Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menyimpan Selimut agar Tetap Harum dan Bebas Apek
ilustrasi mengenakan selimut (pexels.com/ Niels from Slaapwijsheid.nl)
  • Pastikan selimut benar-benar kering sebelum disimpan, terutama pada lipatan dan bahan tebal, untuk mencegah kelembapan, jamur, serta bau apek.
  • Simpan selimut di lemari yang bersih, kering, dan memiliki sirkulasi udara; gunakan wadah sesuai kondisi, dengan kantong kain untuk ruang kering.
  • Periksa selimut berkala, angin-anginkan bila kondisinya baik, dan gunakan penyerap kelembapan seperlunya; jika berbau atau berjamur, cuci lalu keringkan kembali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selimut menjadi salah satu bagian penting di tempat tidur yang membuat tidur terasa lebih nyaman. Namun, ketika cuaca mulai panas atau kamu memiliki beberapa selimut lain, biasanya ada selimut yang akhirnya disimpan sampai begitu lama. Masalahnya, saat ingin digunakan, selimut itu justru mengeluarkan bau apek. Padahal, sebelum disimpan, selimut tersebut sudah dicuci hingga bersih.

Bau apek biasanya berkaitan dengan kelembapan, sirkulasi udara yang buruk, atau ruang penyimpanan yang kurang tepat. Kelembapan juga bisa memicu pertumbuhan jamur dan membuat kain semakin gak nyaman digunakan. Supaya hal ini tidak terjadi, berikut lima tips yang bisa dilakukan agar selimut tetap bersih, harum, dan siap digunakan kapan saja.

1. Pastikan selimut benar-benar kering sebelum disimpan

ilustrasi menjemur selimut (pexels.com/Kha Ruxury)

Penting untuk memastikan kain benar-benar kering sebelum dimasukkan ke lemari dan disimpan. Selimut yang terlihat kering di bagian luar belum tentu sudah bebas dari kelembapan, terutama jika bahannya tebal seperti fleece, wol, atau microfiber. Kelembapan yang tertinggal di antara serat kain bisa menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan jamur dan mikroorganisme penyebab bau.

Setelah mencuci selimut, jemur di tempat yang memiliki sirkulasi udara baik. Jika memungkinkan, balik selimut saat dijemur agar kedua sisinya kering secara merata. Sebelum disimpan, periksa bagian yang biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk kering, seperti lipatan, sudut, dan bagian yang tebal. Jika masih terasa dingin atau lembap saat disentuh, keringkan sampai benar-benar kering.

2. Pilih tempat penyimpanan yang kering dan memiliki sirkulasi udara

ilustrasi wadah penyimpanan (pexels.com/rdne)

Tempat penyimpanan juga berpengaruh besar terhadap kondisi selimut selama gak digunakan. Lemari yang lembap, terlalu penuh, atau jarang dibuka dapat membuat udara sulit bersirkulasi. Akibatnya, kelembapan terperangkap dan bau apek muncul. Sebaiknya, simpan selimut di lemari yang kering, bersih, dan gak lembap. Jangan pula menumpuk terlalu banyak selimut hingga lemari penuh.

Berikan sedikit ruang agar udara dapat bergerak dan kain gak terus-menerus tertekan. Sesekali, buka pintu lemari untuk membantu pertukaran udara, terutama ketika cuaca sedang cerah dan kondisi ruangan cukup kering. Namun, jangan membiarkan lemari terbuka terlalu lama jika udara di dalam rumah sedang lembap atau sering hujan.

3. Gunakan wadah penyimpanan yang sesuai dengan bahan selimut

ilustrasi selimut (pexels.com/Jessica Lewis thepaintedsquare)

Menyimpan selimut di dalam wadah bisa membantu melindunginya dari debu, kotoran, dan serangga. Namun, kamu perlu memilih wadah yang sesuai agar selimut gak terjebak dalam kondisi lembap. Untuk penyimpanan di lemari yang kering, kantong berbahan kain atau katun bisa menjadi pilihan karena memungkinkan udara bersirkulasi.

Wadah plastik juga dapat digunakan untuk melindungi selimut dari debu, tapi pastikan selimut benar-benar kering sebelum dimasukkan. Jika menggunakan kantong plastik tertutup rapat, periksa kondisinya secara berkala. Kelembapan yang terperangkap di dalamnya berpotensi menyebabkan bau tak sedap, terutama jika selimut belum benar-benar kering atau wadah berada di tempat lembap.

4. Tambahkan penyerap kelembapan dan pewangi secukupnya

ilustrasi kamper (pexels.com/Tara Winstead)

Jika lemari sering lembap, kamu bisa menggunakan penyerap kelembapan untuk membantu mengurangi kadar air di udara. Produk seperti penyerap kelembapan dapat ditempatkan di lemari sesuai petunjuk penggunaan. Pastikan produk gak bersentuhan langsung dengan selimut dan jauh dari jangkauan anak-anak.

Kamu boleh menggunakan pewangi untuk memberikan aroma segar, tapi jangan mengandalkannya sebagai solusi utama untuk mencegah bau apek. Pewangi hanya menambahkan aroma dan tak menghilangkan sumber kelembapan maupun pertumbuhan jamur. Jika menyukai aroma alami, kamu bisa meletakkan sachet berisi bahan aromatik kering di sudut lemari, asal gak bersentuhan langsung dengan kain.

5. Periksa selimut secara berkala

ilustrasi keranjang selimut (pexels.com/Karola G)

Selimut yang disimpan selama berbulan-bulan sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. Walaupun sudah dicuci dan dikeringkan dengan benar, kondisi lemari serta perubahan kelembapan udara tetap bisa memengaruhi kain selama penyimpanan. Jadwalkan setiap beberapa minggu untuk memeriksa selimut yang jarang digunakan. Perhatikan apakah muncul bau tak sedap, bintik-bintik mencurigakan, atau perubahan tekstur pada kain.

Jika kondisinya masih baik, kamu bisa mengeluarkan selimut sebentar untuk diangin-anginkan. Pastikan selimut tidak dibiarkan terlalu lama di luar ketika udara sedang lembap. Apabila selimut mulai berbau apek, jangan langsung menutupinya dengan pewangi. Periksa, apakah ada kelembapan atau tanda pertumbuhan jamur. Jika perlu, cuci kembali, lalu keringkan hingga benar-benar tuntas sebelum disimpan lagi.

Menyimpan selimut agar tidak bau apek saat lama tak dipakai itu cukup mudah. Dengan perawatan yang tepat, selimutmu bisa tetap nyaman digunakan meskipun sudah lama tersimpan di lemari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article