikut Kamu
ilustrasi pengasuh anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Artikel membahas berbagai cara mengatur pemberian THR bagi pekerja informal, menyesuaikan kemampuan finansial pemberi kerja dan menjaga rasa adil di antara para pekerja.
  • Dijelaskan lima opsi pembagian THR, mulai dari nominal sama untuk semua hingga sistem berdasarkan masa kerja, senioritas, atau kombinasi uang tunai dengan bingkisan Lebaran.
  • Penulis menekankan pentingnya komunikasi terbuka soal besaran THR agar pekerja memahami kondisi keuangan pemberi kerja dan tetap merasa dihargai menjelang Idulfitri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang membayangkan enaknya menjadi orang yang punya usaha sendiri atau sudah bisa mempekerjakan orang lain. Mereka kerap dianggap kaya raya. Jauh lebih kaya daripada orang yang ikut bekerja padanya.

Padahal, ini belum tentu. Jika kamu termasuk yang punya beberapa pekerja informal, boleh jadi keuanganmu tak beda jauh dari mereka. Dirimu cuma harus menggunakan jasa orang lain buat membantu berbagai pekerjaan. Sebab kamu sudah gak bisa menanganinya seorang diri.

Contoh pekerja informal misalnya ART, pengasuh anak, sopir pribadi, atau setiap orang yang membantu usaha kecil-kecilanmu. Seperti penjaga warungmu atau juru setrika di usaha laundry milikmu. Bertepatan dengan jelang Lebaran seperti sekarang, berapa dan bagaimana cara mengatur THR mereka? Berikut pilihannya.

1. Semua dapat THR dan nilainya sama meski masa kerja berlainan

pelayan
ilustrasi pelayan (pexels.com/Kate Trysh)

Bila kamu punya lebih dari satu pekerja informal dan mampu, memberikan THR untuk semuanya tentu baik sekali. Nilainya juga disamakan supaya gak ada rasa iri satu sama lain. Dengan dirimu menerapkan cara ini sama dengan membangun kesetaraan.

Walaupun kesetaraan yang dimaksud barangkali tidak untuk semua hal. Soal gaji pokok contohnya, pasti beda antara pekerja yang memiliki keahlian dengan amatir. Cuma tunjangan hari rayanya yang sama berapa pun jumlahnya.

Tentu pekerja yang baru ikut kamu sebentar akan merasa beruntung sekali. Tenang, itu gak bakal bikin pekerja senior iri selama mereka dahulu juga mendapatkan perlakuan serupa. Anak baru yang langsung mendapatkan THR semata-mata memang sudah rezekinya.

2. Hanya pekerja dengan masa kerja tertentu yang dapat THR

pekerja informal
ilustrasi pekerja informal (pexels.com/Yura Forrat)

Namun, kamu juga boleh menerapkan sistem berbeda untuk urusan THR ini. Tidak terlarang buatmu cuma kasih tunjangan hari raya buat pekerja dengan masa kerja tertentu. Contoh, masa kerja satu tahun atau lebih.

Dengan begitu, pekerja informal yang baru diterima satu bulan bahkan 11 bulan lalu juga belum berhak atas THR. Kebijakan ini bukan masalah dengan catatan sejak awal masa seleksi pekerja telah dijelaskan tentang hak-haknya. Cara ini juga memiliki tujuan.

Yaitu, buat melatih pekerja untuk setia padamu. Seandainya pekerja yang baru bekerja 1 atau 2 bulan saja sudah dapat THR, jangan-jangan dia memang sengaja. Ia melamar bekerja di tempatmu mendekati Idulfitri hanya untuk mendapatkan penghasilan dobel. Habis itu kabur alias gak balik kerja lagi selepas libur Lebaran.

3. Senioritas memengaruhi besar THR

dua pekerja
ilustrasi dua pekerja (pexels.com/Darya Sannikova)

Cara ketiga, semua pekerja sebenarnya memperoleh tunjangan hari raya. Perbedaannya cuma di jumlah. Ini dicocokkan dengan lama masa kerjanya. Bagaimanapun juga, dedikasi orang yang telah bekerja 10 tahun gak sama dengan sebulan atau setahun.

Kamu berusaha menunjukkan apresiasimu melalui reward berupa nominal THR yang lebih gede daripada junior-juniornya. Di sisi lain, dirimu pun sedang mendorong para pekerja baru buat belajar dari seniornya. Mereka akan mengerti bahwa loyalitasnya bakal dihargai.

Soal berapa persisnya jumlah THR untuk setiap orang dengan masa kerja tertentu, terserah kamu saja. Tergantung kemampuanmu dan selama masih pantas. Ada tingkatan, tetapi jangan terlalu berbeda sehingga kurang manusiawi dan memincu kesenjangan.

4. THR dikombinasikan dengan bingkisan Lebaran

penjaga toko
ilustrasi penjaga toko (pexels.com/Jose Manuel Espigares Garcia)

Kombinasi uang tunai dengan bingkisan Lebaran cocok diterapkan dalam dua situasi yang bertolak belakang. Pertama, keuanganmu lagi bagus sekali atau usaha berjalan amat lancar. Kamu bisa kasih tunjangan hari raya yang besar masih pula ditambah bingkisan.

Situasi kedua malah sebaliknya, keuangan sebenarnya sedang kurang baik. Akan tetapi, dirimu merasa tetap harus memberikan sesuatu pada para pekerja jelang Idulfitri. Kombinasi THR berupa uang cash plus bingkisan dimaksudkan buat menekan pengeluaran.

Misal, saat keuangan bagus kasih THR 1 juta rupiah dalam bentuk tunai mudah saja. Namun, sekarang dananya gak cukup karena ekonomi lagi lesu. Akali dengan uang tunai 500 ribu rupiah plus paket sembako, roti kaleng, serta sirup 250 ribu per orang. Totalnya hanya 750 ribu rupiah.

5. Jika kamu tidak mampu, THR gak harus 1 kali gaji

pekerja informal
ilustrasi pekerja informal (pexels.com/JC Presco)

Untuk perusahaan-perusahaan yang sudah mapan, kasih THR senilai gaji mungkin bukan hal yang sulit. Laba perusahaan jauh lebih besar dari tunjangan hari raya yang dibagikan. Demikian pula buat orang yang mempekerjakan ART dengan kondisi finansial amat mapan.

Memberikan THR senilai satu kali gaji sama sekali bukan masalah. Namun, untukmu yang belum di titik itu perihal THR masih bisa dikomunikasikan. Baiknya memang sejak awal kamu mempekerjakan orang sudah menyampaikannya.

Bahwa ada tunjangan hari raya, tetapi nominalnya tak sebesar gaji bulanan. Akan tetapi, bila bisnismu awalnya baik kemudian mengalami penurunan di tahun ini, sampaikan saja apa adanya. THR tetap ada, tapi tidak sebesar Lebaran tahun lalu. Meski agak sedih, pekerja yang tahu kondisi nyatanya pasti akan menerima.

Lebaran kian dekat. Tunjangan hari raya mesti segera diberikan. Supaya para penerima dapat menggunakannya sesuai keperluan masing-masing. Coba berhitung lagi dan tentukan cara pembagian THR yang paling tepat buat keadaan saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us