Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pupuk Tabur atau Cair, Begini Cara Memilih Metode yang Tepat

Pupuk Tabur atau Cair, Begini Cara Memilih Metode yang Tepat
ilustrasi memberikan pupuk (magnific.com/jcomp)
  • Pupuk tabur menyediakan hara utama bertahap dalam jumlah besar dan praktis untuk lahan luas, tetapi perlu ditempatkan tepat agar akar tidak rusak serta nitrogen tidak banyak menguap.
  • Pupuk yang dilarutkan membuat nutrisi lebih cepat tersedia melalui penyiraman, namun tidak semua jenis cocok dicairkan dan dosisnya harus teliti untuk mencegah kerusakan akar.
  • Pemilihan metode bergantung pada jenis tanah, cuaca, dan fase tumbuh; kombinasi pupuk tabur sebagai dasar serta pupuk cair sebagai tambahan dapat menyeimbangkan kebutuhan hara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pemupukan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Namun, masih banyak petani maupun pekebun rumahan yang bingung memilih antara pupuk yang ditabur langsung ke tanah atau dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Keduanya sama-sama memiliki kelebihan, tetapi efektivitasnya bergantung pada kondisi tanaman dan jenis pupuk yang digunakan.

Tidak ada satu metode yang selalu lebih unggul dalam semua situasi. Cara aplikasi pupuk perlu disesuaikan dengan tujuan pemupukan, kondisi lahan, hingga karakteristik unsur hara yang diberikan. Berikut empat hal yang perlu dipahami sebelum menentukan metode pemupukan yang paling tepat.

  1. 1. Pupuk tabur untuk memenuhi kebutuhan hara jangka panjang

    ilustrasi pupuk
    ilustrasi pupuk (pexels.com/Kashif Shah)

    Pupuk yang ditaburkan langsung ke tanah umumnya digunakan sebagai sumber hara utama karena mampu menyediakan nutrisi dalam jumlah besar. Jenis pupuk seperti urea, NPK, SP 36, KCl, dolomit, maupun pupuk kandang lebih sering diaplikasikan dengan cara ini agar unsur hara tersedia secara bertahap di sekitar perakaran. Setelah pupuk larut oleh air hujan atau irigasi, akar tanaman akan menyerap nutrisi sesuai kebutuhannya.

    Metode tabur juga lebih praktis diterapkan pada lahan yang luas karena proses aplikasinya relatif cepat. Namun, pupuk sebaiknya tidak ditebarkan terlalu dekat dengan batang tanaman agar tidak menyebabkan kerusakan akar atau kehilangan unsur hara akibat penguapan, terutama pada pupuk yang mengandung nitrogen. Oleh karena itu, penempatan pupuk dan waktu aplikasi tetap menjadi faktor penting agar efisiensinya tetap tinggi.

  2. 2. Pupuk yang dicairkan lebih cepat tersedia bagi tanaman

    ilustrasi menyemprotkan pupuk
    ilustrasi menyemprotkan pupuk (freepik.com/prostooleh)

    Melarutkan pupuk ke dalam air membuat unsur hara lebih mudah berpindah menuju daerah perakaran ketika dilakukan melalui penyiraman. Pada beberapa sistem budidaya modern, metode ini dikenal sebagai fertigation dan banyak digunakan pada tanaman hortikultura karena mampu meningkatkan efisiensi pemupukan. Nutrisi yang telah larut juga lebih cepat tersedia dibandingkan pupuk yang masih berbentuk butiran.

    Meski demikian, tidak semua pupuk cocok untuk dilarutkan karena ada produk yang memang dirancang sebagai pupuk tabur. Selain itu, pemberian pupuk cair memerlukan dosis yang lebih teliti agar larutan tidak terlalu pekat dan merusak akar tanaman. Frekuensi aplikasi biasanya juga lebih sering karena unsur hara yang larut lebih mudah tercuci bersama air di dalam tanah.

  3. 3. Efektivitas dipengaruhi oleh jenis tanah dan kondisi cuaca

    ilustrasi tanah
    ilustrasi tanah (pexels.com/Muffin Creatives)

    Keberhasilan pemupukan tidak hanya ditentukan oleh metode aplikasi, tetapi juga kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh. Pada tanah yang sangat kering, pupuk tabur akan sulit larut sehingga penyerapannya menjadi kurang optimal sebelum turun hujan atau dilakukan penyiraman. Sebaliknya, saat curah hujan terlalu tinggi, sebagian unsur hara dapat hanyut atau tercuci ke lapisan tanah yang lebih dalam.

    Pupuk yang dicairkan juga memiliki tantangan tersendiri apabila diaplikasikan ketika tanah sudah terlalu jenuh oleh air. Larutan pupuk berpotensi terbawa aliran permukaan sehingga efisiensinya menurun. Karena itu, waktu pemupukan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kelembapan tanah dan prakiraan cuaca agar unsur hara dapat dimanfaatkan tanaman secara maksimal.

  4. 4. Menggabungkan kedua metode menjadi pilihan terbaik

    ilustrasi pupuk kimia
    ilustrasi pupuk kimia (vecteezy.com/papan saenkutrueang)

    Dalam praktik budidaya, banyak petani memadukan pupuk tabur dan pupuk cair untuk memperoleh hasil yang lebih optimal. Pupuk tabur digunakan sebagai sumber hara utama dalam jumlah besar, sedangkan pupuk cair dimanfaatkan ketika tanaman membutuhkan tambahan nutrisi pada fase pertumbuhan tertentu. Pendekatan ini membuat kebutuhan unsur hara dapat dipenuhi secara lebih seimbang sepanjang siklus budidaya.

    Contohnya, pupuk dasar seperti pupuk kandang, SP 36, atau dolomit umumnya diberikan dengan cara ditabur sebelum tanam. Setelah tanaman mulai aktif tumbuh, pupuk yang mudah larut dapat diaplikasikan melalui penyiraman sesuai kebutuhan. Kombinasi tersebut membantu meningkatkan efisiensi pemupukan sekaligus mengurangi risiko kekurangan maupun kelebihan unsur hara.

    Pada dasarnya, tidak ada metode pemupukan yang paling efektif untuk semua kondisi. Pupuk tabur lebih sesuai sebagai penyedia hara jangka panjang, sedangkan pupuk yang dicairkan memberikan nutrisi yang lebih cepat tersedia bagi tanaman. Dengan memahami karakteristik pupuk, kondisi lahan, dan fase pertumbuhan tanaman, kita dapat menentukan metode pemupukan yang paling tepat untuk pertumbuhan dan hasil panen menjadi lebih optimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More