Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi belajar (pexels.com/Monstera Production)
  • Active recall mengharuskan pelajar mengingat materi tanpa melihat catatan, sedangkan re-reading berfokus membaca ulang dan menandai bagian penting.
  • Membaca berulang dinilai kurang efektif meningkatkan daya ingat, sementara active recall menguji pemahaman dan membantu menyimpan informasi dalam memori jangka panjang.
  • Active recall dapat diterapkan melalui flashcard, latihan soal, mengajarkan materi, merangkum dengan kata sendiri, serta menulis informasi tanpa melihat catatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap pelajar tentu berusaha mendapatkan nilai yang baik pada setiap mata pelajaran. Untuk mencapai hasil tersebut, diperlukan metode belajar yang dapat membantu memahami sekaligus mengingat materi dengan lebih efektif. Meskipun setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda, terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan untuk membantu menguasai materi pelajaran.

Salah satu metode belajar yang banyak digunakan adalah active recall dan membaca berulang (re-reading). Active recall merupakan metode belajar yang berfokus pada proses mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, sedangkan re-reading menekankan pada kegiatan membaca materi secara berulang. Lalu di antara kedua metode tersebut, manakah yang lebih efektif? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Perbedaan metode pembelajaran active recall dan re-reading

Ilustrasi catatan (pexels.com/cottonbro studio)

Active recall merupakan metode belajar yang berfokus pada kemampuan seseorang untuk mengingat kembali informasi dari memori tanpa melihat catatan. Cara kerjanya dimulai dengan membaca materi satu kali, kemudian menutup buku dan mencoba menjawab pertanyaan mengenai materi tersebut tanpa bantuan apa pun.

Setelah itu, pelajar dapat memeriksa kembali bagian yang belum diingat atau dipahami. Cara ini membantu otak bekerja mencari informasi, bukan sekadar menerimanya secara pasif. Karena itu, active recall dapat memperkuat koneksi antar-sel saraf sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dikutip dari linkedin.com, melalui akun Law Prep Tutorial dalam artikel berjudul Active Recall vs Re-reading: Which Study Method Actually Improves Your Exam Score?, menjelaskan, "Teknik membaca berulang adalah metode belajar dengan membaca kembali materi yang sama secara berulang serta memberikan tanda pada bagian-bagian yang dirasa penting".

Kedua metode tersebut memiliki fokus yang berbeda. Active recall membantu pelajar mengingat, memahami, dan berpikir lebih kritis melalui proses menggali kembali informasi yang telah dipelajari. Sebaliknya, re-reading lebih berfokus pada pengulangan kegiatan membaca tanpa mengharuskan otak mengingat materi secara aktif.

2. Efektivitas active recall dan re-reading

Ilustrasi active recall (pexels.com/www.kaboompics.com)

Dilansir linkedin.com, melalui akun Law Prep Tutorial, mengatakan, "Metode membaca berulang sendiri memiliki efektivitas yang lebih rendah dalam membantu peserta ujian untuk memahami materi. Walaupun cara ini memungkinkan untuk siswa menyelesaikan banyak bacaan dalam waktu yang cepat, tapi metode ini kurang efektif dalam meningkatkan daya ingat".

Sebaliknya, active recall membantu pelajar agar tidak bergantung pada buku atau catatan setelah selesai membaca materi. Metode ini mendorong seseorang untuk menguji pemahamannya sendiri dengan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Dengan demikian, otak dipaksa bekerja mencari informasi tanpa bantuan sumber lain.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa active recall mampu memperkuat memori dan membantu memindahkan informasi ke dalam memori jangka panjang. Oleh karena itu, metode ini dinilai sebagai salah satu cara belajar yang paling efektif untuk mempersiapkan ujian maupun memahami materi dalam jangka waktu yang lebih lama.

3. Cara menerapka metode active recall

Ilustrasi metode pembelajaran (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Dikutip dari Birmingham City University, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menerapkan metode active recall, yaitu:

  • Gunakan kartu flash: Tuliskan pertanyaan atau poin penting di satu sisi kartu, kemudian tuliskan jawabannya di sisi lainnya. Gunakan kartu tersebut untuk menguji pemahaman secara berkala.

  • Kerjakan soal Latihan: Cari soal-soal ujian tahun sebelumnya atau buat pertanyaan sendiri berdasarkan materi yang telah dipelajari. Cara ini dapat membantu melatih kemampuan mengingat sekaligus memahami konsep.

  • Ajarkan materi kepada orang lain: Cobalah menjelaskan materi kepada teman bahasa sendiri. Teknik yang dikenal sebagai metode Feynman ini membantu mengetahui sejauh mana pemahaman terhadap materi.

  • Ringkas materi dengan kata-kata sendiri: Setelah selesai belajar, tuliskan kembali poin-poin penting menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Cara ini dapat membantu menguji apakah materi benar-benar telah dipahami.

  • Menulis tanpa melihat catatan: Cobalah menuliskan semua hal yang masih diingat mengenai suatu topik tanpa membuka buku. Setelah selesai, cocokkan kembali dengan materi asli untuk mengetahui bagian yang masih perlu dipelajari.

Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Namun, efektivitas setiap metode juga berbeda dalam membantu meningkatkan pemahaman terhadap materi. Dibandingkan membaca berulang, active recall dinilai lebih efektif karena melatih otak untuk mengingat kembali informasi secara aktif sehingga materi lebih mudah tersimpan dalam memori jangka panjang. Oleh karena itu, metode ini dapat menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan pelajar untuk meningkatkan pemahaman sekaligus memperoleh hasil belajar yang lebih optimal.

Curated For You

Editorial Team

Related Article