4 Rekomendasi Novel Genre Thought Provoking, Ringan dan Bermakna

- The Midnight Library mengikuti Nora Seed yang mendapat peluang menjelajahi pilihan hidupnya, mengangkat penyesalan, kebahagiaan, dan penerimaan atas kehidupan saat ini.
- Convenience Store Woman menyoroti Keiko Furukura, pegawai minimarket yang nyaman dengan pilihannya, sambil menyindir tekanan masyarakat terhadap pekerjaan, pasangan, dan standar hidup normal.
- A Man Called Ove dan Tuesdays with Morrie mengangkat duka, kesepian, cinta, hingga kematian melalui kisah Ove serta pertemuan rutin Mitch dengan mantan dosennya, Morrie.
Kamu pernah membaca novel yang isinya bikin kamu berpikir ulang soal hidup atau suatu hal, sekalipun kamu telah menyelesaikan ceritanya? Novel-novel itu bisa dikategorikan sebagai novel thought provoking. Menariknya, novel bergenre ini gak harus selalu mengangkat kisah atau tema yang berbobot, ya, pun menggunakan bahasa yang rumit.
Ada banyak karya yang menyajikan alur cerita sederhana dan santai, tetapi pesannya tetap kuat di hati pembaca. Penasaran ada novel apa saja? Berikut 4 rekomendasi novel genre thought provoking yang tetap ringan dan bermakna.
1. The Midnight Library karya Matt Haig

Kalau diterjemahkan, judul bukunya berarti Perpustakaan Tengah Malam. Tapi novel ini sama sekali gak mengangkat kisah horor, ya, justru isu utama yang diangkat adalah makna kebahagiaan dan eksistensial. Novel ini mengisahkan tentang Nora Seed yang tengah berada di antara hidup dan mati. Nora menganggap bahwa hidupnya itu tak punya arti lagi sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Namun, ketika ia terbangun, ia justru berada di sebuah perpustakaan.
Di Midnight Library, Nora punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Nora bisa mengubah keputusan terdahulunya dengan menjelajah waktu, lantas menjalani kehidupan versi dirinya sendiri yang lebih baik. Matt Haig melalui The Midnight Library membuat kamu kembali sadar bahwa kebahagiaan itu bukan soal hidup tanpa kesalahan, melainkan tentang bagaimana kita belajar menerima kehidupan saat ini.
2. Convenience Store Woman karya Murata Sayaka

Kalau The Midnight Library banyak bicara soal penyesalan, novel karya Murata Sayaka ini mengajakmu untuk mempertanyakan kembali standar sosial di masyarakat. Versi bahasa Indonesia novel ini berjudul Gadis Minimarket. Sebagaimana judulnya, novel ini bercerita tentang kehidupan Keiko Furukura, pegawai minimarket berusia 36 tahun. Keiko telah bekerja di sana selama 18 tahun, hampir setengah usianya.
Keadaannya itu membuat orang-orang sekeliling Keiko terus mempertanyakannya: mengapa ia bisa betah menjadi pegawai paruh waktu? Mengapa ia tidak mencari pekerjaan lain? Mengapa ia tidak berpikir untuk mendapatkan pasangan dan punya anak? Padahal, Keiko nyaman-nyaman saja dengan hidupnya itu.
Lewat perspektif Keiko yang unik, Murata Sayaka menyajikan satire yang tajam terkait standar sosial yang berlaku di masyarakat. Novel ini akan membuat kamu merenung: apakah kita selama ini benar-benar menjalani hidup yang kita inginkan, atau sekadar ingin terlihat “normal”?
3. A Man Called Ove karya Fredrik Backman

Kali ini adalah karya penulis asal Swedia bernama Fredrik Backman. A Man Called Ove adalah novel yang sangat layak diapresiasi karena ceritanya yang menyentuh dan memikat hati pembaca. Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup tokoh laki-laki berusia senja bernama Ove yang punya sikap dingin, kasar, dan temperamental. Sikap menyebalkannya itu membuat orang-orang kompleks tidak suka padanya.
Di balik sikap ketusnya itu, Ove menyimpan duka yang mendalam dan kesepian akibat ditinggal oleh istrinya. Inilah yang membuat Ove selalu mengunjungi makam istrinya setiap pulang kerja. Karena sudah lelah dan muak dengan hidup, Ove pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan menyusul sang istri. Namun, tindakannya itu selalu gagal karena kejadian tak terduga.
4. Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom

Terjemahan bahasa Indonesia judul buku ini adalah Selasa Bersama Morrie. Novel ini adalah novel best seller lho dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Novel ini pertama kali terbit tahun 1997 di Amerika. Tuesdays with Morrie diangkat dari kisah nyata, menceritakan tentang pertemuan kembali antara Mitch dan Morrie (mantan dosen sosiologi Mitch). Mitch dan Morrie bertemu setiap minggu di hari Selasa. Pertemuan mereka menjadi kuliah yang membahas nilai-nilai kehidupan, mulai dari cinta hingga kematian.
Meski diangkat dari kisah nyata dan membahas topik yang terkesan berat, Mitch Albom sebagai penulis mampu menyajikan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami. Novel ini membuat kamu merenung tentang bagaimana cara kita memaknai hidup dan hal-hal penting di dalamnya.
Membaca novel thought provoking dijamin memberikan pengalaman tersendiri yang berkesan. Kamu gak hanya ikut masuk ke dalam cerita, tetapi juga mampu memaknai cerita itu, bahkan merenunginya berhari-hari. Semoga keempat rekomendasi novel di atas bisa menjadi bacaan yang bermakna di waktu luang, ya! Selamat membaca!


![[QUIZ] Pilih Genre Buku, Ini yang Membuatmu Jadi Orang Gak Enakan](https://image.idntimes.com/post/20241125/pexels-angelica-reyn-35454765-11925549-b8bac0077b69de900bb7fa0a9fedbf01-667e31ea91c4c36f63b93b3637a93810.jpg)



















