ilustrasi ruang tamu dengan meja bundar (pexels.com/ARM UXUI)
Dilansir Livingetc, seorang desainer pencahayaan, Vanessa Macedo, menjelaskan bahwa warm lighting biasanya memancarkan cahaya kuning keemasan, seperti sinar matahari yang terbit dan tenggelam, bola lampu pijar tradisional, atau cahaya lilin. Warm lighting dapat menciptakan suasana yang nyaman, intim, dan penuh relaksasi. Cahaya ini juga mampu melembutkan sudut-sudut ruangan, menonjolkan material alami, serta langsung mengubah suasana ruangan lebih cozy.
Sebaliknya, cool lighting menghasilkan cahaya yang lebih putih dan bernuansa kebiruan mirip dengan cahaya siang hari. Cool lighting tidak hanya mampu memancarkan sinar yang lebih terang, tetapi juga tajam dan tampak segar.
“Cahaya dingin meniru cahaya siang hari yang membantu kita merasa waspada dan terjaga,” ujar Macedo.
Meskipun warna lampu tidak mengubah suhu ruangan yang sebenarnya, akan tetapi warna lampu bisa memberikan persepsi visual dan psikologi terhadap suatu ruang. Warm lighting atau pencahayaan hangat secara psikologis dapat mengubah ruangan terasa lebih panas, sedangkan cool lighting atau pencahayaan dingin bisa menciptakan ilusi lingkungan menjadi lebih menyegarkan.
Dengan kata lain, cool lighting lebih cocok digunakan saat cuaca panas. Sebab, secara psikologis, cahaya ini kerap diasosiasikan dengan kesejukan, air, langit cerah, dan udara segar. Ruangan yang diberi lampu bercahaya dingin akan terasa “sejuk” secara visual, meskipun suhu sebenarnya tidak berubah.