5 Akibat Gonta-ganti Konsep Rumah saat Pembangunan atau Renovasi

- Pengerjaan jauh lebih lama
- Biayanya membengkak
- Kekuatan bangunan bisa berkurang
Membangun rumah termasuk dalam proyek gede. Prosesnya dari rata tanah sampai bangunan berdiri gagah dan siap dihuni memerlukan waktu yang tidak sebentar. Demikian pula renovasi yang cukup besar.
Seperti meninggikan atap, apalagi mengubah bangunan lantai satu menjadi dua lantai. Sejak awal, konsep pembangunan atau renovasi mesti sudah matang. Bila pengerjaan telah berjalan, kemudian dirimu mengubahnya beberapa kali, akan sangat merepotkan.
Lebih baik pembangunan atau renovasi ditunda sampai konsepnya benar-benar pasti. Godaan untuk mengganti konsep di tengah jalan memang besar. Apalagi kamu terus memperoleh inspirasi dari berbagai sumber. Namun, gonta-ganti konsep rumah saat pembangunan atau renovasi punya akibat tersendiri. Kalau bujet gak siap, jangan coba-coba.
1. Pengerjaan jauh lebih lama

Dampak paling nyata dari konsep pembangunan atau renovasi yang terus berubah ialah waktu pengerjaan. Kamu jangan berharap rumah bisa cepat beres jika konsepnya saja gak konsisten. Tidak apa-apa dirimu memiliki banyak keinginan.
Setiap sudut rumahmu memang perwujudan dari impianmu. Namun, konsepnya mesti dimatangkan di awal. Bukan konsep terus berkembang apalagi bongkar pasang berulang-ulang.
Kalau kamu tidak punya cukup waktu untuk menunggu sampai bangunan kelar, hindari konsep yang berubah-ubah. Bertahanlah dengan konsep awal. Toh, konsep tersebut juga telah melalui pemikiran panjang.
Menurut tukang, konsepnya pun sudah layak dieksekusi. Bila konsepnya tetap, rumah segera rapi serta dapat ditempati kembali. Kalau kamu mau mengganti konsep, pikirkan baik-baik kapan dirimu hendak menghuninya.
2. Biayanya membengkak

Waktu pembangunan atau renovasi rumah selalu berkaitan erat dengan pembiayaan. Bila rumah cepat selesai tentu biayanya dapat sangat dihemat. Sementara itu, penambahan satu hari pengerjaan saja memakan cost yang gak sedikit.
Gonta-ganti konsep rumah besar kemungkinan juga menyebabkan perubahan material yang dibutuhkan. Baik dari jenis materialnya maupun jumlahnya. Kemudian biaya tenaga tukang pun berubah
Tukang 6 orang saja, jika masing-masih diupah 150 ribu per hari sudah hampir 1 juta rupiah. Waktu pengerjaan bertambah 1 minggu, artinya kamu kudu siap ekstra dana paling gak 7 juta rupiah. Itu belum termasuk apabila butuh tambahan tukang dengan keahlian tertentu sesuai konsep terbaru darimu.
3. Kekuatan bangunan bisa berkurang

Hal paling penting dari bangunan apa pun ialah kekuatannya. Meski suatu rumah terlihat bagus dari luar, kalau ternyata rapuh maka percuma. Masih mending dibalik, kekuatannya teruji tetapi modelnya kurang apik.
Sebab apabila modelnya indah tapi lemah di kekuatan, bisa-bisa bangunan rawan runtuh. Perbaikannya juga seperti membongkar dan membangun lagi dari awal. Rendahnya kekuatan bangunan dapat disebabkan oleh perubahan konsep secara sembarangan.
Misal, tadinya kamu cuma mau bikin rumah satu lantai. Namun, saat rumah sudah hampir selesai mendadak dirimu minta rumah disiapkan biar kelak dapat ditambah menjadi dua lantai. Fondasi serta struktur dinding telanjur gak dipersiapkan untuk rumah tingkat. Kalaupun konsep mau dipaksakan, kelak hasilnya malah bisa membahayakan penghuni.
4. Tukang mengambek gak mau melanjutkan pengerjaan

Tentu tukang tidak begitu saja menyerah untuk berusaha mewujudkan rumah impianmu. Mereka bakal berupaya bersabar supaya dirimu puas dengan hasil akhirnya. Pun kamu gak keberatan membayar biaya tambahan untuk jasa tukang.
Hanya saja, tidak berarti mereka bakal selamanya bersabar menghadapi konsep bangunan yang terus berganti. Apalagi setiap ganti konsep sama dengan mereka mesti membongkar kembali hasil pengerjaan sejauh ini. Memang dirimu yang rugi banyak dalam hal uang.
Namun, wajar kalau pekerja juga capek fisik dan hati dengan perombakan berkali-kali. Mending mereka mengerjakan proyek lain yang lebih cepat beres. Kemudian mereka pindah lagi ke proyek selanjutnya. Berkutat dengan pekerjaan yang itu-itu saja sangat membosankan. Terlebih tukangnya sudah punya antrean pekerjaan lain yang mesti dimulai tepat waktu.
5. Setelah jadi bukannya tambah bagus malah jelek

Ketika kamu membayangkan konsep terbaru, memang sepertinya indah sekali. Konsep kedua seakan-akan lebih cantik serta rapi daripada konsep bangunan pertama. Konsep ketiga menyempurnakan konsep sebelumnya dan seterusnya.
Namun, setiap perubahan konsep di tengah jalan tidak ubahnya tambal-sulam. Apalagi kamu gak pakai jasa arsitek. Bahkan masukan tukang saja tidak didengar. Pokoknya, konsepnya suka-suka dirimu.
Jangan kaget apabila hasil akhirnya nanti tampak aneh. Bangunan tetap berdiri. Hanya saja, dari depan sampai belakang terlihat gak serasi. Seandainya konsep tidak gonta-ganti, hasil jadinya lebih memuaskan. Masa kamu mau kembali membongkarnya untuk kesekian kali?
Jika kamu punya kecenderungan gonta-ganti konsep rumah saat pembangunan atau renovasi, di awal tanyakan pada tukang atau kontraktor batas maksimal penggantian konsep. Misal, konsep bagian mana yang masih mungkin diubah setelah pembangunan atau renovasi sampai di bagian tertentu? Bukan sekadar kamu mengikuti keinginan sendiri yang mengacaukan pengerjaan.


















