Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Manfaat Memperbaiki Barang Rusak daripada Membeli Baru

4 min read
6 Manfaat Memperbaiki Barang Rusak daripada Membeli Baru
ilustrasi memperbaiki perabotan kayu (freepik.com/freepik)
  • Memperbaiki barang yang kerusakannya masih wajar dan biayanya masuk akal dapat menghemat pengeluaran dibanding membeli pengganti baru.
  • Kebiasaan reparasi memperpanjang usia pakai barang, mengurangi sampah termasuk limbah elektronik, serta membantu menekan dorongan belanja konsumtif.
  • Mempertahankan barang dapat menjaga nilai sentimental dan mendukung usaha jasa reparasi, selama barang tetap aman digunakan dan biaya perbaikannya layak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada kalanya kita lebih tertarik membeli barang baru ketika barang yang dimiliki mulai rusak. HP dengan baterai yang cepat habis, sepatu yang solnya terlepas, atau kursi yang kakinya mulai goyah sering kali membuat kita berpikir untuk menggantinya. Apalagi, sekarang ada banyak pilihan produk dengan desain lebih menarik dan harga yang cukup terjangkau. Tanpa disadari, memperbaiki barang lama justru menjadi pilihan yang jarang dipertimbangkan.

Padahal, tidak semua barang rusak harus berakhir di tempat sampah. Selama kerusakannya masih bisa diperbaiki dan biayanya masuk akal, mempertahankan barang lama sebenarnya memiliki banyak keuntungan. Kebiasaan ini tak hanya membantu menghemat pengeluaran, tetapi juga bisa menjadi langkah sederhana untuk mengurangi kebiasaan konsumtif. Ada beberapa manfaat memperbaiki barang rusak daripada membeli baru.

  1. 1. Membantu menghemat pengeluaran

    ilustrasi resleting tas
    ilustrasi resleting tas yang perlu diperbaiki (unsplash.com/Nina Cuk)

    Salah satu manfaat paling terasa dari memperbaiki barang rusak adalah menghemat uang. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membeli produk baru, terutama jika barang tersebut sebenarnya masih bisa digunakan setelah diperbaiki. Misalnya, mengganti resleting tas yang rusak tentu bisa lebih murah daripada membeli tas baru dengan kualitas serupa.

  2. 2. Mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan

    mengumpulkan sampah
    ilustrasi mengumpulkan sampah (pexels.com/Thirdman)

    Barang yang dibuang tidak serta-merta menghilang begitu saja. Banyak produk rumah tangga membutuhkan waktu lama untuk terurai, bahkan ada yang mengandung bahan berbahaya bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan benar. Barang elektronik, misalnya, bisa menghasilkan limbah elektronik yang mengandung berbagai komponen berbahaya.

    Dengan memperbaiki barang yang rusak, kita bisa memperpanjang masa pakainya sehingga tidak cepat berakhir sebagai sampah. Kebiasaan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup berarti jika dilakukan oleh banyak orang. Kita tidak harus selalu membeli produk baru setiap kali menemukan kerusakan kecil.

  3. 3. Membuat kita lebih menghargai barang yang dimiliki

    ilustrasi barang-barang yang rusak
    ilustrasi barang-barang yang rusak (freepik.com/freepik)

    Ketika terbiasa membeli barang baru, kita bisa menjadi kurang menghargai barang yang sudah dimiliki. Sedikit kerusakan terkadang langsung membuat kita merasa produk tersebut sudah tidak menarik atau ketinggalan zaman. Padahal, belum tentu fungsinya benar-benar berkurang.

    Sebaliknya, memperbaiki barang mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan kondisi dan merawat sesuatu yang sudah dimiliki. Kita juga jadi lebih memahami bahwa sebuah barang tidak harus selalu terlihat sempurna untuk tetap berguna. Kebiasaan ini bisa mengubah cara kita memandang kepemilikan, dari sekadar mengikuti keinginan menjadi lebih mempertimbangkan kebutuhan.

  4. 4. Mengurangi kebiasaan konsumtif

    ilustrasi jualan pakaian
    ilustrasi membeli pakaian (freepik.com/freepik)

    Diskon, tren, dan kemunculan produk baru sering membuat kita tergoda untuk berbelanja. Bahkan, terkadang kita mencari alasan untuk membeli sesuatu meskipun barang lama masih bisa digunakan. Kerusakan kecil akhirnya menjadi pembenaran untuk mengganti produk dengan model terbaru.

    Memilih memperbaiki barang bisa membantu kita menghentikan kebiasaan tersebut. Sebelum membeli pengganti, kita belajar bertanya apakah barang lama benar-benar sudah tidak bisa digunakan atau hanya membutuhkan sedikit perbaikan. Dengan begitu, keputusan belanja menjadi lebih terarah dan tidak sekadar mengikuti dorongan sesaat.

  5. 5. Mempertahankan barang yang memiliki nilai sentimental

    ilustrasi jam tangan
    ilustrasi jam tangan (unsplash.com/Erik Mclean)

    Tidak semua barang memiliki nilai yang bisa diukur dengan uang. Ada pakaian pemberian orang terdekat, jam tangan peninggalan keluarga, atau perabot lama yang menyimpan kenangan tertentu. Mengganti barang-barang seperti ini dengan produk baru belum tentu memberikan kepuasan yang sama.

    Memperbaikinya bisa menjadi cara untuk mempertahankan kenangan sekaligus membuat barang tersebut tetap bisa digunakan. Kita tidak harus membuang sesuatu hanya karena tampilannya mulai usang atau mengalami kerusakan. Selama masih memungkinkan, mempertahankan barang yang punya cerita tersendiri juga bisa menjadi pilihan yang lebih bermakna.

  6. 6. Membantu menghidupkan usaha jasa perbaikan

    ilustrasi memperbaiki perabotan kayu
    ilustrasi memperbaiki perabotan kayu (freepik.com/freepik)

    Kebiasaan memperbaiki barang juga memberikan manfaat bagi orang lain, khususnya mereka yang bekerja di bidang jasa reparasi. Mulai dari tukang jahit, tukang sepatu, servis elektronik, hingga bengkel furnitur. Banyak usaha kecil yang bergantung pada kebiasaan masyarakat dalam merawat dan memperbaiki barang.

    Ketika kita memilih memperbaiki produk, ada jasa dan keterampilan orang lain yang ikut dihargai. Kita juga turut membantu menjaga keberlangsungan usaha yang mungkin mulai tersisih karena masyarakat semakin terbiasa membeli barang baru. Jadi, keputusan sederhana untuk memperbaiki sepatu atau peralatan rumah tangga ternyata bisa memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar.

    Memperbaiki barang rusak bukan berarti kita harus mempertahankan semua barang, terutama jika kerusakannya terlalu parah, biaya reparasi terlalu mahal, atau sudah tidak aman digunakan. Akan tetapi, kita tidak perlu buru-buru membeli barang baru hanya karena ada sedikit kerusakan. Mulailah dari hal sederhana, seperti menjahit pakaian yang sobek atau memperbaiki perabot yang longgar. Setelah itu, kamu bisa merasakan manfaat memperbaiki barang rusak daripada membeli baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More