Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Membaca Buku Sekarang Bisa Menjadi Ajang Pencitraan?

4 min read
Kenapa Membaca Buku Sekarang Bisa Menjadi Ajang Pencitraan?
ilustrasi rak buku (pexels.com/Alisa Fjolars)
  • Membaca buku kerap dijadikan simbol kecerdasan dan citra intelektual.

  • Media sosial membuat aktivitas dan koleksi buku menjadi sarana membangun identitas.

  • Keinginan mendapat pengakuan dapat menggeser tujuan membaca dari menikmati isi buku menjadi ajang pencapaian dan pencitraan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membaca buku selama ini dianggap sebagai kebiasaan positif yang bisa menambah pengetahuan dan memperluas cara pandang. Namun, di tengah perkembangan media sosial, aktivitas membaca juga mulai memiliki fungsi lain. Buku bukan lagi sekadar sesuatu yang dinikmati, tetapi bisa menjadi bagian dari citra diri yang ingin ditampilkan kepada orang lain.

Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya konten yang menampilkan koleksi buku, aktivitas membaca di kafe, hingga target bacaan tahunan. Tentu tidak ada yang salah dengan membagikan hobi membaca. Namun, menarik untuk mempertanyakan mengapa kegiatan yang sebenarnya bersifat pribadi ini kadang berubah menjadi ajang pembuktian diri.

  1. 1. Membaca buku kerap dikaitkan dengan citra intelektual

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/John Ray Ebora)

    Buku memiliki reputasi yang cukup kuat sebagai simbol pengetahuan dan kecerdasan. Orang yang gemar membaca sering dianggap memiliki wawasan luas, pemikiran mendalam, dan kemampuan berpikir kritis. Anggapan ini membuat aktivitas membaca memiliki nilai sosial tersendiri. Tidak mengherankan jika sebagian orang ingin dikenal sebagai sosok yang gemar membaca. Menampilkan buku tertentu bisa menjadi cara untuk membangun kesan intelektual tanpa harus menjelaskan banyak hal tentang diri sendiri.

    Padahal, membaca buku tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana atau cerdas daripada orang lain. Pengetahuan juga bisa diperoleh melalui pengalaman, diskusi, dan berbagai aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, membaca buku hanyalah salah satu dari banyak cara untuk memperluas wawasan.

  2. 2. Media sosial membuat aktivitas membaca semakin terlihat

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (unsplash.com/Alexandra Fuller)

    Dahulu, membaca buku umumnya menjadi kegiatan pribadi yang tidak perlu diketahui banyak orang. Sekarang, aktivitas tersebut bisa dibagikan melalui Instagram, TikTok, X, atau platform lainnya. Konten seperti ulasan buku, foto buku dengan secangkir kopi, hingga rak buku yang tertata rapi semakin mudah ditemukan. Bahkan, muncul istilah book aesthetic yang menjadikan buku sebagai bagian dari gaya visual tertentu.

    Di satu sisi, tren ini membantu memperkenalkan buku kepada lebih banyak orang. Namun, di sisi lain, muncul kemungkinan bahwa penampilan aktivitas membaca justru dianggap lebih penting daripada pengalaman membaca itu sendiri. Seseorang mungkin lebih sibuk memikirkan foto yang menarik, alih-alih menikmati isi buku yang sedang dibaca.

  3. 3. Pilihan buku bisa menjadi cara menunjukkan identitas

    ilustrasi toko buku
    ilustrasi toko buku (unsplash.com/Becca Tapert)

    Jenis buku yang dibaca kadang digunakan untuk menggambarkan kepribadian seseorang. Orang yang gemar membaca buku filsafat dianggap memiliki pemikiran mendalam, sementara buku klasik sering dikaitkan dengan selera yang lebih serius. Akibatnya, pilihan bacaan bisa dipengaruhi oleh citra yang ingin dibangun. Seseorang mungkin merasa perlu membaca buku populer atau karya penulis tertentu agar terlihat memiliki selera yang bagus.

    Bahkan, ada kemungkinan seseorang merasa malu mengakui bahwa dirinya lebih menyukai novel ringan daripada buku pengembangan diri. Padahal, selera membaca tidak harus menjadi ukuran kualitas seseorang. Buku yang sederhana pun bisa memberikan pengalaman berharga bagi pembacanya.

  4. 4. Budaya produktivitas ikut mengubah cara orang memandang membaca

    ilustrasi membaca buku di atas kasur
    ilustrasi membaca buku di atas kasur (pexels.com/Monstera)

    Membaca kini juga sering dikaitkan dengan pengembangan diri dan produktivitas. Banyak orang menetapkan target membaca puluhan buku setiap tahun, kemudian membagikan pencapaian tersebut melalui media sosial. Target tersebut sebenarnya bisa membantu membangun kebiasaan membaca. Masalah muncul ketika jumlah buku yang diselesaikan menjadi sesuatu yang harus dipamerkan atau dibandingkan dengan pencapaian orang lain.

    Membaca 50 buku dalam setahun mungkin terlihat mengesankan. Namun, bukan berarti pengalaman tersebut selalu lebih bermakna daripada membaca lima buku secara perlahan. Ketika membaca terlalu berorientasi pada pencapaian, kegiatan ini berisiko kehilangan sisi menyenangkannya.

  5. 5. Keinginan mendapatkan pengakuan juga berperan

    ilustrasi rak buku
    ilustrasi rak buku (unsplash.com/Vladimir Mokry)

    Media sosial memungkinkan seseorang memperoleh respons langsung atas aktivitas yang dibagikan. Unggahan tentang buku bisa mendapatkan pujian, komentar, atau perhatian dari orang-orang dengan minat serupa. Respons positif tersebut dapat membuat seseorang semakin terdorong menampilkan kebiasaan membacanya. Kadang, perhatian yang diperoleh bahkan bisa terasa lebih berarti daripada aktivitas membaca itu sendiri.

    Pada akhirnya, membaca buku tidak harus selalu menjadi sesuatu yang terlihat menarik di mata orang lain. Tidak masalah jika seseorang membaca buku populer, memilih bacaan ringan, atau membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu judul. Sebab, pengalaman membaca tetap memiliki nilai meski tidak pernah dibagikan ke media sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More