5 Buku Ekofeminisme untuk Memahami Krisis Iklim dan Patriarki

- Ekofeminisme menghubungkan penindasan terhadap perempuan dengan eksploitasi alam, sekaligus menyoroti peran patriarki, kapitalisme, ekonomi, budaya, dan relasi kuasa dalam krisis iklim.
- Woman and Nature, Staying Alive, serta Ecofeminism membahas kontrol atas tubuh dan alam, dampak pembangunan pada komunitas, pengetahuan lokal, serta kerja tak berbayar yang menopang masyarakat.
- The Vulnerable Planet dan Feminism and the Mastery of Nature mengulas eksploitasi sumber daya oleh ekonomi modern serta pola pikir hierarkis yang menormalisasi dominasi manusia atas alam.
Krisis iklim semakin sering dibicarakan sebagai persoalan lingkungan. Namun, kalau ditelusuri lebih jauh, persoalan lingkungan ternyata tidak berdiri sendiri. Ada sistem ekonomi, budaya, politik, hingga relasi kuasa yang ikut menentukan siapa yang paling banyak mengambil keuntungan dari alam. Menariknya, ada pihak lain yang justru harus menanggung dampaknya.
Salah satu perspektif yang menarik untuk melihat hubungan tersebut adalah feminisme dan ekofeminisme. Ekofeminisme sendiri melihat adanya keterkaitan antara penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap alam. Kalau kamu ingin memahami hubungan antara patriarki, kapitalisme, dan krisis iklim, buku-buku berikut menarik untuk dibaca.
1. Woman and nature - Susan Griffin

Woman and nature karya Susan Griffin (amazon.com) Salah satu buku ekofeminisme yang cukup berpengaruh adalah Woman and Nature: The Roaring Inside Her karya Susan Griffin. Buku yang pertama kali terbit pada 1978 ini tak hadir seperti buku teori biasa. Griffin menggabungkan puisi, prosa, filsafat, dan kritik sosial untuk mempertanyakan hubungan antara perempuan, tubuh, alam, dan sistem patriarki.
Salah satu hal menarik dari buku ini adalah cara Griffin membongkar cara berpikir yang memisahkan manusia dari alam. Dalam masyarakat modern, alam sering diposisikan sebagai sesuatu yang bisa ditaklukkan, dikendalikan, dan dimanfaatkan. Menariknya, pola pikir serupa juga dapat digunakan untuk memahami bagaimana tubuh dan kehidupan perempuan dikontrol oleh struktur sosial.
2. Staying alive - Vandana Shiva

Staying alive karya Vandana Shiva (amazon.com) Nama Vandana Shiva cukup sering muncul dalam pembahasan tentang ekofeminisme, pertanian dan lingkungan. Salah satu karyanya adalah Staying Alive: Women, Ecology and Development, yang pertama kali diterbitkan pada 1988. Dalam buku ini, Shiva mengkritik model pembangunan modern yang menurutnya dapat mengabaikan pengetahuan lokal dan membuat alam serta komunitas tertentu menjadi korban.
Ia memberikan perhatian besar pada pengalaman perempuan di pedesaan India yang kehidupan sehari-harinya sangat bergantung pada tanah, hutan, air, benih, dan sumber daya alam. Di sini kamu bisa melihat bahwa krisis lingkungan tak hanya soal pohon yang ditebang atau sungai yang tercemar. Ketika sumber daya alam rusak atau dikendalikan oleh kepentingan tertentu, dampaknya bisa langsung terasa pada kehidupan masyarakat.
3. Ecofeminism - Maria Mies dan Vandana Shiva

Ecofeminism karya Maria Mies dan Vandana Shiva (amazon.com) Kalau kamu ingin masuk lebih jauh ke hubungan antara patriarki, kapitalisme, perempuan, dan lingkungan, Ecofeminism karya Maria Mies dan Vandana Shiva layak masuk daftar bacaan. Buku ini mengembangkan kritik terhadap sistem ekonomi dan pembangunan yang dianggap mengeksploitasi manusia sekaligus alam. Penulis melihat bahwa pertumbuhan ekonomi tak selalu berarti kesejahteraan yang merata.
Di balik produksi dan konsumsi yang terus meningkat, ada sumber daya alam dan tenaga manusia yang sering kali tidak terlihat. Salah satu gagasan penting yang bisa kamu temukan adalah bagaimana pekerjaan yang tidak dibayar, sering dianggap tidak memiliki nilai ekonomi yang sama dengan pekerjaan formal. Padahal, pekerjaan tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan masyarakat.
4. The vulnerable planet - John Bellamy Foster

The vulnerable planet karya John Bellamy Foster (amazon.com) Kalau kamu ingin memahami hubungan antara sistem ekonomi dan krisis lingkungan dari perspektif yang berbeda, The Vulnerable Planet karya John Bellamy Foster bisa jadi pilihan. Buku ini gak secara khusus merupakan buku ekofeminisme. Namun, pembahasannya penting untuk memahami konteks yang lebih luas mengenai hubungan kapitalisme dan kerusakan lingkungan.
Foster membahas bagaimana sistem ekonomi modern dapat mendorong eksploitasi sumber daya alam secara terus-menerus. Ketika pertumbuhan ekonomi dan produksi menjadi tujuan utama, alam dapat diperlakukan sebagai sumber bahan baku yang seolah tidak memiliki batas. Perspektif ini bakal bantu memperluas cara kamu melihat krisis iklim.
5. Feminism and the mastery of nature - Val Plumwood

Feminism and the mastery of nature karya Val Plumwood (amazon.com) Buku yang juga menarik untuk kamu eksplorasi adalah Feminism and the Mastery of Nature karya Val Plumwood. Ia mengkritik cara berpikir dualistik yang memisahkan berbagai hal secara hierarkis, yakni manusia dan alam, rasional dan emosional, budaya dan alam, laki-laki dan perempuan. Pemisahan tersebut gak hanya menggambarkan perbedaan, tapi menciptakan hubungan yang menempatkan satu pihak lebih tinggi daripada pihak lainnya.
Gagasan tersebut penting dalam karena hubungan antara patriarki dan alam tak hanya dipahami melalui tindakan eksploitasi. Ada pula cara berpikir yang membuat dominasi terasa normal. Misalnya, ketika alam dianggap sesuatu yang harus ditaklukkan dan dikendalikan, kita bisa melihat bagaimana logika yang sama muncul dalam hubungan sosial.
Membaca kelima buku tersebut tentu tidak akan langsung memberikan jawaban sederhana tentang cara menyelesaikan krisis iklim. Justru sebaliknya, kamu mungkin akan mendapatkan lebih banyak pertanyaan. Jadi, siapkan waktu untuk menikmati buku-buku ini, ya!





















