Apakah Kita Harus Stop Perhatian pada Konten Kreator Kaya?

- Ajakan boikot muncul karena rasa lelah melihat kesenjangan sosial
- Perhatian di internet memang bekerja seperti mata uang
- Tidak semua konten gaya hidup bertujuan pamer
Fenomena ajakan memboikot konten kreator kaya belakangan ramai dibicarakan, terutama setelah muncul unggahan viral yang mengajak orang berhenti menonton konten pamer liburan, gaya hidup mahal, hingga tautan affiliate. Alasannya sederhana: perhatian dianggap ikut memperbesar penghasilan mereka, sementara penonton merasa hidupnya tidak ikut berubah.
Perdebatan pun meluas, bukan hanya soal iri atau tidak, melainkan tentang bagaimana perhatian publik bekerja di era digital. Dari situ muncul pertanyaan apakah benar stop perhatian pada konten kreator kaya bisa menjadi solusi, atau justru ada cara lain yang lebih masuk akal? Berikut beberapa sudut pandang yang bisa membantu melihatnya dengan lebih jernih.
1. Ajakan boikot muncul karena rasa lelah melihat kesenjangan sosial

Banyak orang sebenarnya tidak keberatan melihat kesuksesan orang lain, tetapi yang membuat jenuh ialah frekuensi konten pamer yang terasa terlalu sering muncul di timeline. Saat setiap hari yang terlihat hanya rumah mewah, belanja tanpa batas, dan liburan eksklusif, wajar jika muncul rasa tidak nyaman karena kehidupan tersebut terasa jauh dari realitas mayoritas penonton. Perasaan ini bukan selalu soal iri, melainkan kelelahan mental karena paparan gaya hidup yang sulit dijangkau.
Selain itu, sebagian penonton mulai sadar bahwa setiap klik, komentar, dan share memiliki nilai ekonomi nyata bagi kreator. Dari situ muncul kesimpulan sederhana, jika perhatian adalah sumber uang, maka menghentikan perhatian dianggap sebagai cara paling mudah untuk “menarik rem”. Namun logika ini sering dipahami terlalu hitam putih, seolah satu-satunya pilihan hanya menonton terus atau berhenti total.
2. Perhatian di internet memang bekerja seperti mata uang

Di dunia digital, perhatian memiliki nilai yang mirip uang karena menentukan seberapa besar iklan, kerja sama, atau penjualan yang bisa didapat kreator. Semakin tinggi angka penonton, semakin besar peluang mereka memperoleh kontrak brand atau komisi dari tautan belanja. Inilah sebabnya banyak kreator sangat menjaga konsistensi unggahan, bukan sekadar untuk eksistensi, tetapi untuk mempertahankan pemasukan.
Meski begitu, sistem ini tidak sesederhana “menonton sama dengan memperkaya”. Algoritma platform juga memperhitungkan minat penonton secara keseluruhan, sehingga satu orang berhenti menonton tidak otomatis berdampak besar. Dampak nyata baru terasa jika perubahan terjadi dalam skala masif, dan itu pun biasanya hanya memengaruhi distribusi konten, bukan menghentikan penghasilan sepenuhnya
3. Tidak semua konten gaya hidup bertujuan pamer

Banyak kreator yang membagikan perjalanan hidup atau keberhasilan finansial bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sebagai bagian dari narasi personal mereka. Bagi sebagian penonton, konten semacam ini justru menjadi hiburan atau sumber inspirasi, seperti menonton acara wisata atau rumah mewah di televisi. Perbedaan persepsi muncul karena setiap orang membawa latar pengalaman yang berbeda saat melihat konten yang sama.
Masalah biasanya muncul ketika konten tersebut terasa tidak memberi konteks, misalnya hanya menampilkan kemewahan tanpa cerita proses atau informasi yang bermanfaat. Dalam situasi seperti itu, penonton cenderung melihatnya sebagai pamer semata. Jadi yang sering dipermasalahkan sebenarnya bukan kekayaan kreatornya, melainkan cara mereka menampilkan kekayaan tersebut.
4. Mengatur konsumsi konten sering lebih efektif daripada boikot

Alih-alih memboikot secara total, cara paling praktis justru mengatur apa yang muncul di feed media sosial. Platform digital menyediakan fitur mute, unfollow, hingga pengaturan minat yang bisa membantu menyeleksi konten sesuai kebutuhan. Langkah ini lebih realistis karena tidak bergantung pada tindakan kolektif banyak orang.
Dengan memilih konten secara sadar, penonton tetap bisa menikmati media sosial tanpa merasa terus dibandingkan dengan gaya hidup yang tidak relevan. Pada saat yang sama, kreator yang tidak lagi diminati akan otomatis kehilangan jangkauan karena algoritma membaca perubahan minat tersebut. Cara ini lebih tenang dan tidak memicu konflik yang tidak perlu.
5. Perhatian publik seharusnya juga bisa diarahkan ke kreator lain

Daripada hanya fokus pada ajakan berhenti menonton, sebagian orang mulai mendorong pendekatan berbeda. Misalnya saja dengan mengalihkan perhatian ke kreator kecil atau konten yang dianggap lebih bermanfaat. Ketika penonton memberi dukungan kepada kreator baru, distribusi perhatian menjadi lebih merata tanpa perlu menjatuhkan pihak lain.
Pendekatan ini juga memberi dampak positif karena membuka ruang bagi variasi konten yang lebih luas. Mulai dari edukasi, konten masak atau kecantikan, pengalaman, hingga cerita keseharian yang lebih dekat dengan penonton. Dengan begitu, perhatian publik tidak sekadar berkurang dari satu pihak, tetapi benar-benar berpindah ke alternatif yang dianggap lebih relate.
Pada akhirnya, keputusan stop perhatian pada konten kreator kaya sebenarnya kembali pada kebutuhan pribadi masing-masing. Memboikot bukan satu-satunya pilihan, karena mengatur konsumsi dan mengalihkan perhatian sering kali lebih efektif serta tidak menimbulkan konflik yang melelahkan. Kalau menurut kamu bagaimana?


















